Ilmuwan yang Berjiwa Dagang Lembah canggih itu ternyata dibangun oleh orang yang sederhana. Siapakah dia? |
STANFORD University, tahun 1930. Seorang profesor bernama Frederick Emmons Terman dari Department of Electrical Engineering sedang bermuram durja. Tampangnya kusut, sinar matanya redup. Ia prihatin melihat kenyataan bahwa banyak insinyur lulusan universitasnya terpaksa merantau ke Pantai Timur hanya untuk berburu kerja, khususnya di bidang rekayasa radio. Maklum, waktu itu lapangan kerja di Pantai Barat Amerika sangat terbatas. Lebih-lebih untuk jenis pekerjaan yang spesifik macam itu.
Namun, Terman bukan orang yang gampang putus asa. Keprihatinannya itu justru membuatnya bertekad membangun perusahaan berbasis teknologi radio sendiri dan berlokasi di sekitar kampus. Dan, ternyata usahanya tak sia-sia. Setidaknya, dia berhasil mendorong murid-muridnya untuk bekerja di perusahaan lokal dan memulai usaha sendiri, ketimbang pergi ke timur dan bekerja di perusahaan yang sudah mapan.
Salah satu keberhasilan Terman adalah mengajak dua orang mahasiswanya, William Hewlett dan David Packard, bekerja sama. (Kelak, dua orang mahasiswa ini berkongsi dan mendirikan perusahaan komputer Hewlett-Packard.) "Saya cuma mengerjakan beberapa hal kecil untuk membantu mereka memulai usaha," kata Terman mengenang masa-masa awal kerja sama mereka.
"Beberapa hal kecil" itu adalah proyek pembuatan apa yang disebut audio osilator—suatu alat yang mampu memancarkan sinyal dalam pelbagai frekuensi. Sayang, proyek itu terhadang masalah dana, sehingga dengan susah payah Terman terpaksa mencari dukungan. Berkat usaha Terman, mereka berhasil mendapatkan sumbangan dari Sperry Gyroscope sebesar US$ 1.000. "Kami membelanjakan US$ 500 untuk membeli material, dan US$ 500 sisanya merupakan gaji Packard," kata Terman.
Akhirnya, proyek itu berjalan dan mendapatkan pemesan. Order terbesar datang dari Walt Disney Productions. Perusahaan hiburan ini memakai osilator buatan Hewlett-Packard dalam film Fantasia. Sejak itu, nama Terman pun berkibar dan menarik perhatian banyak orang sebagai ilmuwan yang punya jiwa wirausaha (entrepreneur).
Terman lahir tepat pada pergantian abad. Pada usia 10 tahun, Terman sekeluarga pindah ke Stanford. Kaki gunung Santa Cruz merupakan taman bermainnya sehari-hari. Di kala senggang, ia berburu kelinci, menangkap kupu-kupu, kura-kura, dan sigung. Kadang-kadang, Terman kecil mengail ikan di Danau Felt dan belajar berenang di Danau Lagunita yang terletak di lingkungan kampus Stanford.
Sejak kecil, Terman sudah punya naluri bisnis. Pada waktu liburan, misalnya, ia mengumpulkan benalu di bukit, untuk kemudian dijualnya kepada para istri staf pengajar Stanford yang terkena duri beracun. Setelah beranjak dewasa, teman-temannya melihat Terman sebagai pribadi yang serius sekaligus sederhana: setelan jasnya konservatif, sepatunya butut, dan mobil yang dikendarainya selalu bekas pakai.
Toh pemerintah Amerika tak menyangsikan kemampuannya. Terman sempat ditugasi memimpin proyek pengembangan radar pemantau serangan udara di Harvard, yang membuatnya mendapat sejumlah dana dari pemerintah untuk meneruskan pelbagai riset di Stanford.
Sampai kemudian, pada 1950, muncul gagasan untuk membangun suatu kawasan industri di sekeliling Stanford, dengan tujuan mendekatkan pusat teknologi tinggi dengan universitas. Namun, masalah timbul karena universitas cuma punya modal tanah seluas lebih dari 8.000 hektare dan tidak sepeser pun uang untuk mewujudkannya.
Terman kembali menunjukkan naluri bisnisnya. Ia menyarankan agar universitas menyewakan ruang yang dimiliki melalui sistem leasing, dengan syarat hanya diberikan kepada perusahaan berbasis teknologi tinggi. Alasannya, perusahan penyewa itu kelak mungkin bisa bermanfaat bagi Stanford.
Sarannya bersambut. Pada 1951, perusahaan pertama, Varian Associates, sepakat menyewa ruang dan dua tahun kemudian memindahkan kantornya ke salah satu gedung di kawasan tersebut. Langkah Varian diikuti Eastman Kodak, General Electric, Preformed Line Products, Admiral Corporation, Shockley Transistor Laboratory of Beckman Instruments, Lockheed, Hewlett-Packard, yang segera menyusul mendirikan kantor dan pabrik. Perusahaan ini sekarang menjelma menjadi raksasa-raksasa di bidang teknologi informasi.
Sayang, Terman tak sempat menyaksikan itu semua. Ia tutup usia pada 1982. Namun, namanya tetap dikenang sebagai Bapak Lembah Silikon.
|