Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Inovasi

Antena Batok Kelapa



KALAU melihat batok kelapa, yang diingat orang barangkali arang, centong nasi, dan gayung. Namun, bagi Minto Supeno, Kepala Pusat Penelitian Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Mikroskil, Medan, batok kelapa bisa dipergunakan bukan hanya untuk alat-alat dapur. Sementara pada 1995 dari batok kelapa ia berhasil membuat karbon sebagai bahan baku ban, kini Minto memanfaatannya sebagai antena.

Ide penggunaan batok kelapa tersebut muncul ketika Minto mendengar suara air kelapa yang terguncang. Suara itu berasal dari dapur, sehingga ia heran mengapa guncangan itu bisa terdengar dari kelapa yang tertutup rapat. Akhirnya, Minto menyimpulkan bahwa bentuk batok kelapa yang seperti elips dan terdiri dari berbagai bahan polimer dan nonpolimer yang tersusun dalam kerapatan tinggi itulah yang mampu menyalurkan gelombang.

Untuk antena, Minto pun menambahkan elektrode kuningan atau tembaga, sehingga kemampuannya menyalurkan gelombang menjadi lebih besar. Dipasang pada ketinggian mulai 50 sentimeter sampai dua meter, antena batok kelapa itu ternyata bisa digunakan untuk menerima sekaligus memancarkan gelombang, sehingga bisa dipakai untuk menangkap siaran televisi, gelombang radio handie-talkie, dan pembicaraan telepon. ''Untuk siaran televisi, hasil tangkapan antena tempurung ini lebih sejuk di mata bila dibandingkan dengan antena UHF yang terbuat dari logam," ujar Minto kepada Bambang Soedjiarto dari TEMPO.

Antena itu telah sukses diuji coba pada berbagai tempat, termasuk di kapal tanker yang berlayar di laut lepas dalam jarak 250 kilometer dari tempat Minto. Sekalipun temuan itu sudah dipatenkan, Minto belum berencana memproduksinya secara massal. Namun, bila ada yang berminat, antena batok made by Mas Minto bisa diperoleh dengan harga hanya Rp 15 ribu.


Jam Tangan Kamera

Obyek menarik yang terlihat selama perjalanan akan sirna dari ingatan kalau tak diabadikan. Namun orang bisa saja lupa membawa kamera sehingga momen berharga pun lewat begitu saja. Mungkin itu sebabnya muncul ide untuk membuat kamera yang praktis dibawa ke mana-mana.

Adalah Andrew Hunter dan rekan-rekannya dari Hewlett-Packard's Bristol yang kemudian menawarkan kamera mutakhir yang menjadi satu dengan jam tangan?satu aksesori yang jarang ditinggalkan. Selain praktis, kamera ini juga bisa menangkap gambar diam dan bergerak. Penemuan ini didasarkan pada kamera tipe baru yang dikembangkan Hewlett-Packard. Hanya saja, hampir semua fungsi yang diperlukan untuk kamera video dipadatkan pada satu chip. Hasilnya, dengan kamera video yang terdapat dalam prototipe jam ini, bisa tertangkap gambar dengan resolusi 640 x 480 piksel.

Dalam keterangan Hunter kepada The Sunday Times, sampai sekarang Hewlett-Packard belum berniat memproduksi massal jam kamera tersebut. Namun chip yang dikembangkan itu telah dijual kepada perusahaan lain sehingga bisa diproduksi dalam bentuk kamera mini atau ditempatkan pada telepon seluler. Kegunaan lain chip ini adalah bisa ditaruh pada mainan anak-anak tipe cyberpet. Dengan kamera dan mikrofon yang ada di dalamnya, mainan yang telah dihubungkan ke internet tersebut bisa diprogram untuk memantau polah anak-anak. Alhasil, baik kelucuan maupun kenakalan anak-anak bisa terlihat oleh orang tua mereka dari berbagai penjuru dunia.


Langit Buatan untuk Arsitek

Rumah gelap kurang cahaya, aliran angin kacau, siapa yang tak kesal? Hal ini biasanya terjadi karena sang arsitek kurang cermat memperhitungkan kondisi alam di lokasi bangunan. Nah, untuk meringankan beban para arsitek inilah Cardiff University's School of Architecture telah mengembangkan ruang simulator lengkap dengan langit buatan, agar faktor alam ini tak terlewatkan.

Caranya, model bangunan diletakkan pada anjungan berputar yang berdiameter delapan meter. Selanjutnya, pancaran cahaya 640 lampu fluor dan semburan angin buatan diaktifkan oleh komputer untuk menghasilkan variasi kondisi cuaca. Menurut The Sunday Times, dengan program yang berbeda-beda, kondisi cuaca di mana saja dan kapan saja, seperti hujan salju di New York atau terik panas di Bombay, bisa dihadirkan di ruang simulator ini. Hasilnya, arsitek bisa mencari lokasi yang tepat dengan orientasi terbaik sehingga bangunan mampu menangkap cahaya dan energi matahari sebanyak mungkin. Dengan demikian, tagihan listrik pun bisa dihemat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data