Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXIIIIIIII/30 Maret - 05 April 1999
   
Lingkungan

Dari Pupuk sampai Burger Cacing

Budi daya cacing merebak. Hewan yang dianggap menjijikkan itu ternyata serbaguna, bermanfaat untuk daur ulang limbah, pupuk, obat, sampai burger.

DULU dibuang, sekarang disayang?begitulah peruntungan cacing. Binatang melata yang menimbulkan rasa jijik dalam diri kaum wanita ini tiba-tiba naik daun. Walaupun jelek dan berlendir, bagi sejumlah kecil orang, cacing kini memiliki daya tarik tersendiri. Paling tidak untuk lebih dari 500 orang warga yang berdiam di Jawa dan sekitar 150 orang lagi di luar Jawa, yang menemukan lahan emas lewat pembudidayaan cacing. Jenis yang dikembangbiakkan adalah cacing tanah (Lumbricus rubellus), cacing asli Indonesia berwarna merah kecokelatan dengan penampang tubuh yang pipih kira-kira sepanjang batang korek api.

Harap percaya, tubuh binatang yang hina-dina itu ternyata menyimpan segudang manfaat. Seorang pakar sekaligus peternak cacing di kawasan Sekeloa Bandung, Bambang Sudiarto, menjelaskan bahwa hewan itu punya arti strategis buat lingkungan. Mengapa? Tak lain karena cacing dapat mengatasi urusan pelik yang timbul gara-gara sampah perkotaan. Selama ini, menurut staf ahli Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran Bandung itu, sampah yang 75 persen berupa limbah organik tidak bisa ditangani secara tuntas. Yang dilakukan cuma sebatas memindahkan dan menimbunnya di area pembuangan. Akibatnya, tiap tahun sekian miliar rupiah terbuang percuma untuk urusan itu.

Dengan memanfaatkan cacing, timbunan sampah tak jadi masalah. Soalnya, cacing punya kemampuan dahsyat untuk mendaur ulang sampah karena binatang melata itu gemar menyantap limbah organik. Sayuran busuk, kulit buah, nasi sisa, dan kotoran hewan adalah makanan favorit bagi cacing tanah. Tambahan lagi, setiap hari ia mampu melahap porsi makanan sesuai dengan berat tubuhnya. Ini berarti, dengan lima ton cacing tanah, ya, lima ton pula limbah organik ludes. Hewan ini juga mudah dikembangbiakkan dan tidak membutuhkan lahan banyak. Tiap tahun, populasinya bisa berkembang sampai seribu kali lipat. Dari satu kilogram cacing, dalam setahun cacing yang bisa dipanen bisa mencapai 225 kilogram.

Proses daur ulang hewan ini sungguh efektif. Empat puluh persen dari limbah yang disantap lalu keluar lagi?dalam bentuk kotoran?jadi pupuk organik. Di supermarket, pupuk cacing laku Rp 3.000 per kilogram. Namun, untuk petani, Bambang menjualnya lebih murah: Rp 600. Menurut Atang, peternak cacing di Bandung Selatan, kualitas pupuk jenis itu amat prima. Hasil uji coba empat tahun terakhir membuktikan, kandungan unsur haranya lebih bagus ketimbang pupuk anorganik. Produksi tanaman bisa digenjot sampai dua kali lipat. Selain itu, rasa buahnya pun lebih manis, kulitnya halus serta tahan hama.

Maka, tak mengherankan jika budi daya cacing berkembang marak. Sejak dibuka 15 tahun lalu, "peternakan" Bambang sanggup menghasilkan dua ton bibit cacing. "Bambang cacing"?begitu ia disebut?juga telah memasok produknya ke sembilan provinsi. Animo datang bukan cuma dari dalam negeri. Penasihat Koperasi Agribisnis Cacing Tanah Indonesia ini juga kerap didatangi peminat dari mancanegara yang ingin mengadopsi metode budi dayanya. Para peminat datang dari Jerman, Kanada, India, dan Australia. Target sebuah "perusahaan cacing", PT Vermi Alam Prisma Lestari, juga tak tanggung-tanggung. Menurut direktur utamanya, Budi Listiawan, dalam tiga tahun ini mereka mematok kapasitas produksi sampai 100 ton. Nilai ekonomis makhluk hermafrodit ini memang tak main-main. Di Kuba, misalnya, setelah negeri ini dihajar embargo Amerika Serikat, budi daya cacing diandalkan menjadi penyangga ekonomi rakyat.

Selain bermanfaat bagi lingkungan, cacing tanah masih menawarkan setumpuk faedah lain, misalnya di bidang kesehatan. Uji laboratorium menunjukkan tepung cacing mengandung berbagai enzim penghasil antibiotik dan asam arhidonat penurun demam. Penelitian Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran tahun 1996 juga menemukan bahwa ekstrak cacing mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen penyebab tifus dan diare. Bahkan, menurut Bambang, sejak 1990 di Amerika Serikat cacing telah dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhan sel kanker.

Lain lagi Jepang dan Australia, yang mengolah cacing sebagai bahan baku kosmetik. Kegunaan lain, yang sudah banyak diketahui, adalah untuk pakan ternak. Cacing merupakan sumber nutrisi berkualitas untuk menggenjot produksi telur itik dan ayam. Harganya jelas jauh di bawah harga tepung ikan dan kedelai, yang melonjak mengikuti kurs dolar. Cacing juga ternyata bagus untuk perut manusia. Dagingnya mengandung kualitas protein yang sangat tinggi: 84 persen. Bandingkan dengan ikan, yang cuma 61 persen. Di mancanegara, hewan ini bahkan telah diolah menjadi bahan baku untuk mengolah berbagai makanan lezat. Di Jepang ada juice cacing, di Amerika dan Hungaria, diolah jadi burger, dan di Filipina jadi biskuit renyah. Siapa sangka, cacing tanah begitu luar biasa dan serbaguna.

Karaniya Dharmasaputra, Upik Supriyatun (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data