Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Laporan Khusus

Setelah

Sigit Hardjojudanto dan Probosutedjo melego rumah mewahnya di London. Pemerintah Inggris menolak visa kunjungan Keluarga Cendana. Kenapa Kejaksaan Agung jalan di tempat?

Jaksa Agung Andi Ghalib semakin kehilangan pamor. Setelah heboh kasus penyadapan kaset Habibie-Ghalib, kini muncul lagi "tamparan" baru. Koran The Independent, edisi 16 Maret lalu, memuat kisah penjualan properti mewah ala istana milik Keluarga Cendana di kawasan mentereng di London, Inggris. Dua di antaranya milik pasangan Elsje Ratnawati dan Sigit Hardjojudanto, putra sulung Soeharto. Yang lainnya milik Probosutedjo, adik tiri Soeharto. Nilai totalnya tak tanggung-tanggung: 11 juta pondsterling atau Rp 165 miliar.

Memang, ini bukan kabar baru. Sudah lama media massa melansir properti mewah milik Keluarga Cendana di kota-kota penting lima benua. Bambang Trihatmodjo, misalnya, punya rumah mewah di Beverly Hills 27, California, Amerika Serikat. Pemilik Grup Bimantara ini juga memiliki mansion di Bel Air, yang kini dihuni Halimah Trihatmodjo bersama dengan dua anak mereka. Hutomo Mandala Putra punya kawasan wisata berburu di Selandia Baru, seluas 2.500 hektare, yang untuk mengakses bangunan utamanya harus menggunakan helikopter (lihat Properti Keluarga Soeharto di Mancanegara).

Daftar properti Cendana nan mewah ini bisa semakin panjang. Tapi persoalan utama bukanlah pada kemewahan semata. Bukankah tak sedikit orang beken Indonesia yang berburu properti bersuasana aristokrat di seantero dunia? Kabar dijualnya properti milik keluarga Soeharto di negeri Ratu Elizabeth ini bagaikan bunyi alarm yang mengejutkan. Kabar ini datang ketika tim Kejaksaan Agung seperti kehilangan darah. Penyelidikan kasus korupsi dan nepotisme Soeharto, seperti diamanatkan dalam Ketetapan MPR No. 11/1998, tak kunjung bergerak ke arah yang berarti. "Kerja keras" yang digelar tim Kejaksaan Agung hanya berhasil mengorek rekening deposito atas nama Soeharto senilai Rp 24 miliar (versi lain menyebut Rp 23 miliar) di 72 bank swasta dan bank milik negara.

Selebihnya? Buntu. Seperti biasa, Ghalib menyatakan kelambanan pengusutan semata-mata karena prinsip kehati-hatian. Berita The Independent dianggap cuma kabar sepihak. Maka, hal itu tak layak dianggap serius. Malahan, dengan tak gentar, Ghalib siap menghadapi gelombang ketidakpuasan masyarakat. "Jangankan cuma bicara. Ayam pun saya terima," katanya di hadapan anggota Komisi I DPR, dua pekan lalu. Patut dicatat, Ghalib pernah menerima bingkisan ayam betina dari para mahasiswa yang jengkel atas kelambanan tim kejaksaan mengadili kasus Keluarga Cendana dan kroninya.

Sayang, tak hanya ayam yang menunggu kesempatan untuk dihadiahkan ke Ghalib, yang penyelidikannya tak beranjak dari rekening Soeharto dan Haji Mohammad Soeharto. Tim kuasa hukum Soeharto juga menunggu celah-celah penghentian penyidikan. Tanggal 11 Maret lalu, Juan Felix Tampubolon, juru bicara tim kuasa hukum Soeharto, resmi meminta kejaksaan menghentikan pengusutan atas Soeharto. Alasannya, tiga bulan lebih pengusutan kejaksaan, toh tidak berhasil menemukan bukti korupsi yang dilakukan Soeharto.

Banyak pihak menilai, Presiden Habibie bermain-main soal pemeriksaan terhadap "mahaguru"-nya itu. Apalagi setelah perbincangan Habibie-Ghalib terbukti benar-benar sahih dan bukan pemalsuan suara. Lalu benarkah Habibie hanya menggelar sandiwara? Menteri Kehakiman Muladi berupaya menenteramkan keresahan ini. Muladi berjanji, sebelum pemilu, Juni nanti, kasus klan Soeharto sudah harus tuntas. Hanya, masyarakat diminta bersabar. Sebab, kasus Soeharto punya dua sisi: politis dan yuridis. "Kalau tidak hati-hati dengan sisi yuridis, dampak politisnya bisa sangat besar," katanya. Muladi juga harus berhitung, dampak tak kalah dahsyat juga bisa terjadi bila pemeriksaan Soeharto terus terkatung-katung.

Selain dampak politik, ada persoalan yang tak kalah serius. Semakin panjang waktu pengusutan diulur, kian besar kemungkinan Keluarga Cendana bikin tindakan pengamanan. Caranya, cepat-cepat mengopernya ke pihak lain. Yang dilego bukanlah remah-remah aset, tapi berbagai investasi yang sangat bernilai. Tanda-tanda cuci gudang aset mentereng itu mulai bertiup kencang. Kapal pesiar milik Hutomo Mandala Putra , Obsession, senilai A$ 16 juta, kini tak lagi terlihat di pelabuhan marina Cullen, Darwin, tempatnya mangkal sehari-hari. "Mungkin sudah dijual atau ganti nama," kata Bela Kusuma, wartawan Radio CBS, Australia.

Cuci gudang aset yang lebih tinggi nilainya, secara terbuka, memang baru tiga properti mewah di London. George Junus Aditjondro, ahli sosiologi korupsi dari Universitas New South Wales, Australia, yang giat menelusuri harta Soeharto, memastikan bahwa perpindahan tangan yang tidak resmi akan lebih seru. "Orang yang sedang disorot pasti berusaha keras mengamankan diri," kata George. Nah, bila pindah tangan sudah berlapis-lapis, tingkat kerumitan pengusutan bakal berlipat-lipat. Bagaimana liku-liku Keluarga Cendana menumpuk harta akan lebih rapi tertutupi.

George menelisik harta Soeharto dan kroninya dari berbagai sumber. Dan ternyata cukup banyak pribadi atau lembaga yang berminat membantu pengusutan harta Soeharto. Untuk Washington D.C., di Amerika Serikat, misalnya, ada orang yang punya akses pada data publik yang membantu George. "Cukup ketik rukmana, dan keluarlah data lengkap, ada rumah di Boston yang atas nama Dandy Rukmana, Danti Rukmana," katanya kepada TEMPO.

Di Inggris, proses penelusuran harta keluarga Soeharto ternyata lebih mudah. Sebab, keluarga Sigit dan Probosutedjo sudah terbiasa menggelar pesta di rumah mewah mereka. Tak hanya itu. Banyak kalangan, LSM maupun wartawan, yang merasa harus bersolidaritas, membantu penyelidikan George. Konon, motivasi The Independent menulis rencana penjualan properti milik keluarga Soeharto adalah untuk mencegah perpindahan tangan aset klan Cendana. "Kami saling bertukar data investigasi," katanya. Sebentar lagi, menurut George, giliran koran terbesar di California, Los Angeles Times, yang bakal menggeber kisah kemewahan keluarga bekas orang paling berpengaruh di Republik ini.

Ternyata sikap kooperatif juga dimiliki pemerintah Inggris. Negara inilah satu-satunya yang menolak permintaan visa kunjungan keluarga Soeharto. Istri Probosutedjo, misalnya, sudah berbulan-bulan mengurus visa, tapi kedutaan Inggris di Jakarta menangguhkan tanpa alasan jelas. Malahan, "Kami diminta membuat pernyataan tak ada hubungan dengan Keluarga Cendana," kata Probosutedjo, yang menyesalkan kebijakan pemerintah Inggris. "Masa, percaya sama koran," ujarnya kepada TEMPO, kesal. Nah, kalau istri Probosutedjo saja, yang tak punya hubungan langsung dengan Soeharto, dicekal, apalagi anak-cucu Soeharto?

Sayang, Kedutaan Besar Inggris di Jakarta tak mau berkomentar soal pelarangan visa ini. Tapi, menurut The Independent, penolakan visa ini bertujuan mempermudah proses pengusutan harta Soeharto plus kroninya. Kapan mereka mendapatkan bangunan mewah, bagaimana caranya, dan apakah pajak yang dibayar sesuai dengan nilai kekayaan, akan bisa dilacak. Dan, kalau benar ada motif "mulia" seperti ini, Ghalib mestinya tak hanya berpikir tentang ayam. Negara asing sudah memberi peluang, tetapi kejaksaan hanya puas dengan laporan resmi dari Kedutaan Besar RI yang berbunyi standar: tidak ditemukan harta atas nama Soeharto di luar negeri.

Memang, belakangan Ghalib mengaku selangkah lebih maju. Yang dilacak bukan semata rekening atas nama Soeharto, tetapi atas nama HMS alias Haji Mohammad Soeharto. Tentu saja, penyelidikan tak berkembang menarik karena pengusutan hanya berputar di satu tempat. Rentetan pertanyaan pun segera menyusul: kenapa hanya rekening dan bagaimana dengan bentuk harta yang lain? Mungkin, dari istana Elsje Sigit di Winnington inilah, yang berciri Victoria, penelusuran harta klan Cendana bisa mulai terbuka.

Mardiyah Chamim, Ahmad Fuadi,Dewi Rina Cahyani, Ali Nur Yasin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data