Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Seni

Awal Sebuah Perbedaan

Pameran di Galeri Nasional menampilkan berbagai 20 karya instalasi dari perupa baru maupun yang sudah ternama. Yang menarik, banyak perupa ini yang tidak berlatar belakang seni lukis.

DISKUSI mengenai seni rupa instalasi tidak pernah berkembang di Indonesia. Ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap perkembangan seni rupa kontemporer yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ketika seni rupa instalasi muncul pada sekitar 1970-an, istilah seni rupa instalasi belum dikenal. Istilah ini meramaikan wacana seni rupa Indonesia setelah kritikus Sanento Yuliman memperkenalkannya lewat sejumlah tulisan pada 1980-an. Sejak itu, pendapat di sekitar praktek seni rupa ini segera terbelah menjadi dua kubu.

Kubu pertama memandang seni rupa instalasi sebagai perkembangan linier dari perkembangan seni rupa sebelumnya (seni rupa modern). Tahap-tahap perkembangannya bisa dilacak. Mereka percaya terhadap universalisme dan cenderung melihat perkembangan seni rupa di luar Barat dengan menggunakan Barat sebagai acuan. Sebaliknya, kubu kedua memandang kebudayaan tidak berlangsung seperti anak tangga yang terus bergerak ke atas dan berjenjang. Kelompok ini melihat seni rupa Barat (Modernisme) dan para pendukungnya bersifat menindas yang memaksakan Barat sebagai acuan. Mereka menghargai pluralisme, mengembangkan tafsir lain di luar dominasi paham universalisme, dan percaya bahwa dalam praktek kebudayaan semua orang bisa menyalin atau meminjam, baik dari Barat maupun sebaliknya. Konflik kedua kubu ini cukup tajam, sehingga tak mengherankan ketika karya seni rupa instalasi era 1990-an ditampilkan dalam Pameran Biennale Jakarta IX (1993), serangan paling gencar berasal dari kubu Modernisme.

Perdebatan di sekitar diskusi dua kubu ini masih membayangi pengantar pameran "Media dalam Media, Instalasi sebagai Media Ekspresi", di Galeri Nasional, Jakarta, 25 Februari sampai 25 Maret l999. Pameran ini berlangsung dalam rangka ulang tahun gedung pameran?yang dulu dikenal sebagai Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan Budaya?yang ke-12. Namun, upaya untuk menjelaskan eksistensi seni rupa instalasi ini menyebabkan perkembangan perupa di tingkat individu luput dari pengamatan kurator.

Pameran ini mengetengahkan 20 karya seni instalasi dari perupa Bandung, Yogya, dan Jakarta. Tidak seluruhnya adalah karya terbaru. Karya instalasi Agus Suwage dan Heri Dono, misalnya, telah berkeliling di sejumlah negara. Karya mereka diakui sebagai contoh terbaik seni rupa kontemporer Asia. Sementara itu, karya Setiawan Sabana, Krisna Murti, dan Anusapati telah dipamerkan di galeri maupun acara bienal di luar Jakarta. Adapun karya Hendrawan Riyanto merupakan pengembangan dari karya terdahulu.

Karya terbaru justru muncul dari para perupa muda yang mulai mempraktekkan seni rupa instalasi?mereka umumnya berusia antara 20-an dan 30-an tahun?yakni Bunga Jeruk, Ristyo Eko Hartanto, S. Teddy, Yusra Martunus, Tita Rubiati Puspitasari, Mukhsin M.D., dan Koni Herawati. Karya instalasi mereka umumnya memanfaatkan material alam yang dekat dengan kehidupan rakyat kecil, semisal tanah liat, jerami, limbah kertas, batu, dan tali, yang memberikan gambaran interaksi sosial di lingkungan masyarakat sederhana. Tita Rubiati menggunakan kaleng kerupuk untuk "mengawetkan" bayi-bayi yang belum lepas tali pusatnya. Koni Herawati membuat tikus dari tanah liat, dan S. Teddy meminjam tangan sejumlah pemahat untuk mereproduksi televisi dari bahan batu. Bunga Jeruk mengolah kayu untuk menciptakan wanita-wanita yang memuja keelokan tubuh. Mukhsin M.D. (pelopor pengolahan kertas daur ulang) menyusun siklus alam dan waktu dari bahan limbah kertas. Penggunaan material alami ini menyiratkan penentangan terhadap Barat dan pencarian terhadap indigenous.

Yang menonjol, pameran ini cukup banyak melibatkan perupa yang tak memiliki latar belakang pendidikan seni lukis. Mereka berasal dari pendidikan seni serat, keramik, desain industri, desain komunikasi, grafis, dan patung. Kendati seni instalasi dalam pameran ini tidak dimaksudkan sebagai tandingan terhadap seni lukis, keterlibatan perupa yang tak berasal dari seni lukis menyiratkan penentangan terselubung terhadap wacana seni rupa Indonesia yang didominasi seni lukis. Perupa yang mempraktekkan seni instalasi di ruang publik (site specific works) melihat seni rupa instalasi sebagai reaksi terhadap keterbatasan galeri dan museum yang menjelma menjadi "kotak putih" yang tak dapat ditembus. Tampaknya, ini juga merupakan reaksi terhadap komersialisasi dan subyektivisme yang berlebihan dalam praktek seni lukis modern.

Hendrawan Riyanto membuat karya instalasi "A Dialog with Ronggowarsito" (1999), sebuah ruang misteri black hole dari bahan keramik, kain, dan kawat besi. Karyanya mengangkat tema keprihatinan sosial lewat susunan keramik berstruktur dasar bola yang terjaring dalam jala-jala kawat. Di atasnya, terbentang kain hitam dengan lubang berbentuk kecambah. Seorang dengan mata tertutup kain hitam menembangkan "Megatruh" dari Serat Joko Lodang karya pujangga keraton Ronggowarsito, yang diiringi gesekan rebab. Seperti watak ramalan yang samar, kritik terhadap serba ketidakpastian zaman digarap dengan sangat halus.

Karya Anusapati tidak mengesankan sebuah karya patung, meski ia seorang pematung. Karyanya, "Preserve vs Explosit" (1994), meninggalkan "logika monumen" seni patung yang terdiri dari sembilan kotak kayu berisi limbah kayu yang berserakan di bawahnya. Anusapati menunjukkan pengolahan bentuk yang sangat minim. Kayu-kayu itu terasa meruapkan bau hutan yang mentah dan alamiah. Ia tampak menghindari bahasa visual estetis dengan bergeser pada bentuk interaktif dan dialektis dengan alam.

Bagi kurator pameran, Jim Supangkat dan Asmujo Irianto, pameran "Media dalam Media" dimaksudkan untuk menemukan arus perbedaan dalam seni rupa kontemporer Indonesia, khususnya seni instalasi pada dasawarsa 1990. Secara kategoris, seni rupa instalasi merupakan "medium baru". Para perupa dari berbagai latar belakang keluar dari media yang selama ini mereka tekuni, dan melompat ke medium instalasi.

Setiawan Sabana menampilkan instalasi grafis berjudul "Para Leluhur Kertas" (1998), berupa tumpukan buku-buku lama, surat kabar yang dibungkus dengan kain kasa. Sebagian dicat hitam, lainnya dibiarkan menguning, tampak tua dan lapuk. Karya ini adalah sebuah teks tentang renungan yang puitis terhadap leluhur kebudayaan manusia: kertas

Kecenderungan menggunakan teks dalam karya instalasi dalam pameran ini ternyata cukup besar, baik teks yang diwujudkan dalam bentuk susunan kata maupun teks yang muncul dari representasi bentuk. Karya Agus Suwage, "Keberangkatan" (1996), menampilkan teks berupa kata-kata yang tak saling berhubungan, misalnya surga, kentut, birokrat, shit, bohong, takut mati. Suwage tampak berupaya mengakurkan medium dua dimensi (gambar) dengan medium instalasi. Pada karya gambarnya, muncul ilusi ruang, tetapi gambar itu sendiri adalah ilusi bagi perahu dengan sejumlah manusia karet di dalamnya. Gerakan dayung pada karya instalasi itu juga sebuah ilusi karena perahu tetap tidak bergerak maju.

Sebaliknya, teks dalam karya instalasi video Krisna Murti, "Belajar Antri kepada Semut", lebih naratif. Elemen suara, gambar, patung, dan teks (dalam aksara Bali) bercerita tentang keserakahan lewat metafora singa dan semut. Narasi teks yang bermain dengan metafora juga tampak pada karya Astari Rasyid "Last Call" (1999), karya Rini Chairin Hayati "The Tree of Life" (1998), Nindityo Adipurnomo "Series of Art+Earth=Hearth" (1998), dan Hedi Hariyanto "Supper" (1996).

Astari Rasyid menciptakan ruang dengan atribut Jawa (baju, aksara, lampu minyak). Orang harus menunduk untuk masuk ke dalam ruang sempit yang mirip lemari pakaian. Rini Chairin Hayati dan Hedi Hariyanto memindahkan teks iklan melalui obyek temuan yang dirakit atau disusun begitu saja. Sedangkan Karya Nindityo mengingatkan seni.

Rangkaian teks ini boleh jadi menyiratkan kecenderungan tertentu. Namun sayang, kurator tidak menangkapnya. Kurator kurang menggali teks yang tersembunyi di balik karya perupa, tapi sebaliknya hanya memformulasikan pemikiran demi mengawali sebuah perbedaan ekspresi.

Hendro Wiyanto (pengamat seni rupa) Last Call, 1999, Astari Rasjid.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Mozaik Kisah Perjalanan Gaghana - 07 Sep 2008 | 14:46 WIB
Jazz, Enak dan Nyaman buat Ngebut - 07 Sep 2008 | 14:37 WIB
'Selamatkan Dunia, Kurangi Makan Daging'   - 07 Sep 2008 | 14:33 WIB
Berlabuh di Kahyangan, Mencicipi Wisata Sumbawa - 07 Sep 2008 | 14:18 WIB
Wayne Rooney Kecanduan PlayStation - 07 Sep 2008 | 14:05 WIB
Setio Rahardjo Meninggal Dunia - 07 Sep 2008 | 14:01 WIB
Menu Istimewa Eros Djarot - 07 Sep 2008 | 13:45 WIB
Jangan Gula Sembarang Gula - 07 Sep 2008 | 13:34 WIB
Tiga Pekerja Indonesia Disiksa di Irak - 07 Sep 2008 | 13:18 WIB
Si Centil Amanda Seyfried - 07 Sep 2008 | 13:16 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data