Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Luar Negeri

'Impeachment' ala Rusia

Boris Yeltsin terancam impeachment kelompok Komunis. Skandal seks Jaksa Agung Yuri Skuratov dianggap memungkinkan kembalinya si Beruang Merah berkuasa di Rusia.

Sang Presiden tengah gering. Kelompok Komunis Rusia di Majelis Rendah (Duma) tampaknya tak peduli sang Presiden Boris Yeltsin sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit. Mereka juga tampak tak hirau dengan krisis ekonomi Rusia yang tak kunjung sembuh. Mereka yang menguasai mayoritas 135 kursi dari 450 kursi di Duma terus menggoyang kursi Yeltsin yang ringkih. Setelah berkali-kali berusaha menjatuhkan Yeltsin, kelompok Komunis kini menyiapkan jurus impeachment terhadap Yeltsin.

Tuduhan terhadap Yeltsin yang dilontarkan pada persidangan Majelis Rendah Selasa pekan lalu adalah Yeltsin secara ilegal mengerahkan kekuatan militer untuk menumpas kelompok separatis Chechnya pada 1994-1996, Yeltsin secara ilegal mengerahkan pasukan dan tank untuk menyingkirkan kelompok oposisi Komunis di parlemen pada 1993, Yeltsin menghancurkan Uni Soviet pada 1991, Yeltsin membawa kejatuhan militer Rusia, dan Yeltsin menyebabkan kebangkrutan ekonomi Rusia. Lima tuduhan itulah yang akan diperdebatkan pada pertengahan April mendatang.

Menurut Gennady Zyugonov, pemimpin Partai Komunis Rusia, debat impeachment itu akan berlangsung selama dua pekan. "Saya yakin akhirnya beberapa dari lima tuduhan impeachment itu akan diterima dua pertiga dari mayoritas di Duma," ujar Zyugonov.

Tapi para pendukung Yeltsin tak terlalu khawatir dengan upaya kelompok Komunis itu. Pertama, pemilu masih akan berlangsung pada pertengahan tahun 2000 nanti. Kedua, prosedur impeachment, menurut pendukung Yeltsin, butuh waktu lama. "Jangan pernah berpikir masalah ini bisa diselesaikan dalam semalam," ujar Vladimir Lukin, dari kelompok liberal. Majelis Rendah harus membuktikan kelima tuduhan itu dengan mengumpulkan dua pertiga suara mayoritas yang sudah dirancang oleh kelompok garis keras dan Komunis. Pada tahap ini, bisa saja Majelis Rendah meloloskan mosi impeachment, karena kelompok Komunis dan garis keras penentang Yeltsin merupakan mayoritas. Tapi mosi impeachment itu tampaknya akan menghadapi rintangan pada proses impeachment di tingkat Majelis Tinggi Parlemen Rusia dan Mahkamah Konstitusi. Kedua lembaga tersebut lebih bersahabat dengan Yeltsin.

Berdasarkan konstitusi yang disusun Yeltsin pada 1993, presiden bisa dipecat atau diberhentikan setelah melalui mosi di Majelis Rendah. Presiden tak bisa membubarkan Majelis Rendah setelah proses impeachment berlangsung. Namun, konstitusi tak memberi landasan yang jelas agar bisa memberhentikan presiden. Dalam konstitusi hanya disebutkan bahwa impeachment bisa dilakukan jika presiden melakukan kejahatan dan tak disebutkan isi jenis kejahatan itu.

Kelompok Komunis sebenarnya sudah pernah mengajukan mosi impeachment tahun lalu dengan tuduhan yang sama. Bahkan parlemen menghadirkan kesaksian bekas Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, Presiden Ukraina Leonid Kravchuk, dan Presiden Belarus Stanilav Shushkevich yang menandatangani persetujuan pembubaran Uni Soviet. Tapi Majelis Rendah gagal mencapai kesepakatan dan beberapa anggota parlemen bahkan menyatakan sulit membuktikan semua tuduhan itu terhadap Yeltsin.

Aliansi kelompok Komunis dan garis keras memang terus berusaha menjatuhkan Yeltsin dengan berbagai cara sejak Yeltsin berkuasa pada 1991. Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan menolak calon perdana menteri yang disodorkan Yeltsin. Celakanya, Yeltsin acap kali mencopot perdana menterinya karena gagal memperbaiki ekonomi Rusia yang porak-poranda sejak keruntuhan Uni Soviet. Maklum, Rusia terbelit utang sebesar US$ 140 miliar, termasuk utang warisan rezim komunis Uni Soviet. Nafsu kelompok Komunis dan garis keras untuk menyingkirkan Yeltsin semakin menjadi ketika Yeltsin sering jatuh sakit dan peringkat popularitasnya terus merosot. Yeltsin memang mengidap pneumonia sejak 1997. Kesehatannya yang tak stabil membuat Yeltsin sering mangkir berkantor di Kremlin. Rabu pekan lalu kepemimpinan Yeltsin kembali diguncang skandal seks Jaksa Agung Yuri Skuratov. Televisi Rusia menayangkan adegan syur Skuratov dengan dua perempuan yang diidentifikasi sebagai pekerja seks. Media massa Rusia mengulas bahwa skandal Skuratov mencerminkan meningkatnya krisis politik di Rusia. Bisa jadi dalam kondisi ini kelompok Komunis kali ini berhasil meloloskan impeachment sebelum kekuasaan Yeltsin berakhir pada tahun 2000 nanti. Tapi belum tentu warga Rusia kembali menjelma menjadi Beruang Merah.

R. Fadjri
(bahan: Associated Press, Reuters)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data