Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Kesehatan

Obat Boleh Kuno, Khasiat Serbaguna

Aspirin bukan hanya untuk mengobati sakit kepala dan mencegah penyakit jantung, tapi juga bisa mencegah kanker usus besar.

ASPIRIN. Nama ini mungkin lebih akrab di telinga orang tua. Buat generasi muda, kalau lagi pening atau demam, yang lebih dulu terlintas di kepala mungkin nama obat yang sering muncul di iklan televisi. Aspirin memang obat tua. Awal Maret lalu, usianya genap seratus tahun. Sebagai obat "kuno", obat yang mengandung bahan aktif asam asetilsalisilat (ASA) ini tentunya sudah teruji keamanannya. Usia boleh tua, tapi obat ini rupanya ingin selalu tampil baru. Didukung riset yang dilakukan secara rutin, obat yang dijual di 80 negara dan dipakai sekitar 18 juta orang itu terbukti sebagai obat serbaguna.

Sejak lima tahun lalu Aspirin Kardio?buatan Bayer Jerman?beredar di Amerika Serikat, setelah berhasil membuktikan bahwa ASA berkhasiat pula mencegah penyakit jantung (arterosklerosis). Kini, satu fungsi ajaib ASA diketemukan lagi, yakni bisa mencegah kanker usus besar. Hal itu diungkapkan Ati Saraswati, manajer senior dari PT Bayer Indonesia, dalam pertemuan dengan media untuk memperingati 100 tahun aspirin, dua pekan lalu.

Tak mengherankan bila aspirin bisa sering tampil dengan "wajah baru". "Setiap tahun kami melakukan 150 riset tentang aspirin," kata Direktur PT Bayer Indonesia, Ralph-Dieter Petrich. Temuan bahwa aspirin dapat mencegah kanker usus besar itu, misalnya, dihasilkan melalui riset bertahun-tahun. Dugaan bahwa ASA berkaitan dengan kanker telah mulai muncul sejak tahun 1970-an. Ketika itu ditemukan adanya prostaglandin dalam konsentrasi tinggi pada tumor, sehingga muncul asumsi bahwa prostaglandin ikut mendorong pertumbuhan tumor.

Prostaglandin adalah hormon yang diproduksi tubuh ketika sel mendapat rangsangan atau disakiti. Tugasnya, antara lain, mengaktifkan pengantar sinyal rasa sakit ke otak. Hormon ini terbentuk dari asam arakhidonik yang berubah menjadi prostaglandin dengan bantuan enzim siklo-oksigenase (COX). Seorang ahli farmakologi dari Royal College of Physicians, John R. Varne, pada 1971 berhasil menemukan mekanisme sintesa prostaglandin dan pengaruh ASA. Ia menyimpulkan, penghambatan itu terjadi karena reaksi asetilasi COX oleh ASA. Atas temuannya itu pada 1982 Varne mendapat hadiah Nobel di bidang kedokteran.

Pada permulaan 1990-an aspirin dan penghambat prostaglandin lainnya dijadikan obyek studi. Tujuannya untuk melihat apakah betul ASA bisa mengurangi risiko kanker. Salah satu studi terbesar tentang kanker usus besar dilakukan oleh Dr. Edward Giovannucci dan timnya dari Universitas Harvard, Boston, AS. Sejak 1976, 122 ribu orang ditanyai tentang penggunaan ASA dan obat pereda sakit dan anti-inflamasi lainnya. Hasilnya dipublikasikan pada 1995. Dalam publikasi disebutkan, mereka yang menggunakan ASA secara reguler dalam jangka panjang (setidaknya selama 10 tahun), risiko meninggal karena kanker usus besar berkurang hingga 44 persen. Dalam penelitian itu, dosis yang diobservasi adalah empat hingga enam tablet per minggu, atau sekitar 300 miligram ASA setiap hari.

Sebuah studi besar-besaran yang melibatkan lebih dari satu juta orang Amerika juga dilakukan American Cancer Society. Dari penelitian tentang kebiasaan, penyakit, penggunaan obat-obatan, dan perkembangan kanker, ada 600 ribu orang yang akhirnya dievaluasi untuk membuktikan hipotesis penghambatan kanker oleh ASA.

Meski sudah didukung beberapa bukti, temuan itu masih banyak diragukan para ahli. Menurut mereka, semua hasil positif itu wajar. Sebab, orang yang sering menggunakan ASA akan gampang terdeteksi jika ia mengidap kanker usus besar. Ini semua karena sifat asam ASA yang menimbulkan efek samping berupa nyeri lambung?karena itu tidak boleh dikonsumsi dalam keadaan perut kosong dan oleh orang yang menderita tukak lambung. Jadi, masalahnya simpel saja. Orang yang rajin minum ASA kondisi pencernaannya sering bermasalah. Maka, munculnya kanker usus besar sudah pasti terdeteksi sejak dini.

Masih banyak soal yang memang harus dibuktikan para ilmuwan yang menekuni aspirin. Dr. Michael J. Thun, yang bertanggung jawab terhadap studi mega yang dilakukan American Cancer Society, pun belum berani merekomendasikan aspirin atau yang segolongan dengannya untuk penanganan atau pencegahan kanker. Beberapa pertanyaan penting, seperti dosis, indikasi dan kontraindikasi, hingga sekarang belum terjawab. "Penelitian dan percobaan klinis memang masih banyak dibutuhkan," kata Petrich. Mungkin waktunya masih akan panjang. Aspirin Kardio, misalnya, membutuhkan waktu penelitian hingga sembilan tahun sebelum bisa diterima sebagai obat pencegah penyakit jantung. Rupanya hal itu disadari betul oleh Bayer. Sehingga, meski usia aspirin sudah seabad, mereka mengatakan bahwa masa depan aspirin baru saja dimulai.

Gabriel Sugrahetty


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data