Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIIII/17 - 23 Mei 1999
   
Investigasi

Bingkisan untuk Priok dan Om Liem

Pelaku peledakan BCA cuma orang sederhana yang menggugat peristiwa Tanjungpriok dan dominasi ekonomi keturunan Cina. Aparat meringkus mereka hanya dalam waktu 24 jam.

SEBUAH ledakan menggelegar. Sesosok tubuh gempal terempas sejauh lima meter. Sekujur badannya penuh luka bakar. Darah berlepotan di muka, dada, tangan, dan pahanya. Paku yang mencuat di sebatang kaso menancap di leher belakang.

Muhammad Jayadi, si empunya tubuh, bukan korban. Ia adalah pelaku peledakan kantor Bank Central Asia (BCA) cabang Pecenongan, Jakarta, 4 Oktober 1984 silam. Pagi itu, berlagak sebagai nasabah, ia melenggang masuk. Tangannya menjinjing tas besar berisi bom. Ia langsung menuju toilet di lantai dua. Bahan peledak lalu ditaruhnya di langit-langit. Sialnya, tiba-tiba ia lupa cara memasangnya. Jayadi mulai gugup. Takut dicurigai berlama-lama di toilet, ia pasang sebisanya. Mestinya timer disetel dulu, baru kabel untuk mengaktifkan bom disambungkan. Yang dilakukan malah sebaliknya. Akibatnya fatal. Saat itulah, pukul 09.15—selesai menanggalkan jaket hijau dan masih bersisir di muka cermin—bom di atas kepalanya meledak hebat. Sepuluh menit lebih cepat dari jadwal.

"Waktu itu saya terlalu sombong sehingga lupa caranya," kata Jayadi mengenang peristiwa itu. Sampai sekarang Ketua Wilayah Gerakan Pemuda Islam Jakarta berusia 43 tahun itu masih hidup. Mata kanannya cacat, tapi ia masih bisa melihat.

Enam menit kemudian, gelegar keduamengoyak kantor cabang BCA lain, di Jalan Gajah Mada, Jakarta. Di dalam dan luar gedung, bau mesiu seperti petasan terbakar menyengat hidung. Warna hitam terpatri di seputar titik ledakan. Tembok retak-retak. Panel listrik, kursi, mesin fotokopi Xerox ringsek. Delapan bilah kaca ray-ban berukuran 120 x 240 sentimeter setebal 5 milimeter di bagian depan pecah berantakan. Jarum jam Lorus di dinding tak lagi bergerak, menunjuk pukul 09.21.

Tak jauh dari situ, seorang satpam menemukan tas kain berwarna merah polos berukuran 40 x 20 sentimeter di pertokoan jembatan Metro, Glodok. Matanya terbelalak. Di dalamnya ada travo merah bergambar naga dan aksara Cina dilengkapi timer. Sekejap kemudian bom itu menggelegar. Mengoyak dua nyawa: seorang pemilik toko bernama Go Tjun Hien dan Effendi, petugas keamanan. Pukul 09.28. Selain dua korban jiwa, tiga insiden peledakan itu menyebabkan belasan warga terluka parah.

Aksi yang menggegerkan itu bukan dilakukan kelompok teroris terlatih. Mereka cuma sekumpulan orang sederhana yang geram atas peristiwa Tanjungpriok dan dominasi ekonomi pengusaha Cina. Jayadi, misalnya. Ia adalah mahasiswa dan komandan resimen mahasiswa di Perguruan Tinggi Dakwah Islam. Sebelumnya, ia sempat menjadi kernet mobil omprengan. Pelaku peledakan BCA Gajah Mada, Eddy Ramli, juga cuma seorang penjual tanaman hias. Yunus (saat itu 28 tahun), yang memasang bom di Glodok, bahkan tak punya pekerjaan tetap. Pemuda itu bekerja serabutan. Ia mengaku terlibat karena alasan pribadi, "Dendam sama Cina gara-gara urusan sewa-menyewa kamar." Adapun sang pencetus ide, Rachmat Basoeki, tak lebih dari bekas pegawai rendahan di Bank BNI. Ia menghidupi keluarganya dari order mengetik skripsi dan makelar tanah.

Ada benang merah di antara para pelaku. Rata-rata adalah aktivis organisasi Islam. Sebagian besar terlibat dalam Gerakan 20 Maret 1978 yang dipimpin Abdul Qadir Djaelani. Gerakan ini menentang masuknya aliran kepercayaan, P-4, dan KNPI ke dalam GBHN. Sebagian lain merupakan aktivis Gerakan Pemuda Ka'bah yang dibentuk menjelang Pemilu 1982, untuk menampung aspirasi pemuda Islam. Mereka juga sependirian dalam hal: asas tunggal Pancasila bertentangan dengan akidah Islam, dan bahwa "ekonomi Indonesia saat ini didominasi Cina". Khususnya: memendam kesumat atas peristiwa Tanjungpriok. Jayadi, misalnya, ikut dalam penyerbuan Markas Polres Jakarta Utara yang dipimpin Amir Biki.

Memang, seperti diakui Jayadi, aksi itu bukan tanpa rencana. Selama seminggu mereka berlatih menyetel bom. Survei dilakukan tiga minggu. Jayadi sendiri bolak-balik meninjau toilet di BCA Pecenongan.

Bahan peledak pun dirakit secara amatiran. Seorang petugas menjelaskan, itu terlihat dari kepulan asap hitam yang ditimbulkannya. Menurut keterangannya, bom yang dirakit secara profesional akan menghasilkan asap putih. Bahan peledak dibeli di Parung, Jawa Barat, daerah kondang penghasil petasan. Bentuknya silinder dengan panjang 30 sentimeter, berdiameter 15 sentimeter, dibungkus kertas merah. Sejenis dinamit yang biasa digunakan meledakkan gunung kapur. Berat tiap bom 1,5 kilogram, dengan pengatur waktu yang menggunakan delapan baterai 12 volt.

Jayadi sendiri mengaku tidak tahu-menahu asal-muasal bom. "Itu bukan urusan saya," katanya. Cuma, dari apa yang didengarnya dari Rachmat—karena bom tidak bisa dibeli sembarangan—mereka mendapatkannya dari seorang pengusaha yang biasa melakukan peledakan di Gunung Putri. "Saya tidak tahu siapa orangnya," katanya lagi. Disebut-sebut, sang pengusaha itu bernama Amir Widjaja, seorang juragan ubin. Lulusan Fakultas Teknik Jurusan Kimia Universitas Muhammadiyah Jakarta itu juga pernah terlibat Gerakan 20 Maret.

Cerita berawal empat hari setelah peristiwa Tanjungpriok meletup 12 September 1984. Rachmat didatangi Tashrif Tuasikal di rumahnya di Cikini, Jakarta. Tashrif dikenalnya ketika sama-sama ditahan karena terlibat Gerakan 20 Maret. Saat itu, sang karib menggagas meledakkan depot Pertamina di Plumpang (Tanjungpriok), Perumtel, dan Proyek Air Minum Jakarta. Gagasan ini ditolak Rachmat. Peledakan proyek vital itu dianggapnya akan merugikan rakyat dan malah bisa menimbulkan antipati.

Ia lalu mengusulkan sasaran lain: BCA milik Liem Sioe Liong—simbol dominasi ekonomi Cina. "Itu bentuk protes pada pemerintah atas peristiwa Tanjungpriok dan tekanan kepada umat Islam," ujarnya pekan lalu. Rachmat lalu menyerahkan alamat sepuluh kantor BCA di Jakarta lengkap dengan nomor teleponnya. Ia berpesan, setelah bom dipasang, kantor BCA ditelepon, supaya tidak jatuh korban.

Dua hari kemudian, Rachmat mengikuti pertemuan di musala di samping rumah A.M. Fatwa. Mantan Panglima Kodam Siliwangi, H.R. Dharsono—penanda tangan Petisi 50 bersama Fatwa—juga hadir. Rapat itu membicarakan sejumlah rencana gerakan untuk memprotes peristiwa Priok. Kepastian peledakan BCA diputuskan dalam rapat 24 September antara Rachmat, Tashrif, dan Hasnul Arifin. Esoknya, Rachmat menemui H.M. Sanusi—mantan Menteri Perindustrian dan Kerajinan Rakyat, juga anggota Petisi 50. Rachmat telah mengenal Sanusi sejak tahun 70-an. Ia menjadi bendahara di Badan Pembela Masjid Aqsa, organisasi semacam KISDI sekarang, yang diketuai Sanusi.

Menurut versi aparat kemanan, saat itulah Sanusi memberi Rachmat Rp 1 juta untuk "proyek peledakan". Sanusi membantahnya. Ia menyatakan tidak pernah mengenal para pelaku pengeboman, selain Rachmat. Memang, ia mengakui saat itu ditemui Rachmat, yang lalu memperkenalkannya ke Tashrif. "Tapi saya tidak memberi dana peledakan, dan sama sekali tidak membicarakannya," katanya. Rachmat memang pernah diberinya Rp 30 ribu selama empat bulan. Tapi itu untuk ongkos penjualan tanah miliknya di Cisarua, Bogor, yang dimakelari Rachmat. Ia menuding Panglima ABRI saat itu, Jenderal TNI Benny Moerdani, cuma mengait-ngaitkannya. Bantahan Sanusi itu dikuatkan Rachmat. "Beliau bukan otak peledakan," katanya. Meski demikian, masih menurut dia, "Beliau (Sanusi) mengetahui rencana aksi saya."

Ia juga menegaskan ketidakterlibatan Dharsono. Menurut dia, Pak Ton diciduk cuma karena meneken Lembaran Putih Peristiwa Priok yang disodorkan Fatwa. Rachmat sendiri tidak menandatanganinya karena sudah memiliki rencana sendiri yang masih dirahasiakannya: meledakkan BCA. "Kalau saya teken, saya khawatir peledakan itu akan melibatkan para penanda tangan," katanya menjelaskan.

Reaksi aparat keamanan saat itu memang amat keras. "Peledakan itu adalah teror," kata Panglima ABRI saat itu, Jenderal TNI Benny Moerdani. Para pelaku kemudian divonis 10—17 tahun penjara. Sebelumnya, mereka digenjot di markas Kopkamtib di Jalan Kramat Buntu. Rachmat menuturkan pengalaman mengerikannya. Ia disiksa interogator untuk memaksanya mengaku menerima dana dari Sanusi. Saat itu, matanya dibebat kain hitam. Leher dan kedua tangan diborgol. Dalam keadaan bugil, ia disuruh berlutut di lantai yang ditaburi kacang hijau, kemudian digebuki habis-habisan. "Sakitnya luar biasa, sampai ke ubun-ubun," katanya bergidik. Kalau saat itu ada racun, katanya lagi, ia pasti menenggaknya.

Robby Pantauw, salah seorang temannya yang mengetahui asal-muasal bom, diperlakukan serupa. Saat baru ditahan, kedua matanya normal. Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, mata kirinya langsung minus tujuh. Pemeriksa juga berbaik hati menyikatkan giginya. Cuma, alat yang dipakai: laras pistol. Tak ayal lagi, tujuh giginya rompal berantakan. Bahkan, menurut Rachmat, seorang ustad bernama Zabir Nasi sampai menemui ajalnya. Ia babak-belur dibogem interogator agar mengakui keterlibatan Sanusi. Kisah ini dibenarkan Sanusi.

Di luar itu, Rachmat toh menyimpan kekaguman atas "kecemerlangan" aparat. "Waktu itu, dalam tempo 24 jam polisi sudah bisa menemukan kami," katanya. Ia tak habis pikir cara kerja aparat saat ini, yang belum juga berhasil mengungkap peledakan Istiqlal.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data