Berebut Rezeki Teknologi Informasi Dulu para penghuni lembah itu dilirik pun tidak. Sekarang mereka menjadi incaran para investor. |
DAVID Cowan sebetulnya orang yang biasa- biasa saja. Namun, ia punya julukan unik untuk perusahaan teknologi informasi Lembah Silikon yang sekarang sukses. Padahal, dulu ia tak dilirik sedikit pun oleh para pemodal ventura. Investor modal ventura San Fransisco ini menyebut perusahaan semacam itu sebagai "anti-portofolio".
Nah, salah satu "ratu" anti-portofolio Cowan adalah eBay, sebuah perusahaan lelang di internet yang belakangan naik daun di lantai bursa. eBay menjadi anti-portofolio bagi Cowan karena dulu ia sama sekali tak tertarik untuk menanam sedikit pun modal, hanya gara-gara awam soal internet. Akibatnya, "Saya terpaksa kehilangan satu peluang emas," ucap Cowan.
Namun, Cowan tak sendiri. Sebelum mendirikan Hummer Winblad Venture Partners, suatu perusahaan modal ventura yang tergolong sukses di San Francisco, John Hummer dan koleganya pernah mengunjungi satu perusahaan kecil di Kampus Stanford University. Perusahaan itu punya bisnis menghubungkan komputer, workstations, dan printer, dalam satu jaringan kerja lokal (LAN).
"Saat itu saya tak punya cukup waktu untuk melihatnya lebih serius," Hummer mengenang. "Belakangan, perusahaan menjadi Cisco System. Adakah yang lebih menyakitkan daripada kenyataan ini?"
Hummer memang layak kecewa. Cisco System sekarang menjadi salah satu raksasa penyedia solusi, baik perangkat keras maupun peranti lunak, jaringan komputer. Kekecewaannya makin bertambah besar ketika ia juga melewatkan Infoseek, mesin pencari dan portal internet, "Hanya karena saya dulu tak mengenalnya."
Hilangnya sejumlah kesempatan itu mungkin memang menyakitkan, tapi begitulah bisnis, menurut Hummer. "Namun, percayalah," ia menambahkan, "semua orang juga punya daftar yang sama panjang."
Salah satu yang dimaksud Hummer adalah John Mumford, mitra pelaksana (managing partner) dari perusahaan modal ventura Cosspoint Venture Partners di Woodside. Mumford masih ingat betul ketika suatu hari kedatangan tamu dari Starbucks yang bermaksud mencari modal awal, tapi ditolaknya hanya karena dianggapnya perusahaan itu tak punya konsep jelas.
Ternyata Mumford salah. Belakangan, Starbucks menjadi salah satu perusahaan peranti lunak yang mampu mencetak laba besar dan nilai sahamnya naik terus. GeoCities, perusahaan penyedia situs web yang belakangan dibeli Yahoo!, juga merupakan salah satu yang lepas dari tangan Mumford dan mitra-mitra bisnisnya.
"Semula, kami tidak yakin terhadap cara mereka mengumpulkan pendapatan. Bagaimana mereka akan meraih keuntungan?" Mumford beralasan. (GeoCities memang tak meraih keuntungan, tapi pembelinya, Yahoo!, meraup laba raksasa dalam bentuk saham untuk perusahaan tersebut).
Begitulah sekilas bagaimana nasib perusahaan teknologi di masa-masa awal berdiri. Mereka sama sekali tak dilirik sedikit pun oleh para penanam modal ventura di Lembah Silikon. Jangankan bersedia menyuntik modal, membuka proposal awal pun kadang enggan dilakukan para investor itu. Suatu langkah yang, ternyata, keliru besar.
Untunglah, visi para investor itu telah berubah total. Mereka kini justru berlomba-lomba menanamkan modalnya di sektor teknologi informasi. Yahoo!, Apple, Intel, juga perusahaan semacam lainnya, menjadi incaran pemodal. Tak mengherankan bila kompetisi dalam bisnis ventura pun makin ketat. Menurut catatan lembaga riset Price Waterhouse dan Venture Economics Boston, seperti dikutip majalah Fortune, secara kolektif perusahaan-perusahaan modal ventura itu telah menginvestasikan tak kurang dari US$ 5,9 miliar di sektor teknologi pada 1996, dan meningkat menjadi US$ 8,4 miliar pada 1997. Padahal, investasi pada 1993 hanya mencapai sekitar US$ 1,3 miliar.
Menurut jurnal Venture Economics, keuntungan tahunan rata-rata milik perusahaan modal ventura itu mencapai 48 persen pada 1995, 40 persen pada 1996, dan sekitar 36 persen pada 1997. Perolehan raksasa seperti ini, tentu saja, memancing masuknya lebih banyak dana—misalnya dari dana pensiun—yang ingin diinvestasikan dalam bentuk modal ventura. Juga, tentu saja, perhatian para visioner yang mampu mengintip horizon keuntungan di balik bisnis perusahaan teknologi informasi.
Di mana-mana, ada gula memang selalu berarti ada semut juga.
|