Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Wawancara

"Program Benteng Hasilnya Nol"



Tidak semua orang seberuntung Soedarpo Sastro-satomo. Lahir jauh sebelum paruh pertama abad ke-20, dia boleh bersyukur menyaksikan serangkaian peristiwa kaleidoskopis: dua masa kolonial yang membuatnya membenci fasisme, aktif di lingkungan kaum muda pergerakan nasional, terlibat dalam lobi diplomatik pada masa awal kemerdekaan, dan masih dalam keadaan bugar menyaksikan kejayaan maupun runtuhnya Orde Baru.

Lahir di Pangkalansusu, Sumatra Utara, pada 30 Juni 1920, ia adalah anak nomor lima dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Sadeli Sastrosatomo, seorang kepala mantri candu. Dan ibunya, Sarminah, putri asisten wedana, praktis membesarkan sendiri anak-anaknya setelah suaminya berpulang pada 1929. Ia membawa anak-anaknya kembali ke Klaten, Jawa Tengah, di mana Soedarpo melewatkan sebagian masa kanak-kanak dan remaja.

Dari ibunyalah Soedarpo belajar bahwa budaya yang berbeda tetap bisa ditumbuhkan dalam harmoni: muslimah yang taat itu tak ragu-ragu mengirimkan putra-putrinya ke sekolah Katolik—sembari mewajibkan mereka belajar mengaji di sore hari. "Di sekolah Katolik, ilmu-ilmu dunia dipelajari dalam disiplin tinggi," ujar Soedarpo mengutip kata-kata ibunya, jauh di masa lampau.

Ia menyelesaikan Katholieke HIS di Klaten (1934), MULO (1937), dan AMS (1940) di Yogyakarta. Ayah tiga putri ini kemudian belajar kedokteran di Geneeskundige Hogeschool (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Studinya terpotong ketika Jepang masuk pada 1942. Ia dikeluarkan oleh Jepang dari kampus karena dianggap menjadi dalang mogok kuliah mahasiswa. "Saya tidak sedih. Saya menganggap tindakan kami adalah bagian dari pergerakan dan perjuangan kebebasan," ujarnya. Bersama Soedjatmoko, ia bergabung dengan Sutan Sjahrir melakukan gerakan bawah tanah.

Setelah proklamasi, ia terjun ke bidang jurnalistik, bekerja di mingguan Het Inzicht. Sempat bekerja di staf kementerian penerangan bagian luar negeri (1945-1948), Soedarpo diangkat menjadi anggota delegasi Indonesia ke Dewan Kemanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York (1948-1950), lalu menjadi pejabat humas di KBRI Washington (1950-1952). Inilah tahun-tahun terakhir ia berkarir sebagai diplomat. "Saya mengundurkan diri karena sejak lama saya tahu bahwa saya tidak mampu bekerja sebagai pegawai pemerintah," ujarnya kepada wartawan TEMPO Hani Pudjiarti, Wicaksono, Hermien Y. Kleden, dan fotografer Robin Ong, yang mewawancarainya pada Kamis pekan lalu.

Setahun kemudian, dengan modal Rp 100.000 hasil menabung selama bertahun-tahun, Soedarpo mulai berusaha di bidang impor kertas, barang-barang besi, dan peralatan kantor. Usaha perniagaan Soedarpo Corporation resmi ia dirikan pada 1952. Usaha Soedarpo yang kemudian berkembang dalam tiga bidang utama, pelayaran samudra, ekspedisi, dan perdagangan, tumbuh subur. Usahanya sukses. Ia dijuluki raja kapal—sebuah julukan yang tetap melekat bahkan setelah ia menjual 51 persen saham Soedarpo Corporation kepada PT Danareksa pada 1997 untuk menyelamatkan perusahaannya.

Pada usia 78 tahun, bos Soedarpo Corporation itu masih segar bugar. Ia tetap rutin ke kantor, bermain golf, dan berlayar di internet. Di sebuah rumah tua di Jalan H.O.S. Cokroaminoto 105, Jakarta Pusat, konglomerat pribumi ini melewatkan hari tua bersama sang istri, Minarsih Wiranatakusumah, yang masih saja jelita pada usia senja. Berikut ini petikan wawancaranya.



Anda sudah memiliki segalanya. Kekayaan, ketenaran, kemapanan. Apa perlunya terus bekerja pada usia 78?

Bekerja adalah sebuah proses panjang. Saya bisa tetap menuai pengetahuan, pengalaman. Orang-orang di bawah saya tetap membutuhkan berbagai saran kendati saya sudah tidak terlibat dalam kebijakan. Ada juga hal-hal yang menyangkut personal guarantee. Pihak bank, pihak luar negeri, misalnya, menuntut minimal saya harus duduk dalam perusahaan, walau tidak aktif. Lagi pula, bekerja membuat Anda tetap hidup.


Dan, soal kekayaan, saya tidak sekaya yang Anda bayangkan. Saya ini melarat enggak, berlebihan juga enggak.


Itu perdebatan relatif, tergantung bagaimana ukuran kekayaan.

Kalau orang melakukan suatu usaha yang besar, dan dia bisa menyandarkan diri pada modal sendiri—bila tak ada pilihan lain—buat saya, itu orang kaya sekali. Dan itu sesuatu hal yang tak mampu saya lakukan. Kalau Anda tanya ukuran, saya bisa memberi contoh dua orang Indonesia yang saya pandang kaya. Liem Sioe Liong dan Bustanil Arifin.


Apakah ada hal yang mengganggu Anda bahwa Liem Sioe Liong, yang kebetulan Cina, menjadi sangat kaya di Indonesia? Anda ini kan, terus terang saja, berpihak pada pengusaha pribumi dari dulu.

Ini bukan soal Liem atau siapa yang kebetulan menjadi kaya di Indonesia. Dalam hubungan pribadi, saya tidak ada sentimen apa-apa. Dengan Anthony (Salim) saya berhubungan baik. Yang jadi soal buat saya adalah cara yang mereka gunakan dalam bisnis, sering kali sangat licik. Lihat saja ambrolnya bank-bank karena ulah Cina yang curang dan tidak mengenakkan hati. Mereka melanggar seenaknya dan membuat bangsa ini berutang besar.


Jadi, persoalan etika bisnis?

Betul. Tapi kita sendiri juga membuat keadaan ini menjadi mungkin. Pak Harto, misalnya, sangat memanjakan orang Cina. Orang-orang seperti Liem Sioe Liong, Prajogo Pangestu, Eka Tjipta Widjaja, maju pesat. Tahun 1950-an, Liem belum punya apa-apa. Begitu berkongsi dengan Soeharto dan mendapat monopoli beras, gula, terigu, bisnisnya langsung maju pesat.


Tapi dominasi Cina kan bukan soal baru?

Memang bukan. Hal itu sudah kami bicarakan sejak saya bersama teman-teman, Soedjatmoko, Soemitro Djojohadikusumo, masih mahasiswa di kampus.


Anda sudah membicarakan soal bisnis Cina sejak di kampus pada awal 1940-an?

Kami membicarakan bagaimana agar kita bisa membuktikan bangsa Indonesia bisa mandiri menanggulangi sektor usaha tanpa harus tergantung pada Cina, Arab, India. Kita ingin menunjukkan kelas menengah merupakan satu kekuatan ekonomi Indonesia. Nah, kalau kestabilan ekonomi itu ibarat selembar kain, harus ada benang-benang kuat yang saling menyatu.


Tapi, politik Belanda sendiri sebetulnya menunjang kebangkitan ekonomi kaum Cina sembari menekan kaum pribumi.

Itu sudah terjadi sejak masa-masa saya masih mahasiswa dan jauh sebelum itu. Di kampus kami, Belanda sengaja membina sekelompok mahasiswa Cina agar kelak menjadi pengusaha berhasil. Patronase itu sudah ada, dibentuk sejak dulu.


Apakah itu yang membuat Anda dan kawan-kawan menyokong kelahiran Program Benteng, program pemerintah untuk meningkatkan kemampuan ekonomi pribumi?

Kami menyokong, tapi bukan memelopori. Ini gagasan umum yang sewaktu-waktu bisa diterapkan. Soemitro (Djojohadikusumo) banyak terlibat karena ia tumbuh dalam lingkungan tempat bapaknya sendiri sudah mau menciptakan kekuatan ekonomi yang bisa meningkatkan taraf hidup dan demokrasi yang lebih baik. Jadi, ketika bersekolah di Belanda, ia membuat skripsi mengenai perombakan perekonomian Indonesia yang diatur-atur Belanda. Sepulangnya ke Indonesia, Soemitro mengembangkan semacam tatanan ekonomi baru yang kemudian oleh pemerintah dipopulerkan sebagai Program Benteng (1950-1952).


Seberapa berhasil program itu?

Zero. Gagal total, terutama karena masalah mental.


Kok bisa? Padahal, pemerintah menyediakan fasilitas, dari peraturan, lisensi, sampai modal.

Kalau Anda berpikir dengan setting tahun 1950-an, barangkali hal itu relatif lebih mudah dipahami. Ketika itu, priayi jadi saudagar dianggap hina. Program itu bubar setelah dua tahun. Modal Rp 3 miliar (pada 1950)—disalurkan ke beberapa ratus pengusaha pribumi—yang disediakan pemerintah kandas begitu saja. Padahal cara memperoleh modal itu sangat mudah: hanya perlu bicara "saya ini pejuang", maka lisensi akan turun. Dengan lisensi itu, dia mendapat kredit sekaligus hak mengimpor barang-barang niaga.


Anda ikut dalam program itu?

Tidak. Ketika saya pulang dari Amerika pada 1952, program itu sudah bubar. Tapi ada beberapa pengusaha yang berhasil. Hasyim Ning, Dasaad. Beberapa kawan saya yang karena mentalnya priayi, langsung menjual lisensi dari Program Benteng. Itulah awal hancurnya program ini. Padahal, nama Benteng tadinya dimaksudkan untuk membentengi para pengusaha pribumi untuk kemudian lahir sebagai kelas pengusaha, kelas menengah yang betul-betul berkelas.


Apakah karena ingin jadi kelas menengah yang berkelas lalu Anda memutuskan berdagang?

Sejak awal saya memang tidak suka jadi pegawai negeri. Saya bisa melakukan itu juga karena didukung keluarga.


Aneh juga kalau mengingat asal-usul Anda yang priayi dan menikahi putri kepala residen—yang juga sangat priayi—tapi mudah saja memutuskan jadi pedagang.

Etos kerja keras saya pelajari dari Ibu sejak kami masih kanak-kanak. Di Klaten, ketika Ibu membuka warung, orang-orang bergumam: "Masa, priayi kerja begitu." Namun beliau begitu ulet, gigih, dan pintar menyulap uang pensiun ayah menjadi gula, kelapa, dan berbagai hasil bumi, untuk dijual lagi. Saya rasa, intuisi sebagai pengusaha saya pelajari dari Ibu. Sedangkan istri saya, walau anak priayi, dia berpikir praktis. Dia oke-oke saja tatkala saya berhenti jadi diplomat kendati dia juga belum tahu entah besok kami makan apa.


Apa saja yang Anda lakukan semasa menjadi diplomat?

Banyak hal. Kami harus menghadapi media asing pada suatu masa ketika umumnya media asing memihak Belanda. Atau, dengan modal omong kosong dan pergaulan kami bisa menyewa gedung di kawasan elite 40th Street, New York, sebagai Kedutaan Besar RI, ha-ha-ha….


Wah, hebat juga. Anda hanya beromong-kosong dan hasilnya sebuah gedung sewaan di 40th Wall Street New York. Tentu ada kiat-kiatnya?

Begini ceritanya. Saat itu, saya memperoleh kesempatan luas ketika dipercaya Bung Karno dan Bung Sjahrir untuk bergabung dengan delegasi Indonesia di New York. Saya diminta menjadi koordinator perwakilan dan dinas. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan bermodalkan "diplomasi begajul" semasa mahasiswa, saya mencoba meyakinkan berbagai pihak tentang kepentingan Indonesia. Antara lain, ya, mendapat lokasi bergengsi untuk gedung kedutaan kita itu. Pada 1950, saya diberi pangkat sekretaris satu, setahun kemudian naik jadi counselor. Banyak pengalaman, tapi kemudian saya putuskan untuk keluar.


Bagaimana hubungan Anda dengan Bung Sjahrir? Anda kan salah satu dari the Sjahrir's boys.

Dia guru dan suhu saya. Dia menanamkan pada saya perasaan tentang manusia yang harus dihargai martabatnya. Saya belajar dari Sjahrir bahwa pikiran, akal budi, rasa, kemauan, dan keinginan adalah fasilitas yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menjalankan hidup dan ibadahnya. Ia mengajarkan banyak hal luar biasa kepada saya dan teman-teman. Hidupnya sendiri melarat. Ia sosialis sejati. Padahal saya tahu persis, kalau mau, ia bisa menjadi kaya dalam waktu cepat.


Jadi, pikiran-pikiran Sjahrir, terutama, yang membuat Anda kagum.

Bukan hanya itu. Tapi karena ia juga sangat manusiawi—sesuatu yang berbeda dengan Bung Hatta. Sebagai anak muda yang "begajulan", terus terang saya kagum melihat seorang tokoh yang bisa berpikir dan menulis dengan begitu mendalam pada usia dini. Dia sangat hebat sekaligus sangat biasa sebagai manusia. Dengan kami, ia bisa bicara nasionalisme, buku, pemikiran, tapi bisa juga mengobrol soal wanita, seks, dansa-dansi. Bung Hatta tidak memiliki perasaan sepeka dan semanusiawi Sjahrir. Beliau terlalu lurus dan perfeksionis.


Kembali ke soal bisnis, apakah Anda merasa diuntungkan sebagai pengusaha dalam rezim Presiden Soeharto?

Tentu. Kalau tidak ada boom di bidang pelayaran, mana mungkin saya bisa berkembang sebagai pengusaha angkutan? Kalau dipikir-pikir, Indonesia sebetulnya banyak maju di bawah Soeharto. Banyak pembangunan, kesehatan dan usia harapan hidup meningkat, kita pernah berswasembada beras, bahkan mengekspor beras. Cuma faktor KKN yang membuat Soeharto jadi begini, dan ekonomi kita ikut rusak.


Tapi ada pendapat para pengusaha juga yang membuat Pak Harto jadi begitu.

Tidak semuanya benar. Memang, Pak Harto itu sangat kaya karena peran sebagian pengusaha Cina yang kaya. Namun kalau diselidiki harta atas namanya di luar negeri, ya, tidak ada karena sudah dibagi rata dengan pengusaha yang menempel ketika ia masih menjabat presiden. Mereka juga yang membantu menyelamatkan uangnya di mana-mana.


Omong-omong, kalau masih ada umur, apa yang akan Anda lakukan selama lima tahun mendatang?

Saya akan tetap bekerja dan berinternet karena dunia teknologi dan informasi sangat penting, menarik, memikat. Saya mendapatkan denyut kehidupan setiap memperoleh informasi dan teknologi baru.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Roger Federer, Davydenko dan Gonzalez Melenggang - 30 Ags 2008 | 08:14 WIB
DPRD DKI Dikritik - 30 Ags 2008 | 07:20 WIB
Jakarta Bakal Diguyur Hujan - 30 Ags 2008 | 05:59 WIB
Ford Naik Lima Peringkat di CSI - 30 Ags 2008 | 01:31 WIB
Tiga Perempuan Peneliti Raih Fellowship For Women in Science 2008 - 30 Ags 2008 | 00:16 WIB
Indonesia “Juara” - 30 Ags 2008 | 00:04 WIB
Presiden Dukung Komisi Amandemen UUD 1945 - 29 Ags 2008 | 23:22 WIB
Direktur Kedaulatan Rakyat Meninggal - 29 Ags 2008 | 22:47 WIB
51 Industri Besar Kurangi Konsumsi Listrik - 29 Ags 2008 | 21:13 WIB
Direc Vision Tidak Bersalah Soal Monopoli Liga Inggris - 29 Ags 2008 | 21:10 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data