Untuk Mereka yang Tengah Bercinta Film Shakespeare in Love karya John Madden menerima 13 nominasi Academy Award, termasuk sebagai film terbaik. Inilah sebuah interpretasi tentang sebait kehidupan sastrawan besar itu. |
Good night, good night!
Parting is such sweet sorrow
That I shall say good night till it be morrow
(Adegan dalam naskah Romeo and Juliet karya William Shakespeare)
| PERJALANAN PENGANTEN | | Penulis | : | Ajip Rosidiv | | Penerbit | : | Pustaka Jaya | | Tebal | : | 171 halaman | | Terbit | : | Tahun 1958 dan 1998 |
Siapakah William Shakespeare? Benarkah dia putra John Shakespeare dan Mary Arden serta lahir di Stratford pada 26 April 1564? Benarkah dia menikah dengan Anne Hathaway, seorang gadis berusia 18 tahun, dan meninggalkannya (serta anak-anaknya) untuk menggeluti kehidupan teater di London? Siapakah the dark lady yang sering disebut-sebut dalam soneta cintanya? Apakah Shakespeare memiliki kisah cinta--selain dengan istrinya--yang terpendam dalam sejarah hingga menghasilkan drama komedi-tragis Romeo and Juliet?
Begitu banyak pertanyaan tentang kehidupan dan latar belakang sang dramawan dalam teater dunia ini, tapi begitu sedikit fakta yang tersedia. Begitu banyak karya mengagumkan yang lahir dari tangannya (18 drama komedi, 10 drama tragedi, 10 drama sejarah, dan ratusan soneta), tapi tak banyak kisah nyatanya yang tercantum dalam sejarah, sehingga sulit untuk percaya bahwa 38 karya itu lahir hanya dari satu orang yang bersahaja. Begitu sulitnya mempercayai kemungkinan itu, hingga ada beberapa buah buku--penganut "teori konspirasi"--yang mencoba membuktikan bahwa sastrawan yang bernama Shakespeare sesungguhnya tidak pernah ada dan karyanya merupakan sebuah hasil kolaborasi dari beberapa seniman Inggris! Teori konspirasi yang cukup kontroversial ini, meski konyol, ternyata dianut oleh sebagian ahli Shakespeare dengan cara mencari kemustahilan bahwa satu orang bisa melahirkan karya yang begitu kontras, antara kisah-kisah tragedi (Hamlet dan Macbeth) dan komedinya yang "ringan" (Twelfth Night).
Film Shakespeare in Love sesungguhnya hanya sebuah interpretasi dari penulis skenario Marc Norman dan Tom Stoppard berdasarkan serpihan fakta yang tercatat dan fiksi berdasarkan ramuan imajinasi yang berkembang dari misteri kehidupan.
Antara tahun 1585 dan 1592, ada kekosongan dalam dokumentasi biografi sang dramawan. Dua tahun kemudian, tiba-tiba saja nama Shakespeare tercatat sebagai seorang aktor dan penulis naskah drama di London. Saat itu, di masa Elizabethan, ada dua panggung teater Inggris yang tengah bersaing, yakni The Curtain dan The Rose. Periode inilah yang kemudian diinterpretasikan oleh Marc Norman dan Tom Stoppard saat naskah Romeo and Juliet lahir bersamaan dengan beberapa soneta cinta Shakespeare. Maka Will Shakespeare (Joseph Fiennes) di tangan sutradara John Madden menjelma menjadi seorang seniman muda yang berapi-api, temperamental, dan penuh bara cinta. Naskahnya yang tengah digarap, berjudul Romeo and Ethel, the Pirate’s Daughter, menemui kebuntuan karena ia tak memiliki siapa pun yang bisa menjadi sumber inspirasinya, apakah itu seorang wanita atau sekuntum mawar. Pertemuannya dengan Lady Viola (Gwyneth Paltrow), seorang putri bangsawan yang terobsesi untuk menjadi aktor panggung, mendadak mengubah hidupnya. Naskah Romeo and Ethel kemudian mengalir dengan deras bak air bah. Nama Ethel, atas saran Ned Alleyn, aktor Inggris terkemuka saat itu, diubah menjadi Juliet. Dramawan Christopher Marlowe bahkan menyumbangkan beberapa adegan dan jalan cerita.
Film yang meraih 13 nominasi Academy Award ini--bersaing dengan Saving Private Ryan karya Steven Spielberg, yang meraup 11 nominasi--berupaya menampilkan satu bait dalam kehidupan Shakespeare yang panjang (dan mungkin kehidupan yang berwarna) tapi tak berhasil menyajikan sesuatu yang istimewa dari sosok dramawan besar itu--kecuali dia masuk dalam kategori seniman stereotip: mudah jatuh cinta, mudah terbakar emosinya, dan mudah meletup-letup dalam gerak dan ekspresi. Ternyata sosok fiktif Lady Viola--diperankan dengan baik oleh Gwyneth Paltrow, yang dinominasikan sebagai aktris terbaik--yang penuh gelora dan gairah terhadap dunia teater, tampil paling bersinar.
Selain akting Paltrow, kemampuan permainan imajinasi dan ramuan sejarah para penulis skenarionya memang patut dipujikan. Beberapa adegan Romeo and Juliet yang terkenal, misalnya upaya Romeo menemui Juliet dengan memanjat kediaman Juliet serta dialog seperti "Parting is such sweet sorrow", kemudian digunakan dalam adegan percintaan antara Will dan Lady Viola. Ini, tentu saja, untuk mengesankan bahwa percintaan terlarang antara sang dramawan dan Lady Viola--yang sudah bertunangan dengan Lord Wessex--telah memberi inspirasi drama cinta Romeo and Juliet.
Sosok Ratu Elizabeth yang dingin, tegas, dan penuh otoritas tapi toh bisa sesekali jenaka itu juga muncul sebagai bintang berkelas. Dame Judy Dench memang seorang aktris panggung Shakespearean yang tak tertandingi ketika memerankan tokoh sekompleks Ratu Elizabeth yang memiliki gairah terhadap dunia teater itu.
Pada akhirnya, Shakespeare in Love bukan hanya persembahan kepada pembaca karya Shakespeare atau penikmat teater belaka. Film ini juga persembahan untuk mereka yang mendalami makna cinta.
Leila S. Chudori
|