Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Lingkungan

Agar Si Mandra Beranak-Pinak

Masih diperdebatkan apakah elang jawa lebih baik dilestarikan secara in situ atau ex situ. Karena itu, penangkarannya di Taman Safari tak luput dari kecaman

Perkiraan Populasi Elang Jawa
TahunPenelitiJumlah (pasang)
1989Meyburg, dkk50 - 60
1994van Balen dan Meyburg67 - 81
1995Sozer dan Nijman81 - 108
1996van Balen130
1998Yayasan Telapak & BirdLife141 - 200


Jangan tanya nasib populasi satwa yang namanya diberi embel-embel jawa. Tanpa kecuali, semua nyaris punah, apakah harimau jawa, badak jawa, ataupun elang jawa (Spizaetus bartelsi). Yang disebut terakhir ini, konon, merupakan sumber inspirasi bagi Dullah saat pelukis itu mendesain lambang negara yang diberi nama resmi: Garuda Pancasila.

Penampilan satwa langka ini memang layak dibanggakan. Sebagaimana halnya kaum elang di mana saja di dunia, elang jawa gagah mempesona. Sayap abu-abu mengkilat, kepala dan dada gemerlap keemasan. Perawakannya yang lurus tegak dengan dada membusung, dan sorot mata tajam, telah membuat elang jawa identik dengan citra kejantanan. Tapi, karena ciri-ciri keperkasaan itulah ia diburu. Para kolektor menganggap elang jawa sebagai simbol status. Meski dilindungi oleh peraturan yang melarang penangkapan dan perdagangan satwa, seperti umumnya di Indonesia, hukum cuma ada di atas kertas. Bahkan, jual beli burung langka ini dilakukan terang-terangan. Hasil survei Nursahid pada 1996 mencatat ada 40 ekor elang jawa yang setiap tahun dijajakan di pasar burung seantero Pulau Jawa dengan harga Rp 3 juta. Belum terhitung jumlah yang sudah ditangkarkan atau diawetkan sebagai pajangan.

Karena populasi elang jawa kian menyusut, manusia lalu berupaya menaikkan jumlahnya dengan cara yang bisa mereka kontrol, yaitu melalui penangkaran. Upaya itu dilakukan karena manusia tak berdaya menanggulangi ulah masyarakat yang menjadi penyebab utama kemusnahan burung ini, yakni penyemprotan pestisida dan pembabatan serta kebakaran hutan tropis. Eksploitasi satwa dan sumber daya alam itu, ditambah sifat elang jawa yang cuma bertelur sebutir tiap 2—3 tahun, menyebabkan populasi satwa endemik ini—menurut penelitian Yayasan Telapak Indonesia dan BirdLife International—tinggal tersisa 600 ekor. Jumlahnya yang jauh di bawah ambang 10 ribu menyebabkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources memasukkannya dalam kategori "genting".

Malang nasib elang jawa, kendati terancam punah, hingga kini manusia tetap belum menemukan resep yang ampuh untuk melipatgandakan jumlahnya. Para ahli satwa masih memperdebatkan apakah pengembangbiakannya dilakukan berdasarkan model konservasi in situ (di dalam habitat) atau ex situ (di luar habitat). Dalam hal ini pemerintah terlihat gamang. Hal ini terbukti pada acara "pelepasan bohong-bohongan" elang jawa di Taman Safari Indonesia, Bogor, Sabtu dua pekan lalu. Sedianya, perhelatan itu digelar untuk melepasnya ke kawasan Gunung Gede Pangrango. Tapi niat ini diurungkan karena, menurut Direktur Jenderal Pelestarian dan Konservasi Alam, Abdul Manan Siregar, pihaknya khawatir model itu masih membuka peluang bagi manusia untuk memburu satwa ini. Menurut dia, penangkaran ex situ di Safari adalah cara yang terbaik.

Akibatnya, upacara itu jadi tak jelas tujuannya. Pertama-tama, seekor elang jawa bernama Mandra—mengingatkan pada nama aktor sinetron Si Doel—yang sudah ditangkarkan di Taman Safari selama empat tahun, diserahkan ke Dirjen Abdul Manan. Lalu sang Dirjen menyerahterimakan ke Gubernur Jawa Barat, Nuriana. Dan akhirnya, begitu saja, dikembalikan lagi ke Safari.

Penangkaran model Safari ini dikecam oleh Wahyu Raharjaningtrah dari Yayasan Pribumi Alam Lestari. Menurut Wahyu, dengan cara itu, usia burung yang gampang stres ini akan merosot 15 tahun. Apalagi kalau dikurung dalam sangkar, paling banter bertahan hidup lima tahun. Mau bukti? Lihat saja penampilan elang jawa di kebun binatang. Kegagahannya jelas berbeda dengan garuda lambang negara. Bulu rontok, warna kusam, sorot mata kuyu, dan loyo. Padahal, jika dibiarkan terbang bebas di habitatnya, umur elang jawa bisa mencapai 27 tahun.

Tudingan lain datang dari peneliti Yayasan Telapak, Hapsoro. Ia bahkan mencurigai Taman Safari telah "didwifungsikan" sebagai pasar gelap burung langka itu. Menurut versi Hapsoro, Taman Safari pernah memiliki 12 ekor elang jawa. Tapi ia terheran-heran mendapati jumlah satwa itu sekarang tinggal tiga ekor. Pihak pengelola Safari berdalih bahwa delapan elang lainnya mati sewaktu proses sexing, yaitu proses pembedahan untuk menentukan jenis kelamin. Maklum, letak kelamin burung ini tersembunyi. "Masa, sebegitu banyak yang mati hanya karena sexing?" gugatnya.

Meski demikian, ia mengaku belum mengantongi cukup bukti yang bisa mendukung kecurigaannya. Tapi, menurut Kepala Taman Safari, Tony Sumampauw, semula lembaganya itu cuma punya lima ekor dan dua ekor di antaranya mati karena sexing. Tanpa dapat menahan rasa kesalnya, Tony membantah tudingan Hapsoro. "Kami ini bukan bandar jual beli satwa," ujarnya. Baku hantam ini sah-sah saja diteruskan, asal fokusnya tetap pada peningkatan populasi sang elang.

Karaniya Dharmasaputra, I G.G. Maha Adi (Jakarta), Upik Supriyatun (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data