Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIIII/04 - 10 Mei 1999
   
Wawancara

"Peledakan itu Tak Bisa Disalahkan"

GELEGAR bom tak selalu bermakna teror. Di mata Ir. Haji Muhammad Sanusi, ia punya banyak wajah. Salah satunya adalah kezaliman. Perangkap intelijen Panglima ABRI saat itu, Jenderal Benny Moerdani, menempatkan namanya di pucuk jaringan peledakan kantor Bank Central Asia (BCA) Cabang Pecenongan, Gajah Mada, dan Jembatan Metro Glodok, Jakarta, pada 4 Oktober 1984 silam. Palu hakim dan Undang-Undang Antisubversi lalu mengirim Mantan Menteri Perindustrian dan Kerajinan Rakyat (1966-1968) itu ke balik terali besi selama hampir 10 tahun. Ia dibebaskan Mei 1994 dan kemudian beroleh amnesti Agustus tahun lalu dari Presiden Habibie.

Setelah peristiwa Tanjungpriok yang melukai hati umat Islam itu meletup pada 1983, Republik diguncang bom. Selain kasus BCA, rentetan ledakan meluluhlantakkan Gereja Sasana Budaya Katolik Magelang (1984), Candi Borobudur, dan bus Pemudi Express di Malang (1985). Beberapa pelakunya telah ditangkap. Tapi Soeharto tak mau menyia-nyiakan peluang emas: memberangus suara oposisi yang mulai diteriakkan Petisi 50, tempat Sanusi menjadi salah satu penandatangannya. Salah satu caranya, menerakan label "Eka" (Ekstrem Kanan). Tokoh Muhammadiyah sekaligus pendiri Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) ini dituding berniat mendirikan Negara Islam Indonesia. Sebuah konsep yang justru tak pernah disepahaminya.

Yang dipahaminya saat itu adalah sebuah gerakan menentang kekuasaan totaliter Soeharto dan dominasi konglomerat keturunan Cina dalam perekonomian nasional. Sebuah sikap politik yang juga diyakini para pelaku pengeboman. Karena itulah, kepada Karaniya Dharmasaputra, Hardy R. Hermawan, dan fotografer Robin Ong dari TEMPO, ia tak ragu menyatakan, "Saya tak bisa menyalahkan mereka atas pengeboman itu."

Gelegar bom tak selalu durjana. Bagi pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 77 tahun yang lalu itu, ia bahkan menjelma menjadi berkah. Penyakit ambeien yang dideritanya selama 30 tahun lenyap gara-gara "Senam Tera" yang rutin dilakoninya di penjara. Anggota Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional ini juga mengaku tak menyimpan dendam. Berikut adalah penuturan getirnya, dengan suara yang kerap bergetar dan meninggi, tentang sebuah kekuasaan bernama Soeharto dan militer.



Bagaimana sebenarnya keterlibatan Anda dalam kasus peledakan BCA?

Saya tidak bersalah sama sekali. Pelakunya sendiri, Tasrief Tuasikal, yang menyatakan hal itu di pengadilan. Belakangan saya mendapat amnesti. Artinya, saya memang tidak terlibat.

Bukankah Tasrief sempat mengaku bertemu dengan Anda sebelum pengeboman dan diberi Rp 500 ribu untuk biayanya?

Saya sama sekali tidak kenal Tasrief. Memang, tiga hari sebelum peledakan, saya diperkenalkan dengannya oleh Rachmat Basoeki di Restoran Mira Sari milik saya di Jakarta. Tapi saya tidak pernah memberikan uang. Tidak ada pembicaraan apa pun soal bom. Hanya perkenalan biasa.

Tapi Anda kan mengenal dekat Rachmat Basoeki, salah satu pelakunya....

Memang, karena dia adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam dan Muhammadiyah. Khususnya ketika menjadi perantara jual beli tanah saya di kawasan Puncak. Untuk keperluan itulah saya memberinya ongkos Rp 30 ribu per bulan selama proses jual beli berlangsung. Itu semua dikait-kaitkan oleh Benny Moerdani. Waktu diperiksa, saya diperlihatkan sebuah bagan bikinan intel dengan nama saya di pucuk jaringan peledakan. Saya dituding jadi dalang, otak, sekaligus pemberi dana. Lalu saya dipaksa mengakuinya. Jelas saya tidak mau karena saya tidak merasa bersalah.

Anda sering terlibat diskusi politik dengan para pelaku, khususnya soal gerakan menentang kekuasaan Soeharto dan dominasi ekonomi keturunan Cina?

Oh, kalau itu sudah pasti dibicarakan. Tidak hanya oleh kami. Itu sudah menjadi percakapan umum di kalangan aktivis, politisi, dan cendekiawan. Apalagi sebelumya sudah ada Peristiwa Malari, demonstrasi golput, kasus korupsi Pertamina, atau Petisi 50. Memang, kita punya sikap politik yang sama, bahwa kesewenang-wenangan Soeharto harus diakhiri.

Jadi, Anda yang membentuk sikap politik mereka?

Oh, tidak. Di mana-mana, para pemuda dan mahasiswa punya kesadaran politik sendiri. Mereka kan lebih aktif daripada orang tua. Mungkin malah saya yang terseret mereka, ha-ha-ha....

Selama pemeriksaan, Anda pernah disiksa?

Tidak, semuanya enteng-enteng saja. Meski tidak bersedia mengaku, saya tidak diapa-apakan. Rupanya ada diskriminasi. Bekas menteri seperti saya atau pensiunan jenderal tidak diperlakukan dengan keras. Tapi tahanan biasa seperti Tasrief, Basoeki, dan beberapa saksi lain disiksa, dipaksa membuat pengakuan palsu bahwa saya bersalah.

Siapa saja saksi itu?

Banyak sekali, saya tidak hafal. Malah ada yang sampai mati karena tidak bersedia memberikan kesaksian palsu. Kalau tidak salah, Kiai Jabir dari Tanjungpriok. Keluarganya mengatakan kematiannya akibat penyiksaan di tahanan. Kiai Jabir sangat teguh. Dia bilang tidak kenal saya. Itu betul. Hari Jumat, katanya, ia masih segar-bugar, Senin kok sudah mati. Orang-orang Benny memang
kebangetan.

Bagaimana kondisi yang lain?

Sewaktu ditahan di Salemba, saya trenyuh melihat keadaan mereka. Babak-belur dipukuli, disetrum, disundut rokok. Akhirnya saya bilang agar mereka mengikuti saja kemauan pemeriksa. Nanti toh di persidangan bisa dikoreksi. Tapi ternyata pencabutan kesaksian mereka di persidangan tidak berlaku.

Bagaimana sebenarnya pengakuan mereka soal peledakan itu?

Menurut mereka?Tasrief, Basoeki, dan lainnya?pengeboman itu berlangsung spontan, tanpa perencanaan matang, apalagi jaringan yang luas. Mereka cuma mahasiswa, pemuda, ada juga pengangguran, yang sangat bersemangat. Tidak taktis. Mereka memang orang yang sangat sederhana. Pengeboman itu hanya dilatarbelakangi kegeraman dan keinginan membuat Soeharto memperhatikan posisi umat Islam dan kaum pribumi. Tak lebih dari itu.

Mereka bergerak secara spontan?

Ya, sangat spontan.

Tanpa dukungan organisasi apa pun di belakangnya?

Tidak ada. Lihat saja, si Basoeki itu berasal dari Muhammadiyah, yang tak mungkin mendukung tindakan semacam pengeboman. Yang lain datang dari berbagai pengajian. Tasrief juga tidak kaya, sedang-sedang saja. Kalau ada organisasi yang mendukung pendanaan, setidaknya dia berpenampilan lebih baik. Ini kok tidak, biasa-biasa saja. Untuk membiayai peledakan, dia mungkin cuma minta sana-sini.

Lalu bagaimana cara mereka mendapatkan bahan peledak?

Itu kan sebenarnya bukan bom. Cuma mercon tapi dengan ukuran yang cukup besar. Kalau bom, kan pakai detonator. Yang dipakai cuma bahan kimia sederhana, tanpa detonator. Mungkin sejenis kalium nitrat biasa yang bisa diperoleh dengan mudah di apotek.

Masa, cuma mercon?

Itu yang saya dengar dari mereka.

Siapa yang merakitnya?

Kalau tidak salah, Ir. Umar Al Katiri. Waktu itu mereka masih amat muda. Semuanya mungkin ada tujuh orang.

Kalau tujuannya memperingatkan Soeharto, kenapa yang dipilih pengeboman?

Pokoknya mereka mau protes. Keadaan saat itu tidak memungkinkan demonstrasi, misalnya. Jadi, dipilih yang gampang tapi bisa menarik perhatian. Mereka juga tidak tahu bahwa di BCA itu ada saham Istana. Yang mereka tahu, itu punya Liem Sioe Liong, yang diberi fasilitas luar biasa. Dan itu menimbulkan kecemburuan sosial.

Anda punya sikap politik yang sama dengan mereka, lalu bagaimana pandangan Anda terhadap tindakan pengeboman itu?

Terus terang saja, saya tidak bisa menyalahkan mereka. Saya memahami dan memakluminya sebagai ungkapan politik.

Menurut agama, bisa dibenarkan?

Ada dua pendapat. Pertama, tidak membenarkan. Yang kedua: tindakan peringatan terhadap ketidakadilan itu adalah wajib.

Jadi, Anda menyetujui pandangan kedua?

Kalau ada peringatan dari masyarakat sendiri, itu kan wajar. Kalau itu merupakan peringatan atas suatu kezaliman, termasuk Soeharto, saya tidak bisa menentangnya.

Saat peledakan, Anda sedang berada di Jepang. Untuk keperluan apa?

Saya menemani istri saya berobat. Tapi mereka (pemeriksa) bilang yang aneh-aneh. Dikatakan saya lihai, seolah-olah itu sudah saya atur sebagai alibi.

Bagaimana proses peradilan Anda waktu itu?

Persidangannya konyol. Sejak semula saya sudah berpikir tidak mungkin dibebaskan. Kalaupun benar saya pelakunya, tuntutan hukuman mati itu sangat kelewatan. Wah, saya cuma bisa menyerahkan semuanya pada Yang Mahakuasa, meskipun setiap hari istri saya terus menangis.

Apa kaitannya dengan peristiwa Tanjungpriok?

Selama di penjara saya bertemu dan mengenal mereka satu per satu. Tidak ada gambaran yang saya dapatkan bahwa kedua peristiwa itu berhubungan.

Sejak kapan Anda menjadi oposisi Soeharto?

Sejak fusi partai menjelang tahun 1977. Saat itu kami adalah wakil partai yang menentang fusi. Kami sering mengadakan pertemuan, biasanya di Restoran Mira Sari, Jalan Pati Unus, Kebayoran Baru, Jakarta. Yang biasa hadir, Rahman Tolleng, Abdul Madjid, Ny. S.K. Trimurti, Ny. Supeni, dan lain-lain. Tapi saat itu saya masih hati-hati, jangan sampai kelihatan. Maklum, saya punya bisnis konsultan. Saya mendapat banyak order dari pemerintah, terutama proyek irigasi.

Ngomong-ngomong, sebagai oposisi, Anda tidak risi menerima order dari pemerintah?

Tidak. Lo, itu kan hak saya. Saya mendapatkannya melalui tender, bukan dari kolusi.

Setelah itu Anda menjadi anggota Petisi 50?

Ya. Sejak meneken Petisi 50 itulah bisnis saya mulai seret. Saya juga dicekal. Meski dengan sedikit akal-akalan, saya toh tetap bisa lolos, ha-ha-ha....

Jadi, Anda ditangkap karena keterlibatan di Petisi 50?

Itu salah satunya. Tapi sejak dulu setiap "rapat gelap" di Mira Sari, intel bertebaran. Di seberang jalan, di warung rokok, di warung kopi.

Kenapa Anda yang dijadikan target operasi?

Yang jelas, Benny membutuhkan seseorang untuk dituduh sebagai dalang. Dan saya memenuhi kriteria itu. Selain soal Petisi 50, mereka juga tahu saya kenal dengan Rahmat Basoeki, misalnya. Saya pernah diberi tahu bahwa dia (Benny) sangat mengerti dan mengincar saya.

Anda juga dituduh berniat mendirikan Negara Islam Indonesia.

Semua orang tahu, saya tidak pernah setuju dengan konsep negara Islam. Yang saya cita-citakan adalah masyarakat Islam. Saya selalu mengatakan, menurut Quran dan hadis, pakaian Islam itu tidak ada. Tapi Islam mengajarkan bagaimana cara berpakaian yang baik. Jadi, negara Islam itu tidak ada, tapi tata cara bernegara yang baik menurut Islam.

Tuduhan lain, Anda mencoba mengebom Soeharto di Jalan Cut Mutia?

Tuduhan itu juga sama sekali tidak berdasar. Di pengadilan pun mereka tidak pernah bisa membuktikannya.

Meskipun Anda mengenal salah satu tertuduh, Nuriman?

Nuriman memang saya kenal. Dia itu jemaah Muhammadiyah dan anggota Gerakan Pemuda Islam. Tapi saya lama sekali tidak berhubungan dengannya. Diiming-imingi kebebasan jika bersedia menjebloskan saya, mereka lalu membuat keterangan palsu bahwa sayalah yang mendalanginya. Akhirnya mereka dibebaskan dan saya dinyatakan bersalah. Tapi Mahkamah Agung toh menganulir putusan itu.

Bukankah saat itu Petisi 50 memang bertujuan menggulingkan Soeharto?

Wah, enggak ada. Sebatas pendapat, perlunya mengganti Soeharto memang dibicarakan, tapi bukan dalam tataran aksi. Sebagai moral force saja.

Bagaimana dengan konsep Lima Gumpalan Politik untuk menggantikan Soeharto yang menurut Jaksa Anda susun?

Oh, itu toh.... Itu memang ada. Nasabri itu terdiri dari unsur nasionalis, agama, dan ABRI. Itu adalah konsep gabungan kekuatan politik yang diharapkan tampil menggantikan Soeharto. Tapi tidak bisa disebut konsep itu datang dari saya. Posko ABRI adalah sebuah lembaga yang dipimpin Jenderal Soekendro. Lembaga Kesadaran Berkonstitusi itu dipimpin Pak (Abdul Harris) Nasution dan Pak Sanusi Hardjadinata. Ditambah Lembaga Soekarno-Hatta dan Petisi 50. Tapi tak ada yang menamakannya Lima Gumpalan Politik. Itu kan hasil pekerjaan intel, seolah-olah ini adalah sebuah konspirasi. Lalu Benny melaporkannya ke Soeharto. Kita kan tahu, dulu Benny adalah anak emas Soeharto.

Anak emas bagaimana?

Banyak yang menyampaikan kepada saya bahwa pendekatan Benny itu amat lihai. Kalau menghadap Soeharto, dia tidak duduk di kursi, tapi bersimpuh di lantai. Pakai nyembah segala. Memang, yang melakukan itu tidak cuma Benny. Hampir semua orang di Istana, secara harfiah, menyembah Soeharto. Tapi hubungan Benny dan Soeharto lalu memburuk setelah ia mengingatkan Soeharto secara halus soal keserakahannya.

Anda juga kan pernah jadi menteri di kabinet Soeharto.

Ya, tapi saya tidak cocok dengan kepemimpinannya. Setiap rapat kabinet, para menteri hanya diberi kesempatan melapor, setelah itu cuma mendengarkan apa yang dia sampaikan.

Selama menjadi menteri, Anda pernah mengajukan kritik terhadap Soeharto?

Saya akui, tidak pernah. Tapi saya pernah mengajukan usul yang bertentangan dengan gagasan Soeharto. Waktu itu saya bertabrakan dengan "Mafia Berkeley". Saya menolak model monetary approach mereka. Saya mengusulkan production approach. Saya dihantam Widjojo (Nitisastro), lalu diganti.

Siapa yang mengusulkan pengangkatan Anda?

Saya rasa diusulkan Soedjono Hoemardani, salah satu Asisten Pribadi (Aspri) Presiden. Waktu itu kan Aspri punya akses yang amat besar. Soedjono kenal saya sejak sama-sama di Solo. Dia tahu pengalaman saya di Jawatan Perindustrian.

Setelah semua ini, Anda dendam kepada Soeharto?

Tidak. Bagaimanapun harus diakui, saya telah ikut mengangkatnya menjadi presiden. Lagi pula, saya tak mau mengotori tangan saya dengan darah orang yang dholim.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data