Nabi, Punk, dan Pahlawan Terlupakan Dia belum berhenti menjadi kuali tempat otak cemerlang, semangat besar, serta energi tak terbatas diaduk untuk mewujudkan penemuan-penemuan baru yang memukau imajinasi dunia: dari Apple hingga Intel, dari Hewlett-Packard hingga Xerox, dari Oracle hingga Sun Microsystems, dari Netscape hingga Yahoo!. |
Legenda, mitos, dan absurditas menyelimuti kebun buah-buahan yang belakangan berubah menjadi ladang microchip itu, dan menjadi taman internet. Manusia-manusia seperti apa yang menghuninya?
Bahan untuk tulisan ini diperoleh melalui riset berbagai media serta publikasi di internet. Ditulis kembali oleh Wicaksono, Hermien Y. Kleden, serta Farid Gaban.
Matahari belum muncul di pagi Natal musim salju yang meretas tulang. Tapi cuaca beku dan hari libur tidak mencegah orang tua beruban itu menggenjot sepeda statis di sebuah pusat kebugaran Palo Alto, California. Berumur 73 tahun, mengenakan baju denim, kakinya berselimutkan sepatu kanak-kanak.
"Saya mengenakan sepatu ini untuk menghormati Anda. Sepatu saya kotor dan talinya putus," kata Doug Engelbart, setengah tersenyum, kepada wartawati koran San Jose Mercury News yang mewawancarainya.
Tak ada—para pengendara Ferrari, peminat saham, ataupun eksekutif perusahaan—yang hirau dan mencoba memperhatikan orang tua itu berbicara kepada wartawan.
Di situ, di Lembah Silikon, sang penemu yang berjasa melahirkan revolusi komputer pribadi itu tidak banyak dikenal. Hanya pengoprek komputer paling serius yang sadar bahwa tanpa Douglas Engelbart, Lembah Silikon tidak akan pernah semakmur seperti sekarang: lahan pekerjaan yang melimpah, sedan mahal, dan rumah mewah yang dibangun dari emas silikon.
Inovasi teknologi Engelbart selama 30 tahun layak menempatkannya di urutan teratas dari deretan orang seperti Steve Jobs (Apple dan Pixar), Bill Gates (Microsoft), Marc Andreessen (Netscape), ataupun Andy Grove (Intel), yang dianggap berjasa mentransformasikan kehidupan lewat komputer, internet, dan World Wide Web. Produk-produk mereka adalah turunan langsung temuan Engelbart.
"Engelbart seperti Nabi Musa yang mendedah Laut Merah," kata seorang rekannya.
Sayang, "sang Nabi"—yang antara lain menemukan teknik komputasi berbasis "Windows", clurut (mouse), hyperlink (link yang bisa diklik dalam World Wide Web), bahkan e-mail dan komunikasi video—kini tersisih. Oleh kalangan pengusaha komputer yang mengeruk keuntungan miliaran dolar dari temuannya, Engelbart diperlakukan seperti orang murtad hampir sepanjang karirnya.
Engelbart menghabiskan waktu tahunan terasing dari revolusi yang ikut dia luncurkan. "Saya dibuang ke Siberia," katanya bergurau tentang bagaimana dia disingkirkan dari sebuah masyarakat riset.
Namun dia bertahan. Tetap tinggal di rumah sederhana yang dibelinya pada 1968, setiap pagi dia sarapan tepung sereal di meja komputernya, ritus yang dimulainya sejak Ballard, istrinya, meninggal beberapa tahun lalu.
Engelbart mungkin contoh paling dramatis dari kebiasaan Lembah Silikon melupakan para pahlawannya—orang-orang yang cemerlang otaknya, yang telah menumbuhkan banyak perusahaan, bahkan keseluruhan industri komputer. Para eksekutif tak pernah menyebut nama mereka. Dan meski setiap hari kita menggunakan produk mereka atau buah gagasan mereka, kita tak pernah mengenal nama mereka.
***
Meliputi kota-kota kecil seperti Palo Alto, Santa Clara, dan Mountain View, yang tergelar di Semenanjung San Francisco, Lembah Silikon telah tumbuh dari sekadar kawasan padat komputer menjadi negeri dongeng yang kian tak terjangkau.
Jantung Lembah Silikon adalah Universitas Stanford, yang memang berada di pusatnya. Di situlah, pada 1930-an, seorang profesor memimpikan agar para lulusannya tidak perlu pergi ke Pantai Timur Amerika untuk memburu pekerjaan. Dia merangsang para alumni dan koleganya menciptakan lapangan kerja sendiri.
William Hewlett dan David Packard memulainya dengan mendirikan Hewlett-Packard Company dari sebuah garasi sederhana pada 1939. Perusahaan-perusahaan lain menyusul. Dan Stanford Industrial Park, yang diproklamasikan pada 1950-an—mengaitkan kewiraswastaan pengusaha dan kejeniusan kampus—telah memacu lebih cepat lagi pertumbuhan industri komputer di situ.
Lembah yang menghadap Lautan Pasifik itu kini dipadati oleh tak kurang dari 2.000 perusahaan elektronik dan teknologi informasi, berikut jaringan jasa penunjang dan pemasok: komputer, semikonduktor, laser, serat optik, robotik, instrumentasi kedokteran, perekam magnetik, serta elektronik.
Revolusi komputer dipicu antara lain oleh perlombaan memampatkan sirkuit elektronik dalam sekeping silikon, yang pada 1968 memunculkan Intel Corp. dan belasan perusahan serupa. Dari situlah nama "Lembah Silikon" muncul pada 1971, menjadi abadi, dan memperkaya para pengusahanya.
***
Vern Raburn terlahir sebagai pengusaha. Ketika banyak teman sebayanya—yang berumur tujuh tahun—berjualan minuman, dia memilih membuat miniatur lapangan golf dan mengutip bayaran dari teman-temannya. Pada usinya yang 45 tahun kini, Raburn membuat perusahaan—banyak perusahaan.
Memulai usaha toko komputer di Los Angeles pada 1976, dia kemudian bergabung dengan Bill Gates dalam perusahaan baru yang kelak dikenal dengan nama Microsoft. Sering bertengkar dan menyatakan Microsoft terlalu sempit untuk mereka berdua, Raburn keluar. Dan pada 1982, dia ikut mendirikan Lotus Development, perusahaan software akuntansi yang sempat populer kala itu, sebelum menjadi kaya-raya setelah mengambil alih Symantec, penghasil paket program komputer grafis.
Kini dia memimpin Paul Allen Group, sebuah perusahaan induk yang membawahkan 21 perusahaan hi-tech, yang seluruh atau sebagian sahamnya dia miliki. Tiga hal menjadi sasaran pemujaannya: istrinya (Dottie), teknologi, dan pesawat. Vern sang miliuner menyimpan lima koleksi pesawat tua—salah satu favoritnya: Lockheed Constellation, buatan Perang Dunia II.
****
Era internet melontarkan Lembah Silikon ke ujung dongeng yang lebih jauh. Hampir setiap hari muncul perusahaan baru—dan miliuner-miliuner baru. Perusahaan modal ventura serta para pemburu talenta berebut anak-anak muda jenius—tak hanya dengan gaji besar, tapi juga opsi saham.
Uang, lebih dari sekadar kepuasan menemukan inovasi, kini menjadi raja besar yang kian berkuasa. Tak mengherankan. Saham perusahaan-perusahaan baru yang berbasis internet terus meroket di Wall Street. Sebutlah nama seperti Amazon.Com, eBay, Excite, DoubleClick, dan Yahoo!, yang harga sahamnya seperti tak pernah mengenal gaya gravitasi bumi.
William Marbach, Redaktur Pelaksana Majalah Venture Finance, memperkirakan bahwa perusahaan modal ventura memompakan total US$ 581 juta ke dalam perusahaan baru software internet pada 1998, lima kali lipat lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Perusahaan sekuritas besar seperti Lehman Brothers dan Morgan Stanley pun tak bisa mengabaikan suara gemerincing dolar yang muncul dari masuk bursanya
perusahaan-perusahaan baru itu.
***
Terbang di ketinggian 30 ribu kaki di dalam pesawat American Airlines—yang membawanya ulang-alik antara San Francisco dan New York—adalah sedikit waktu yang tersisa bagi Mary Meeker untuk tidur. Memilih kelas bisnis, dia akan menutup seluruh kepalanya dengan selimut, dan ngorok.
Meski tinggal di apartemen Manhattan, New York, Meeker harus banyak berkunjung ke San Francisco karena tugasnya sebagai analis sekuritas Morgan Stanley untuk perusahaan-perusahaan baru yang mekar di Lembah Silikon.
Telah lama menjadi pencinta komputer—dia membeli PC-nya yang pertama pada 1982—Meeker merasa bersyukur bisa mengambil jarak dari industri yang diikutinya. "Jika terlalu dekat, kita tak bisa melihat mana yang nyata dan mana impian," katanya.
Meeker, 35 tahun, adalah analis untuk saham-saham teknologi. Tahun lalu, Morgan Stanley membantu lima perusahaan—America Online, Ascend Communications, Cascade Communications, Cisco System, dan Intuit—untuk meraup dolar dari lantai bursa melalui Initial Public Offering (IPO) dan penawaran sekunder.
Tahun sebelumnya, Meeker membantu Morgan Stanley menyelenggarakan IPO untuk Netscape—sebuah peristiwa bersejarah yang kemudian memicu internet-mania di Wall Street. Tahun lalu, dia menerbitkan bukunya, The Internet Report, yang terjual 17.500 kopi terutama karena ulasannya yang lucu terhadap dunia saham internet.
Kesibukan menggerogoti waktu luangnya, yang dulu sering dia pakai untuk bersepeda, ber-skating, atau berkubang di rumahnya yang bergaya country di Long Island, New York. Toh, rumah kini kian relatif buatnya. "Terminal American Airlines di Bandar Udara San Francisco adalah rumah saya yang lain," katanya.
***
Modal saja tidak cukup. Banyak perusahaan baru haus akan talenta. Stanford, Berkeley, Santa Clara, dan universitas-universitas lain di California kian kewalahan memuaskan kehausan Lembah Silikon akan darah-darah muda jenius. Bahkan lulusan SMA kini ikut menjadi sasaran incaran pemburu talenta, yang memerlukan ladang perburuan lebih luas, termasuk di luar California.
Kisah seorang Pete Davis mungkin agak ekstrem. Dia menerima tawaran pekerjaan baru hampir beberapa pekan sekali. Para perekrut menelepon atau mengiriminya e-mail. Mereka menawari opsi saham dan kenaikan gaji. Davis menolaknya—sopan tapi tegas—karena merasa puas bekerja dengan gaji besar sebagai ahli sistem jaringan senior di sebuah perusahaan penyedia internet di Massachusetts. Tapi tawaran terus berdatangan: 15 kali dalam tiga tahun sejak dia bekerja di perusahaan itu. Ini tidak luar biasa—kecuali bahwa usianya baru 18 tahun.
Dalam perusahaan software dan internet, talenta sangat penting. Talenta adalah perusahaan itu sendiri. Hanya dengan mereka, sebuah perusahaan mampu menarik minat pemodal ventura ataupun perusahaan sekuritas yang bisa memandu mereka terjun ke Wall Street. "Tanpa modal intelektual, sebuah perusahaan tak punya nilai apa-apa," kata Dick Shaffer, pemilik Technology Partners, sebuah perusahaan pemburu talenta.
"Inilah peluang untuk meraup hasil besar, impian untuk menyimpan sedan Ferrari merah dalam garasi," kata Shaffer, "Jika Anda menyukai pekerjaan aneh itu selama belasan jam sehari, bersedia untuk mengorbankan waktu kencan atau waktu bertemu anak-istri, dan bersedia menghancurkan perkawinan, Anda punya peluang besar untuk kaya."
Para pemburu talenta sering kali tidak kalah kaya pula.
***
"Pekerjaan saya adalah menyelami pikiran sehingga tahu motivasi seseorang, apa yang dia takuti, apa yang paling disukainya, dan apa yang dibencinya." David Beirne bukan psikiater. Berusia 32 tahun, dia adalah sang pemburu (headhunter), khususnya untuk perusahaan teknologi, dan salah satu yang terbaik dalam bidangnya.
Adalah Beirne yang membawa Jim Barksdale dari McCaw Cellular ke Netscape. Dia pula yang pada 1993 membajak Robert Herbold, pemimpin Procter&Gamble, untuk Microsoft.
Dengan klien seperti Bill Gates, Craig McCaw, dan Steeve Case, Beirne berpenghasilan US$ 10 juta. Dia mengutip komisi sepertiga dari gaji tahunan kotor (termasuk bonus) para eksekutif yang dibajaknya—jika perusahaan baru membayar mereka lebih mahal dari perusahaan sebelumnya. Itu sebuah penghasilan sangat besar bagi Beirne untuk membeli Chevy Blazer serta kehidupan yang tenang bersama istrinya, Terry, dan dua anaknya.
***
Tapi uang adalah sebagian cerita. Lembah Silikon tidak sepi pula dengan pikiran visioner dan idealistis. Engelbart yang terlupakan hanya salah satu. Mike Markulla dari Apple Corp. adalah seorang "diehard" lain. Dialah yang membuat rencana bisnis Apple pertama kali serta memberi Steve Jobs dan Steve Wozniak US$ 50 ribu sebagai awal untuk membuat komputer Macintosh pertama. Baik Jobs maupun Markulla didorong oleh gagasan besar demokratisasi teknologi: setiap komputer di atas meja setiap rumah.
Gagasan itu menjadi kenyataan kini, meski Apple hanya menguasai sebagian kecil pasar komputer pribadi. Pada usia 54 tahun, dia belum berhenti risau bagaimana menyelamatkan Apple dan Macintosh dari serbuan pasar Microsoft.
Petualangan mungkin adalah alasan lain yang melumasi Lembah Silikon. Seseorang berpindah dari perusahaan besar ke perusahaan baru, misalnya, semata karena adrenalin yang meluap, bukan sekadar karena uang atau visi besar.
***
Ruth Hennigar adalah punk sejati dari lubuk hatinya. Ketika dia memulai karir pada 1981 sebagai programmer di Bell Northern Research, inilah penampilan standarnya: lipstik hitam, cat kuku putih, dan rambut ungu. Enam tahun kemudian, ketika bekerja untuk Apple Computer, dia mengecat rambutnya dengan warna logo perusahaan itu.
Kini, dalam usia 36 tahun, Hennigar lebih suka mengenakan rambut pirang yang alami. "Tidak banyak waktu untuk memelihara rambut agar tetap ungu," katanya. Dan itu memang lebih cocok dengan pekerjaan Hennigar sekarang. Di Sun Microsystems, dia menjadi manajer yang membawahkan 75 anggota Java Product Group—kelompok yang membuat bahasa program paling hot sekarang: Java. Namun, Mei tahun lalu, dia pindah ke OnLive! Technology, sebuah perusahaan baru.
Dari perusahaan beromzet US$ 6 miliar setahun dengan 15 ribu karyawan, Hennigar hijrah ke perusahaan kecil berisi 40 karyawan, dengan masa depan yang meragukan? OnLive! berambisi menyempurnakan chat room yang populer di internet, wilayah yang kini juga digarap oleh raksasa besar seperti Microsoft dan America Online.
Hennigar tak takut—atau tidak peduli. Jika datang saat sulit, dia punya cara manjur untuk menghilangkan stres: ngebut dengan ski, motor pinjaman, atau sedan Porsche 911 miliknya sendiri. "Saya suka kecepatan tinggi," katanya.
***
Uang. Gila kerja. Persaingan. Visi besar. Adrenalin. Semuanya berjasa (atau berdosa?) menjadikan Lembah Silikon sebuah dunia yang berpusing cepat, senantiasa berdenyut. Sebuah dunia yang—mengutip penyair Meksiko, Octavio Paz—menolak kata mati dalam kamusnya.
|