|
SETELAH membaca artikel TEMPO, Nomor 22, edisi 15 Februari 1999 dan surat pembacanya F.X. Wibisono di TEMPO Nomor 23, edisi 22 Februari 1999, izinkanlah saya ikut bersuara.
Artikel itu menggugah ingatan saya bahwa sesungguhnya perbedaan etnis (khususnya Tionghoa) di Indonesia bukanlah perbedaan kepribadian mereka. Bahkan itu menunjukkan bahwa pembangunan karakter golongan Tionghoa kadang lebih baik dan maju. Saya mengharapkan bahwa cara pandang yang salah terhadap golongan Tionghoa semakin pudar karena itu tidak bermanfaat.
Artikel itu menghadirkan wakil golongan Tionghoa dalam warnanya masing-masing. Ada tokoh pembauran, orang LSM, ekonom, dan politkus. Semua itu menunjukkan bahwa faktor SARA di Indonesia dapat dijembatani dengan cara yang baik.
DRS. AHMADI SUDARDJATMAN
Alamat lengkap ada di redaksi
|