Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Selingan

Yang Serius, Bohemian, dan 'Funky'

Para jutawan Lembah Silikon memadukan absurditas dan realitas dalam gaya hidup.

PERKAWINAN akbar itu dilangsungkan di Lembah Silikon, suatu hari pada musim panas tahun yang lewat. Sebuah rumah peristirahatan tua di bilangan Woodside dihias seindah-indahnya, menjadi tempat pengantin bersanding. Makanan dan minuman tak putus mengalir sepanjang perjamuan, mengiringi upacara naik pengantin Matthew Sonsini dan Lisa Sobrato. Keduanya sama-sama rupawan, berdarah Italia, dan keturunan hartawan. Namun, bukan kemegahan perhelatan yang membuat pesta tersebut menjadi penting—para industriwan dan banyak orang ternama menyempatkan untuk hadir—melainkan nama tuan pesta yang tercetak di atas lembar-lembar kartu undangan.

Lisa Sobrato adalah putri pengusaha realestat ternama di kawasan itu. Adapun Matthew, siapa tak kenal Sonsini, nama keluarga yang disandang anak muda itu? Matthew adalah putra Larry Sonsini, bos Wilson Sonsini Goodrich & Rosati, firma hukum yang mewakili separuh perusahaan terbesar di seantero Lembah Silikon—Apple, Netscape, Cisco, hingga Stratacom, sekadar menyebut beberapa klien.

"Semua orang penting di Lembah Silikon hadir," ujar Wilfred Corrigan, salah satu anggota direksi LSI Logic, sebuah perusahaan semikonduktor. Di antaranya, Scott McNealy, salah satu bos Sun Microsystem, Don Valentine dari Sequoia Capital—pemodal ventura legendaris—serta Ken Oshman, pendiri Rolm, juga sebuah perusahaan modal ventura terkenal. Undangan pernikahan memang disebar ke berbagai kalangan atas: dari Bill Gates sampai entah siapa. Sebab, Sonsini bukan hanya kaya—jam bicaranya dihargai di atas US$ 400 per jam—tapi juga tersohor. Namanya adalah semacam jaminan mutu bagi setiap perusahaan besar di Lembah Silikon.

Larry Sonsini hanya salah satu dari manusia superkaya yang menghuni Lembah Silikon, sebuah kawasan 720 kilometer persegi di selatan Teluk San Francisco. Sonsini juga hanya salah satu representasi kaum profesional yang menemukan peruntungan dan kekayaan melalui "kapitalisme teknologi tinggi" di Lembah Silikon. Di situ, dalam sebuah komunitas "langka" tempat poros kehidupan berpusat pada teknologi informasi tingkat tinggi, lahirlah berbagai dimensi kehidupan yang absurd sekaligus riil.

Joe Kraus, 27 tahun, salah satu dari enam pendiri Excite, perusahaan mesin pencari di Internet—Excite sempat menjadi bintang Wall Street—punya kekayaan sebesar US$ 17 juta saat ia berusia 26 tahun. Untuk mengisi waktu, Kraus bermain band, menyanyikan lagu-lagu funk. Bagaimana menjelaskan anak-anak muda yang belum lama meninggalkan kampus dan menghasilkan jutaan dolar pada saat yang sama?

Dan, Kraus tidak sendirian. Modal ventura dan teknologi telah menghasilkan kekayaan melimpah. Ratusan, bahkan ribuan anak muda, mengadu untung dan menjadi kaya dalam arti sesungguhnya dalam percaturan industri informasi di Lembah Silikon. Tentu saja, peruntungan itu tidak jatuh dari langit. Mereka, anak-anak muda ini, adalah para alumni terbaik dari universitas yang rata-rata terbaik di negeri itu.

Tak mengherankan, Silikon juga menjadi semacam "besi berani" bagi anak-anak muda Asia terbaik yang belajar di berbagai universitas Amerika. Mereka bergabung di Lembah Silikon. Dan, dengan lewatnya tahun-tahun, mereka beralih dari kelas menengah Asia yang biasa-biasa saja menjadi jutawan muda Amerika. Vinod Dham, umpamanya, saban hari meluncur dalam BMW hijau zamrud terbaru—sesuatu yang nyaris tak terimpikan tatkala ia meninggalkan kampung halamannya di New Delhi Barat, India.

Dham bahkan mengakui: "Kehidupan di sini membuat hati saya tak lagi berdenyut terhadap Ibu Pertiwi, India."

Lembah Silikon memang pilihan untuk banyak profesional—lepas dari usia dan latar belakang. Di sana berpadu pula berbagai gaya hidup. Dari hartawan yang menghabiskan jutaan dolar untuk sebuah pesta nikah sampai para eksekutif lajang yang kaya-raya di bawah usia 30 tahun, tapi sering-sering tak menyimpan apa pun dalam lemari esnya—kecuali beberapa karton susu ultra dan keju dingin—seperti halnya Julie Herendeen. Dengan penghasilannya, Julie boleh dikata hidup dengan gaya bohemian, berpatungan kamar dengan seorang teman wanita.

Julie, "anak kampung" yang lahir dan dibesarkan di pedalaman Pennsylvania, menamatkan studinya di Berkeley. Ia mengambil studi Asia dan ekonomi, lalu memperdalam bisnis administrasi di Harvard. Eksekutif Netscape yang mahir berbahasa Jepang ini mengawali hari-harinya pada pukul 06.30 pagi dan pulang ke rumah pada pukul 22.00. Dalam seminggu, ia menghabiskan 65 jam kerja ditambah setengah hari pada hari Minggu.

Adalah Julie yang menangani peluncuran Netscape Navigator Personal Edition 2.0—sebuah program perangkat lunak baru dari Netscape. Untuk semua jerih payahnya, ia dibayar antara US$ 80.000 dan US$ 100.000 per bulan—menurut hitungan Fortune.

Toh Julie tidak menghabiskan waktu luang dengan belanja di mal-mal mewah atau berdansa di hotel berbintang pada akhir pekan. Paling-paling, ia mampir ke restoran Szechuan untuk menyantap masakan sapi kegemarannya. Sebab, di restoran sekalipun Julie seolah berada di tengah lingkungannya sendiri: para koki, alih-alih membicarakan Ron Perelman atau Madonna, justru bergosip tentang Steve Jobs (legenda hidup pendiri Apple Computer) atau para insinyur Intel yang namanya barangkali tidak beredar di luar Lembah Silikon.

Dalam dimensi tertentu, Lembah Silikon ibarat sebuah homecoming bagi para whiz kid. Di sana, kepintaran akan menemukan saluran di tangan seorang pemodal ventura yang hebat atau partner sepadan. Di sana pula sebuah ciptaan baru di dunia teknologi informasi bisa diterima, dikritik, sekaligus dihargai sepatutnya. Dengan cara ini, barangkali, kita relatif lebih mudah memahami kisah Joe Firmage, 28 tahun, seorang anak muda asal Salt Lake City, Utah, yang memiliki sebuah perusahaan konsultan computer USWeb—senilai US$ 2 miliar, seperti dilaporkan Time awal Februari lalu.

Sejak remaja, Firmage sangat mahir dalam matematika, ilmu-ilmu sains, dan selalu menjadi bintang kelas. Ia mendirikan perusahaannya yang pertama, Serious Corp. pada 1989, dan menjualnya ke Novell seharga US$ 24 juta empat tahun kemudian. Ia pindah ke Silicon Valley pada 1995 dan ikut mendirikan USWeb. Anak muda ini punya minat besar di bidang fisika dan astronomi, tapi mahir pula bicara film dan ide-ide periklanan: sebuah dunia yang boleh jadi terlalu serius—sekaligus indah, paling tidak untuk ukuran penghuni Lembah Silikon—untuk dibayangkan bagi seorang anak muda yang dapat berbelanja kesenangan apa saja dengan miliaran dolar di tangan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data