Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Ilmu dan Teknologi

Alat Pantau Serbaguna

Peneliti Indonesia berhasil mengembangkan teknologi pemantau posisi yang biasa dikenal sebagai GPS. Harganya lebih murah 75 persen dan bisa digunakan untuk memantau posisi pesawat ataupun armada taksi.

JAUH TINGGI di angkasa, dua pesawat tak berawak hilang dari pandangan mata. Pasukan ABRI yang sedangberlatih perang di Pulau Natuna, Riau, bingung gara-gara dua pesawat yang seharusnya menjadi sasaran tembak itu tak bisa dilacak lagi. Operator di bawah tak bisa mengendalikan karena penglihatan mereka hanya mengandalkan mata telanjang. Terjadi pada 1996, peristiwa yang menonjolkan kelemahan Indonesia dalam hal pemantauan udara itu telah mendorong ABRI untuk mengajukan proposal agar pesawat yang tak berawak dilengkapi sistem pemantauan global.

Sebenarnya, ada teknologi Global Positioning System yang biasa dipakai untuk menentukan lokasi dan pemetaan. Namun teknologi tersebut cukup mahal. Selain itu, Dewan Riset Nasional yang disodori proposal oleh pihak militer cenderung mengembangkan sendiri teknologi sejenis. Melalui Program Riset Unggulan Terpadu V (RUT V), dibentuklah tim yang bekerja mulai tahun 1996 sampai 1998. Proyek itu melibatkan ABRI, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Hasilnya sebuah alat pemantau yang harganya jauh lebih murah.

Prinsip kerja dari teknologi yang dikembangkan oleh tim tersebut tidak berbeda dengan teknologi yang sudah ada. Sistem pemantauannya tetap memerlukan alat-alat untuk tiga bagian. Bagian pertama adalah satelit navigasi milik Amerika Serikat yang akan digunakan untuk menentukan posisi wahana bergerak. Bagian kedua, pesawat tanpa awak yang dilengkapi GPS, modem, dan pemancar. Bagian ketiga, alat-alat di darat yang terdiri atas penerima GPS, modem, dan komputer, beserta perangkat lunaknya. Kecuali satelit, semua alat itu sudah bisa dibuat di dalam negeri. Semula, alat GPS-nya sendiri masih harus dibeli, tapi saat ini ITB telah mampu mengembangkannya sendiri.

Cara kerja alat itu kira-kira begini. Satelit mengirim sinyal yang akan diterima alat GPS di pesawat. Sinyal itu akan diterjemahkan sebagai posisi pesawat yang akan disalurkan ke modem untuk diubah lagi menjadi sinyal analog yang akan dipancarkan ke penerima di darat. Selanjutnya, penerima akan meneruskan sinyal itu ke modem yang akan mengubahnya menjadi sinyal digital untuk ditampilkan di peta digital yang muncul di layar komputer. Dengan sistem tersebut, posisi pesawat dapat terpantau setiap saat. Bahkan pada uji coba terakhir yang dilakukan tahun lalu terbukti semuanya berlangsung mulus.

Tak kurang menarik, sistem ini bisa juga diterapkan untuk pengoperasian armada taksi. Pos taksi, misalnya, bisa menginstruksikan taksi terdekat untuk menjemput penumpang. Tingkat akurasi dari GPS yang dipakai tim ini adalah di bawah 300 meter. Artinya, penyimpangan obyek yang terlihat di layar komputer tak akan lebih dari 300 meter dari posisi yang sesungguhnya. Biasanya penyimpangan tak akan lebih dari 100 meter. Untuk pemantauan pesawat dan taksi, angka itu tak terlalu besar.

Bila teknologinya sama, lantas apa keistimewaan buatan lokal ini? ''Dengan membuat sendiri, kita bisa menghemat sampai 75 persen," ujar Soewarto Hardhienata, Kepala Bidang Teknologi Transmisi Komunikasi Lapan, yang bergabung dalam tim RUT V. Menurut Soewarto, perangkat lokal ini bisa didapatkan dengan harga kurang lebih Rp 15 juta.

Dalam hal pemantauan taksi, biaya tersebut dialokasikan setengahnya untuk peralatan GPS di pos dan setengah lagi untuk peralatan GPS di taksi. Diukur dari kemampuan perusahaan taksi, biaya itu memang cukup besar. Sebagai ilustrasi, perusahaan taksi Blue Bird yang beberapa waktu lalu pernah tertarik dengan sistem ini mengurungkan niatnya karena harga yang ditawarkan pemasok dari Singapura US$ 500 atau Rp 4,5 juta. ''Cara ini memang efektif untuk penjemputan penumpang, tetapi sayang investasinya terlalu tinggi," ujar Noni Purnomo, manajer senior di Blue Bird. Soewarto sependapat bahwa biaya itu tinggi. Tapi, katanya, bila armada semakin banyak, ongkos keseluruhan menjadi lebih murah karena hanya dengan satu peralatan saja yang ditempatkan di pos, setiap taksi bisa dihubungi. Dan bila peralatan ini diproduksi massal, harganya bisa ditekan lebih rendah lagi.

Sementara untuk armada taksi teknologi ini masih cukup mahal, buat angkutan udara penghematan biaya sampai 75 persen itu tampaknya cukup signifikan. ''Saya pribadi tertarik,'' ujar Effendi, Kepala Bidang Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara PT Angkasa Pura II yang berlokasi di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Menurut Effendi, GPS lebih akurat bila dibandingkan dengan Instrument Landing System yang kini dipakai di bandara tersebut.

Yusi A. Pareanom dan Mustafa Ismail


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data