|
Kalau jadi terbit kelak, bond bekingan Jepang ini bukanlah obligasi pertama yang diluncurkan pemerintah di pasar internasional. Sebelum ini, pemerintah telah menjual dua surat utang (dalam nominasi dolar), masing-masing eurobond (nama umum obligasi yang terbit di pasar Eropa), senilai US$ 300 juta, dan yankee bond (obligasi yang dijual di pasar AS), senilai US$ 400 juta, yang lebih populer dengan sebutan Indonesia 06 (karena jatuh tempo pada 2006).
Berbeda dengan ''obligasi Miyazawa", kali ini, penerbitan kedua surat utang itu tak ada kaitannya dengan upaya pencarian pinjaman. Kedua bond itu diluncurkan agar bisa menjadi patokan atawa benchmark bagi swasta yang mencari utang di luar negeri. Gampangnya, suku bunga obligasi pemerintah itu diharapkan bisa menjadi ancar-ancar berapa tingkat bunga yang harus diberikan perusahaan swasta kita kepada investor di pasar utang luar negeri. Di kertas, risiko default (tak terbayar) dari obligasi pemerintah tergolong paling kecil.
Seiring dengan meningkatnya krisis, risiko default obligasi Indonesia kian tinggi. Akibatnya, harga surat utang pemerintah makin merosot. Sudah sejak setahun lalu, obligasi pemerintah tergolong dalam junk bond. Ini sebutan umum bagi surat utang yang tak masuk peringkat investasi alias non-investment grade. Lembaga dana pensiun di AS secara resmi dilarang membeli dan menyimpan junk bond.
Tapi, belakangan, sejalan dengan gelagat membaiknya perekonomian, harga surat utang Indonesia mulai merangkak naik. Pekan lalu, Indonesia 06, misalnya, dijual dengan diskon cuma 20 persen, meningkat 19 persen ketimbang harganya tahun lalu.
|