Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Pokok dan Tokoh

Kue Ivanna Lie

Ivanna Lie, yang lama membujang, akhirnya "jatuh di kaki lelaki". Adalah Leroy Osmani, pemimpin produksi PT Jatayu Film, yang berhasil menggedor relung hati mantan pemain bulu tangkis yang kini 39 tahun itu. Ivanna bisa "dirayu" dan mau main untuk film Sahabatku—film yang sekarang menunggu pembeli agar bisa segera ditayangkan di televisi.

Dalam film berdurasi enam episode yang diangkat dari iklan layanan masyarakat tentang persahabatan si Acong, Joko, dan Sitorus itu, Ivanna kebagian peran sebagai Mama Lie, ibu si Acong, yang harus menghidupi keluarga dengan berjualan kue. "Kisah itu mirip masa lalu saya. Kalau tidak karena itu, saya tak mau bermain film," kata pebulu tangkis berkulit putih yang mengantar Indonesia menuju Piala Uber 1986 itu.

Sejak berusia 8 tahun, anak kedelapan dari sembilan bersaudara yang lahir dari keluarga sederhana itu membantu ibunya mengepulkan asap dapur dengan berjualan kue. Sang ibu yang memasak, sementara Ivanna menjajakannya di depan rumah atau menawarkannya kepada tetangga yang berminat. Pengalaman itu toh tak cukup menjadi bekal bagi Ivanna untuk memerankan Mama Lie. Hingga dua hari menjelang syuting, ia mengaku senewen, tak bisa tidur. Untuk melancarkan aktingnya, Ivanna sampai perlu berakting di depan cermin. Jelas ia lebih merasa stres ketimbang menghadapi pertandingan bulu tangkis. Atlet yang meninggalkan pelatnas pada 1987 itu rupanya sadar bahwa akting, seperti bermain bulu tangkis, tak boleh kaku.

Tapi ada yang berbeda. Sebagai atlet, Ivanna tak mengenal kamus terlambat, karena risikonya besar dan bisa-bisa terancam kalah walkout, sewaktu bertanding. Sedangkan di sinetron, datang tak tepat waktu itu menjadi suatu hal yang wajar. Pengambilan gambar kerap dibatalkan gara-gara ada pemain yang tak hadir. Meskipun begitu, sinetron banyak memberinya pelajaran. "Saya jadi lebih sabar," kata pemilik pabrik pakaian dan kampus bulu tangkis Elvana di Bandung itu.

Dunia panggung toh tak mampu memikat bekas juara Indonesia ini. Hatinya sudah bulat ia serahkan kepada bulu tangkis. Ia akan terus melatih anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun di klubnya di Bandung. Dari sini, Ivanna berharap bisa melahirkan pebulu tangkis andal yang akan membela nama Indonesia—negeri yang pemerintahnya baru memberinya status WNI di saat usianya 22 tahun, walau sekian banyak medali emas telah disumbangkannya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data