Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Laporan Khusus

"Rumah itu Saya Beli dari Hasil Bisnis"

Probosutedjo, 69 tahun, tetap saja berpenampilan khas: peci hitam dan jas kerah santai tanpa dasi. Raut mukanya tampak cerah. Toh, bos kelompok bisnis Mercu Buana ini sempat terkesiap ketika koran Inggris, The Independent, Selasa pekan silam, memberitakan sepak terjangnya: menjual sebuah rumah mentereng di Putney Hill, London, seharga 1,4 juta poundsterling. Ia pun lalu dikait-kaitkan dengan Keluarga Cendana, yang kebetulan juga sibuk melego propertinya di sana.

Kenapa Probo mesti melepas aset pribadi yang dibelinya puluhan tahun lalu itu? Di Gedung Kedaung, di kawasan Menteng, Jakarta, saat ditemui Ahmad Fuadi dari TEMPO, Jumat pekan lalu, bekas guru Taman Siswa ini menegaskan bahwa rumah itu hasil jerih payahnya sendiri dan sudah dua tahun lebih hendak dijual tapi belum ketemu harga yang cocok. Ihwal harta putra-putri Soeharto, Probo mengaku tak tahu-menahu. Berikut ini petikannya.



Bagaimana kisah properti Anda di Inggris?

Itu kan rumah di Putney Hill, London, yang sudah lama saya miliki, barangkali sudah 25 tahun. Saya beli dari hasil bisnis. Saya kan punya industri, Kedaung, yang sampai sekarang juga masih bagus. Saya juga punya properti dan real estate yang sangat membawa untung. Jadi, saya membeli rumah di London untuk menyekolahkan anak-anak dan menampung mahasiswa-mahasiswa yang saya sekolahkan ke sana. Jumlahnya ada 30-an mahasiswa. Bahkan juga wartawan, kalau ke sana (Inggris), nginap di rumah saya. Ketika saya mengawinkan anak, saya bikin pertemuan di sana dan orang KBRI saya undang dan tahu semua. Jadi, terbuka, semua orang boleh tahu. Kok, sekarang menjadi masalah?


Dari mana rumah itu Anda beli?

Rumah itu sudah lama dibeli dari orang Inggris yang sudah tua, bukan orang Belanda seperti di koran. Belakangan dia berminat membeli lagi dan menawar sampai 1,25 juta poundsterling, padahal dulu saya beli hanya 90 ribu poundsterling. Sekarang kok dikait-kaitkan seakan-akan hasil kolusi dan nepotisme dengan Pak Harto? Di mana hubungannya? Saya itu dagang tidak pernah mendapat fasilitas. Tidak pernah korupsi. Apa yang akan saya korup? Pengamat ekonomi seperti itu kan menghasut.


Tapi betul akan dijual?

Iya. Rencananya, kami ingin mengetahui harganya sebenarnya berapa. Tapi, kalau ada yang mau membeli sampai 1,4 juta pound, biar saja saya jual. Anak saya sudah selesai sekolahnya. Tapi belum ada yang cocok. Yang jaga di sana itu bukan pelayan, tapi orang KBRI, staf lokal. Namanya Hamim. Anaknya disekolahkan di sana tak bayar dan sudah jadi sarjana. Istri yang jaga itu sakit parah. Saya mau menjual rumah ini juga tidak sampai hati. Susah, karena harus ngusir (orang) sakit. Saya tidak sampai hati.


Anda bisa membelinya mungkin berkat sukses Pak Harto….

(Suaranya meninggi.) Pak Harto sekarang disorot terus-menerus seakan-akan melakukan korupsi dan merampok uang negara, nah, lalu dikaitkan. Saya ini kan sebagai saudara, dari seorang ibu yang sama-sama melahirkan Pak Harto dan saya. Apa salah? Kalau saya bersaudara, kan belum tentu (terlibat korupsi pula). Kalau seandainya benar Pak Harto korupsi, apakah saya terus menjadi korupsi? Kan, belum tentu? Nah, ini kok disamaratakan saja.


Jangan-jangan penjualan ini untuk menghilangkan jejak?

Menghilangkan jejak itu kalau sekarang kejadiannya. Ini kan sudah lama dibeli. Apa itu menghilangkan jejak? Seakan-akan Pak Harto yang menitipkan barang kepada saya. Kan, tidak mungkin? Pada 25 tahun yang lalu, ekonomi Indonesia kan masih kacau. Apa yang mau dikorup ketika itu? Dan harganya masih 90 ribu pound.


Bagaimana dengan harta anak-anak Pak Harto?

Nah, saya tidak tahu. Saya tidak pernah campur urusan dagang anak-anak. Satu pun tidak ada kaitannya dengan saya. Dulu, sebelum mereka datang, pernah saya membikin PT, barangkali untuk mengarahkan. Tapi PT itu tidak jalan. Ada yang berkirim surat bahwa PT ini bukti kolusi Probo dengan anak-anak. Ada PT-nya, tapi PT itu didirikan tak ada operasinya. Kejadiannya sudah lebih dari 25 tahun. Jadi, anak-anak ketika itu masih kecil. Sekarang pun saya tidak ingat lagi, yang mana itu PT-nya.


Anda sekarang masih bisa bepergian ke Inggris?

Sekarang saya dicekal, katanya. Mau minta ke Inggris, katanya, dikhawatirkan. Saya juga tidak tahu, pemerintah Inggris yang sudah begitu modern dan maju, kok, mencekal orang dengan dasar tidak kuat, hanya karena tuduhan koran ini saja.


Sejak kapan Anda dicekal?

Saya tidak tahu sejak kapan, tapi istri saya sewaktu mau minta visa tidak dikasih. Alasannya tidak jelas. Dalam penolakan itu diminta untuk memberikan jawaban dan penjelasan bahwa tidak ada hubungan dengan Keluarga Cendana. Sekarang kami sudah memberikan jawaban kepada Kedutaan Inggris yang mencekal itu, seminggu yang lalu. Tapi belum ada jawaban.


Jadi, pencekalan ini sebelum ada laporan The Independent?

Mungkin juga. Dari wawancara TVRI, Aditjondro itu, dialah di sana yang mengetahui semua itu, mendatangi agen-agen penjualan rumah, seakan-akan dia sebagai pembeli. Makanya dia tahu harganya. Tapi datanya sudah tidak cocok lagi. Disebutkan kalau ruangannya tiga tingkat. Sebenarnya empat tingkat. Yang disebutkan sebagai ruang biliar, sekarang tidak lagi, sudah menjadi tempat penginapan buat mahasiswa. Pemain tenis yang main di Wimbledon dulu juga saya suruh nginap di situ.


Anda ingin bilang bahwa beli rumah mewah itu hal biasa?

Yang punya rumah di luar negeri kan bukan saya saja. Pengusaha yang besar umumnya punya rumah, yang jauh lebih mewah daripada rumah saya di Putney itu. Habibie sendiri punya rumah di Jerman. Coba ditanya dari mana uang Habibie. Sebagai seorang menteri, kok, bisa punya rumah di Jerman. Katanya, rumahnya lebih besar dari rumah saya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data