Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Nasional

"Abdurrahman Wahid Harus Diperiksa"

Kerap dituduh sebagai provokator, Mayjen Kivlan Zein berbicara soal Ambon, Pam Swakarsa, dan Prabowo Subianto.

Mayor Jenderal Kivlan Zein kenyang dituduh sebagai provokator. Sekali waktu, Gus Dur menyebut "Mayjen K" sebagai provokator kerusuhan Ambon, dan orang menoleh ke Kivlan. Sebelumnya, Kivlan juga dihubungkan dengan pasukan swasta Pam Swakarsa. Koordinator Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Darat (Korsahli KSAD) ini juga dikenal dekat dengan Letjen (Purn.) Prabowo Subianto—satu poin yang membuatnya kian sering dituduh macam-macam. Dalam kasus Ambon, lulusan Akademi ABRI tahun 1971 itu sempat mendatangi Gus Dur di rumahnya di Ciganjur untuk minta penjelasan.

Dilahirkan di Langsa, Aceh, 24 Desember 1946, Kivlan Zen lahir dari keluarga pedagang sederhana. Hidup yang keras dilaluinya saat ia bersekolah di SMP hingga masuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara. Ia harus nyambi menarik becak guna tambahan biaya sekolah. Di tahun ketiga masa kuliah, ia memutuskan masuk Akabri.

Di sini Kivlan memperoleh kenaikan pangkat luar biasa, misalnya saat bisa menangkap 32 gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Irianjaya pada 1974 dan 1977, dan juga di Timor Timur. Ia menerima medali khusus dari Presiden Fidel Ramos karena berhasil membujuk Nur Misuari menyelesaikan konflik Moro di Filipina Selatan.

Lalu, bagaimana pandangannya soal Ambon dan Prabowo? Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) ini berbicara blakblakan kepada Darmawan Sepriyossa, Mardiyah Chamim, dan Karaniya Dharmasaputra dari TEMPO. Petikannya:



Apa sebenarnya penyebab persoalan Ambon?

Yang paling dominan itu adalah kecemburuan sosial. Mungkin juga masalah ekonomi. Tapi ada juga faktor-faktor religi, kelompok agama terhadap agama yang lain. Kalau tak ada masalah agama, tak akan ada pembakaran masjid dan gereja.



Mengapa baru sekarang terjadi?

Kita bisa melihat keterkaitannya. Pertama, anggota Pam Swakarsa yang dibunuh di Cawang Atas itu orang Ambon Islam. Semua itu orang Ambon. Lalu muncul Ketapang, lalu meledak Kupang, terus Ambon. Jadi, sepertinya ada benang merah dari yang di Cawang, yaitu umat Islam yang terbunuh, kemudian dibalas di Ketapang, lalu ada balas dendam di Kupang, lalu meledak di Ambon.



Mengapa yang dipilih Kupang dan Ambon?

Dulu, ketika G30S/PKI, pasukan dari pusat ini ke daerah, diabdikan untuk konfrontasi Malaysia. Akhirnya, terjadi kekosongan di Pulau Jawa. Jadi, modusnya kelihatan seperti ketika terjadi konfrontasi Malaysia. Kalau diledakkan kerusuhan di Jakarta, susah mengendalikannya, maka akhirnya bisa mendesak pemerintahan Habibie. Akhirnya, orang akan setuju dengan pemerintahan transisi. Itu arahnya.



Benarkah ada agen asing yang bermain pada kasus Ambon?

Ya, dengan tertangkapnya orang-orang eks RMS (Republik Maluku Serlatan), dan tulisan, coretan, yang ada dalam kejadian itu. Ya, kalau Panglima ABRI sudah mengatakan ada pihak asing, maka benar. Sebab, memang ada yang dideportasi, yang dari Belanda dan memberikan bantuan.



Mengapa tidak menyatakan dengan tegas, tunjuk hidung siapa, agen mana?

Kalau kita tunjuk hidung, ya, hubungan bilateral kita bisa rusak dengan itu.



Berapa yang dideportasi?

Kira-kira delapan orang. Tapi saya bukan lembaga resmi ABRI, enggak bisa ngomong soal itu.



Bagaimana tudingan Gus Dur tentang Mayjen K?

Abdurrahman itu di media bilang Brigjen K. Terus bereaksilah Brigjen Rustam Kastor. Saya sudah langsung waspada karena bawaan Gus Dur ini, ya, bukan mencla-mencle, tapi misalnya waktu peristiwa Tasikmalaya, dia menuduh Humaika. Padahal, yang dia maksud Humanika yang di bawah Egi Sudjana. Waktu peristiwa santet, dia nuduh AS. Dikira masyarakat, itu Adi Sasono, yang pernah disebutnya waktu peristiwa Tasikmalaya. Adi tenang saja. Dia enggak peduli. Lalu itu berubah jadi ES, yang dikira Egi Sudjana. Makanya, waktu ia menyatakan Brigjen K dalam kasus Ambon, saya sudah siap.



Bagaimana dengan tudingan Anda berada di belakang Pam Swakarsa?

Pam Swakarsa, yang ikut mengamankan Sidang Istimewa MPR, tentu pro-sidang. Lalu saya dikatakan media ada di tengah massa, bukan di tengah Pam Swakarsa. Artinya, harusnya saya setuju massa yang anti-SI. Tapi kenapa saya dituduh Pam Swakarsa? Atas dasar itu, saya dianggap memimpin Pam Swakarsa. Karena itu, saya dihujat Gus Dur. Saya dianggap membuat rekayasa foto mereka yang terbunuh di Cawang itu. Saya dibilang yang menyebar-nyebarkan foto itu di Ambon, sehingga masyarakat Islam Ambon marah. Padahal yang diserang pertama justru orang Islam. Di mana logikanya?



Anda punya foto itu?

Saya tak punya foto itu, meskipun saya pernah lihat. Nah, saya lihat di tabloid, Des Alwi menyatakan bahwa yang dimaksud Gus Dur itu adalah Kivlan. Di situ saya mulai (marah).



Anda terganggu dengan tudingan Gus Dur itu?

Anak saya yang SMA di Malang diejek di sekolahnya, "Wah, anak provokator." Anak saya terteror. Belum lagi telepon ke keluarga saya. Saya harus membela diri. Makanya saya ketemu Gus Dur.



Apa yang Anda katakan kepada Gus Dur saat itu?

Saya enggak panggil dia Gus Dur, saya panggil Pak Abdurrahman, supaya posisinya sama. Saya tanyakan soal tuduhan itu. Saya bilang, "Kalau saya yang dimaksud, Bapak saya tuntut ke pengadilan. Tapi, kalau (maksudnya) bukan, ya enggak apa-apa." Di depan wartawan, dia bilang bukan saya yang dimaksud. Karena dia omong bukan lagi, bukan lagi, ya saya jawab nyeletuk, "Itu mayjen kira-kira." Rupanya Gus Dur tersinggung. Dan dia bilang, "Mayjen kunyuk, mayjen monyet kecil."



Anda siap kalau dipanggil ke Pusat Polisi Militer (Puspom) untuk dipertemukan dengan Gus Dur?

Kalau ia menyatakan itu saya, ia yang harus diperiksa. Abdurrahman Wahid itu harus diperiksa karena dia yang pertama melansir tuduhan itu. Terus terang, saya siap. Saya tak pernah ke Ambon, kecuali satu kali bersama rombongan KSAD. Ada orang mengaku nama saya, pergi ke Ternate, memberi tahu Raja Ternate bahwa saya memanas-manasi supaya seluruh Maluku panas. Dia ngaku nama saya. Dan ciri-ciri orang itu dikatakan rambutnya cepak. Wong saya ini "agus", agak gundul sedikit.



Bagaimana hubungan Anda dengan Prabowo?

Saya ini dua tahun di atas Prabowo. Saat dia masih junior, saya di tingkat tiga. Pada masa tarunanya, saya yang membinanya. Di sana itu ada istilah pengasuh, untuk adik kelas. Sampai waktu dia danyon (komandan batalyon) Kostrad, saya juga danyon Kostrad. Akhirnya, dia jadi Pangkostrad, saya kepala stafnya. Bagaimana enggak dekat? Saya dukung apa yang diperintahkannya.



Kalau dikatakan Prabowo ini sumber kekacauan, bagaimana?

Tidak. Kasus penculikan? Di dalam pengadilan dikatakan itu inisiatif Tim Mawar sendiri karena ada perintah pengamanan sidang umum.



Kalau menurut temuan DKP, ada keterkaitan antara tim itu dan komandannya….

Bukan keterkaitan, tapi bertanggung jawab. Sebagai seorang komandan, apa yang dilakukan dan tidak dilakukan anak buahnya menjadi tanggung jawabnya.



Atas inisiatif sendiri?

Bisa terjadi, karena perintahnya mengamankan SU. Yang di bawah mengamankan, caranya ini, ini, ini, bisa terjadi. Waktu itu orang takut dengan pengeboman di Tanahtinggi. Dan orang menduga ada rencana pengeboman lain. Setelah (aktivis) ditangkap, maka pemilu aman, SU aman. Mereka yang tadinya mau menggagalkan SU juga langsung berhenti.



Jadi, operasi ini sukses?

Sukses. Buktinya, pemilu aman. Tapi Prabowo, karena apa yang dilakukan dan tak dilakukan anak buahnya menjadi tanggung jawabnya, juga ikut kena. DKP itu menyatakan ia sebagai orang yang bertanggung jawab. Dan ia akan pulang (dari Amman).



Soal peristiwa 21 Mei 1998?

Waktu itu tanggal 21 Mei. Pak Harto sudah menyatakan lengser. Prabowo mau menghadap Pak Habibie jam 8 malam untuk memberikan saran-saran. Itu sudah jadi rahasia umum. Itu karena kedekatan beliau. Tadinya keduanya dekat, sangat dekat, seperti anak dengan bapak. Mereka sering tukar pikiran berdua. Nah, kedatangan (ke Istana) itu untuk menyarankan pemisahan Menteri Pertahanan Kemanan dan Panglima ABRI. Prabowo menyarankan supaya Pak Bagyo (kini KSAD—Red.) menjabat Pangab dan Menhankamnya Wiranto. Prabowo tidak jadi diterima jam 8, tapi diterima jam 11 malam tanggal 21 Mei. Itu belum diputuskan juga. Nah, saya ditugasi Pak Prabowo untuk membawa surat Pak Nasution. Saya juga membawa surat dukungan 320 ulama Ja-Tim buat Habibie. Kebanyakan dari mereka ulama NU.



Apa isi surat itu?

Isi surat Pak Nas adalah soal pemisahan Menhankam dan Pangab. Perintah ini diberikan Pak Prabowo jam 1 dini hari tanggal 22 Mei. Saya bawa ke Pak Habibie tanggal 22 Mei sekitar jam 7 pagi. Saya bawa ke sana sendiri. Tahu-tahu (Komandan Jenderal Kopassus saat itu) Muchdi sudah ada di sana. Ya, sama-sama mau menghadap. Surat itu saya serahkan kepada ajudan, dan saya menunggu untuk menghadap.



Kabarnya, Anda diusir Sintong Panjaitan?

Ia bertanya, "Mau apa kau?" Saya jawab, mau menghadap Pak Habibie untuk menyampaikan surat ulama. Dia katakan, ya sudah, nanti say hello saja, congratulation saja karena Pak Habibie jadi presiden. Saya jawab, "Ya, Pak." Dia bilang, "Sudahlah, cukup saya yang menyampaikan." Kemudian, karena Pak Wiranto datang, saya rasa situasi sudah tidak pas. Karena itu, saya segera pulang. Pak Wiranto langsung ketemu Presiden. Saya segera pulang karena surat toh sudah sampai. Kemudian, waktu kita berangkat, Pak Muchdi dikawal satu Land Rover. Saya hanya dengan satu sedan, dengan pakaian PDA, tanpa pistol. Prabowo waktu malam datang dengan dikawal dua Land Rover. Ya, itu biasa. Sebagai pengawalan, itu biasa dalam situasi seperti itu.



Jadi, bukan usaha kudeta?

Enggak logis, enggak. Mana bisa disebut kudeta? Prabowo datang hanya dengan Land Rover dikawal 20 anak buahnya. Itu biasa saja, bukan kekuatan untuk kudeta.



Kalau Prabowo punya argumentasi yang kuat, kenapa tidak dari dulu-dulu dia membeberkan semuanya?

April nanti, dia akan pulang. Dia menghormati Wiranto. Selama belum ada perintah, ya ngapain (dia pulang). Lagi pula, dia sedang mengembangkan usaha bisnisnya.




 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data