Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXIIIIIIII/30 Maret - 05 April 1999
   
Album

Meninggal

DUNIA antropologi Indonesia kehilangan ilmuwan terbaiknya. Pelopor antropologi di Indonesia, Prof. Dr. Koentjaraningrat, meninggal dunia dalam usia 76 tahun di Rumah Sakit Kramat, Jakarta Pusat. Almarhum yang biasa dipanggil Pak Koen ini meninggal Selasa, 23 Maret 1999, pukul 16.25 WIB, akibat terkena stroke dan penyakit gula.

Sehari sebelumnya, Pak Koen dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Menurut istrinya, Kustiani, 65 tahun, bapak tiga orang anak dan kakek empat cucu ini kerap terkena stroke. "Setidaknya sudah sepuluh kali," ujarnya.

Sebelum dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Daksinapati Timur, Kompleks IKIP Rawamangun, Jakarta. Tampak melayat sahabat beliau, di antaranya Toety Herati, Fuad Hassan, serta sosiolog Sardjono Jatiman.

Lahir di Yogyakarta, 15 Juni 1923, Pak Koen adalah putra tunggal R.M.E. Brotokoesoemo. Masa sekolahnya dari SD hingga sarjana muda diselesaikan di Kota Gudeg itu. Selanjutnya, ia merampungkan pendidikan sarjana sastra di Universitas Indonesia pada 1950. Studinya diteruskan dengan mendalami antropologi di Universitas Yale, Amerika Serikat, pada 1956, hingga meraih gelar master. Universitas Utrecht, Belanda, memberikan gelar honoris causa kepada Koentjaraningrat pada 1976.

Pak Koen tertarik dengan antropologi sejak menjadi asisten Prof. G.J. Held, guru besar antropologi UI yang mengadakan penelitian di Sumbawa. Perhatiannya pada pendidikan antropologi juga besar. Karena itu, ia bertekad mendirikan fakultas antropologi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Karya tulisnya pun sangat banyak. Lebih dari seratus buku telah dihasilkannya dan sebagian menjadi bacaan wajib mahasiswa antropologi. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan (1974). Isinya antara lain menjawab anggapan orang bahwa antropologi identik dengan kajian terhadap suku bangsa primitif dan terasing.

Perhatiannya terhadap perkembangan budaya suku bangsa di Indonesia, terutama di Indonesia timur, juga besar. "Jika Indonesia ingin serius membangun Irianjaya menjadi kediaman yang nyaman dan makmur bagi suku bangsa Irianjaya, kepemimpinan dalam sektor ekonomi, politik, dan pemerintahan harus di tangan putra dan putri Irianjaya," katanya dalam sebuah seminar pada 1984.

Sejak pensiun dari perguruan tinggi pada 1988, ia menyibukkan diri dengan melukis. Setidaknya 56 lukisannya pernah dipamerkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan juga di Paris, Prancis.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data