Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIIII/17 - 23 Mei 1999
   
Investigasi

Bom Borobudur, 16 Tahun Kemudian

Abdulkadir Ali Alhabsyi hanyalah pelaku kelas teri peledakan Borobudur. Mengapa aparat tak meringkus si Mohammad Jawad yang disebut-sebut sebagai dalangnya?

SEPERTI banyak kasus bom lain, peledakan Candi Borobudur 16 tahun lalu juga masih menyisakan misteri yang menyangkut dalang sebenarnya di belakang tindakan amoral itu. Nama Ibrahim—alias Mohammad Jawad alias Kresna—disebut-sebut sebagai dalangnya. Anehnya, makhluk misterius itu tak diketahui batang hidungnya hingga kini. Aparat belum berhasil meringkusnya, apalagi mengorek motivasinya.

Memang, Abdulkadir Ali Alhabsyi, 40 tahun, yang ditangkap beberapa saat setelah kejadian, telah divonis oleh Pengadilan Negeri Malang dengan hukuman penjara 20 tahun karena terbukti sebagai pelaku peledakan itu. Dia memperoleh remisi Presiden RI setelah menjalani hukuman 10 tahun. Kakaknya, Husein bin Ali Alhabsyi, 46 tahun, walaupun telah diganjar hukuman penjara seumur hidup di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Lowokwaru, Malang, tetap menolak tuduhan dirinya terlibat. Pemerintahan Habibie memberinya grasi pada 23 Maret silam. Tapi Abdulkadir hanya pelaku di lapangan, dan Husein, ulama buta itu, hingga kini tetap menolak tuduhan menjadi dalang, bahkan menyatakan sama sekali tak terlibat.

Sekitar tujuh stupa rusak berantakan ketika Abdulkadir dan ketiga kawannya meledakkan sejumlah bom di kompleks candi bersejarah di Jawa Tengah pada 15 Januari 1986 itu. Pengeboman itu berkaitan dengan kasus kecelakaan ledakan bom di bus Pemudi Express di Banyuwangi dan peledakan Gereja Sasana Budaya Katolik Magelang beberapa waktu setelahnya. Dalam pengadilan yang menjadi sorotan masyarakat luas itu, jaksa menuduh bahwa rentetan pengeboman itu merupakan aksi balas dendam Abdulkadir dan kawan-kawan yang muslim terhadap peristiwa Tanjungpriok pada 1983, yang menewaskan puluhan nyawa umat Islam.

Albdulkadir membenarkan motivasi peledakan itu sebagai ungkapan ketidakpuasan para mubalig, entah siapa, atas peristiwa berdarah itu. Namun, keterangan itu laik diragukan karena Ibrahim, orang yang disebut Husein sebagai dalangnya, tidak pernah dapat ditemukan oleh aparat sendiri.

Peristiwa itu juga meragukan dipandang dari konteks politik kala itu, ketika sejumlah elite politik yang bercokol di punggung rezim Orde Baru memberlakukan politik anti-Islam. Peledakan candi yang disebut satu dari tujuh keajaiban dunia itu dianggap sebagai rekayasa dari kelompok anti-Islam untuk menyudutkan kelompok Islam.

Kecurigaan itu semakin kuat bila kesaksian Abdulkadir didengarkan. Lelaki bertubuh tinggi besar dengan kulit berwarna gelap ini mengaku sebetulnya dia tidak mengetahui rencana pengeboman. Dia dan ketiga kawan lain pada awalnya hanya sekadar diajak oleh Ibrahim untuk berekreasi. "Kita dulu diajak berkemah," kata Abdulkadir mengenang peristiwa 16 tahun lalu itu. Mereka baru mafhum dengan rencana jahat itu setelah mereka sampai di Borobudur dan diberi bom-bom itu. Konyolnya, setelah "dikipasi" soal-soal balas dendam politik akibat peristiwa Tanjungpriok, keempat kawan itu akhirnya oke-oke juga.

Sebagai pelaku di lapangan, Abdulkadir mengaku tidak mengetahui seluk-beluk bom. Artinya, dia sendiri tidak profesional. Ketika mereka beraksi, bom telah dirakit secara rapi. Bahan bom terbuat dari trinitrotoluena (TNT) tipe batangan PE 808/tipe Dahana. Tiap bom terdiri dari dua batang dinamit yang dipilin dengan selotip. Abdulkadir dan kawan-kawannya hanya tinggal memasangnya di dalam stupa dan memencet tombol berupa tombol arloji untuk mengaktifkannya. "Yang merakit bom adalah Ibrahim," kata Abdulkadir.

Ketidakprofesionalan juga tampak dalam peristiwa ledakan bom secara tidak sengaja di atas bus Pemudi Express jurusan Bali yang mereka tumpangi. Bom yang mereka bawa waktu itu dimasukkan ke dalam lonjoran paralon berdiamater sekitar 30 sentimeter dan dimasukkan dalam tas. Mereka tidak paham bahwa bom itu bisa meledak bila kepanasan. "Bom itu diletakkan di atas mesin. Karena panas dan memuai, meledaklah bom itu, " kata Abdulkadir. Pendek kata, ilustrasi itu memperkuat kecurigaan bahwa Abdulkadir dan kawan-kawan hanyalah pelaku kelas teri dalam rentetan "teror politik" untuk Islam itu.

Soal Ibrahim atau Mohammad Jawad, si makhluk misterius itu, sosoknya konkret. Menurut penuturan Husein kepada TEMPO, orang itu pernah datang ke majelis taklim yang dipimpin Husein di Malang. Datang sebagai ustad, Jawad sering memberikan ceramah di situ tentang berbagai hal, termasuk soal kasus Tanjungpriok yang berdarah. Tampak jenius di mata Husein, Jawad cukup mampu mempengaruhi anak-anak muda, termasuk Abdulkadir. Jawad itulah, menurut Husein, dalang peledakan Borobudur. "Ternyata dia punya rencana-rencana peledakan yang baru saya ketahui setelah terjadi," kata Husein. Persoalannya: mengapa aparat tak pernah mengejar Jawad?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data