Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Film

Pesta Piala Oscar di Antara Kontroversi

Film Saving Private Ryan dan Shakespeare in Love bersaing memperoleh gelar film terbaik. Ada demonstrasi dan protes terhadap penghargaan untuk sutradara Elia Kazan yang pernah menjadi informan pada era McCarthy.

Sebuah pesta besar dimulai. Karpet merah, gaun dan tuksedo karya para desainer ternama, dan kalung berlian dari perusahaan berlian terkemuka akan bergelantungan meriap-riap di leher jenjang para calon penerima Academy Awards. Senyum dan ucapan terima kasih sudah dilatih di muka cermin. Dorothy Chandler Pavilion di Los Angeles penuh sesak oleh komunitas perfilman AS untuk merayakan penyerahan Academy Awards ke-71. Film apa yang akan memenangi gelar film terbaik kali ini?

Film-film yang bertarung untuk mendapatkan predikat film terbaik adalah Elizabeth karya Shekar Kapur yang meraih tujuh nominasi Academy Awards, film Saving Private Ryan karya Steven Spielberg yang meraup 11 nominasi, Shakespeare in Love arahan John Madden yang menyambar 13 nominasi, Life Is Beautiful karya Roberto Benigni, dan The Thin Red Line karya Terrence Mallick.

Film Saving Private Ryan dan Shakespeare in Love, yang keduanya sudah diputar di Indonesia, adalah dua film yang secara ketat bersaing untuk merebut gelar film terbaik dan sutradara terbaik. Film Saving Private Ryan adalah film dengan latar belakang Perang Dunia II yang memfokuskan kisahnya pada sebuah upaya pencarian seorang prajurit bernama Ryan di tengah kobaran perang. Sedangkan film Shakespeare in Love adalah sebuah interpretasi tentang satu penggalan hidup sastrawan William Shakespeare saat ia menciptakan naskah drama Romeo and Juliet.


Academy Award atau lebih populer dengan sebutan piala Oscar, selain dianggap prestisius, adalah juga penghargaan yang dianggap akan menaikkan penjualan tiket film-film pemenang. Sebuah film yang diputar sebelum pengumuman Oscar biasanya akan diputar kembali, sesudah film itu diumumkan sebagai pemenang dan itu akan meraih untung yang berpuluh kali lipat karena piala Oscar telah menaikkan gengsinya. Contohnya, film Sense and Sensibility karya Ang Lee meraih penjualan tiket sebesar US$ 43 juta setelah Emma Thompson meraih dua piala Oscar sebagai aktris terbaik dan penulis skenario terbaik di film itu.

Yang lebih menarik lagi, tidak seperti dalam Festival Film Cannes atau Festival Film Berlin, para pemenang dalam Academy Awards itu bukan dipilih oleh serangkaian tim juri yang terdiri dari dunia perfilman. Sebuah panitia bernama AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) dengan 5.235 orang anggota--terdiri atas sutradara, produser, penulis skenario, aktor, aktris, penata kamera, dan juga orang-orang awam--akan memilih lima nominasi dari setiap kategori. Pilihan itu tentu subyektif dan tidak selalu harus berdasarkan pertimbangan sinematik, tetapi juga popularitas film dan para pemain. Itulah sebabnya para produser rela mengeluarkan dana hingga ratusan ribu dolar untuk promosi, agar anggota AMPAS yang menonton ratusan film itu mampu mengingat film-film tersebut dan memasukkan pilihannya ke dalam kotak pemilihan. Itulah sebabnya, seperti yang ditulis kritikus Peter Travers dari majalah Rolling Stone, anggota AMPAS biasanya tidak akan memilih film-film yang mempersoalkan gender, ras, homoseks, atau lesbianisme karena para anggota ini rata-rata dikenal sebagai orang-orang yang konservatif.

Di antara kelap-kelip kemewahan acara malam piala Oscar ke-71 ini, ada sebuah kontroversi yang berlangsung. Sutradara Elia Kazan, 89 tahun, sudah diumumkan akan menerima Life Achievement Award--sebuah penghargaan yang biasanya diberikan kepada para pekerja film yang dianggap sudah mengabdikan hidupnya di dunia perfilman. Kazan adalah seorang sutradara terkemuka yang pernah menyutradarai antara lain film On the Waterfront, A Face in the Crowd, East of Eden, dan A Streetcar Named Desire--dibintangi oleh Marlon Brando. Tapi, pada 1950-an--era McCarthy--saat orang-orang yang dituduh sebagai anggota komunis atau "berteman dengan anggota komunis" akan ditahan atau dipersulit hidupnya, Kazan adalah salah seorang informan yang menyebut beberapa rekannya di Hollywood sebagai simpatisan komunis. Akibat info Kazan itu, para pekerja film tersebut, untuk waktu yang lama, tak mendapat pekerjaan. Karena itu, para aktor, aktris, dan sutradara yang pernah dimasukkan ke dalam daftar hitam itu berniat berdemonstrasi pada saat malam penyerahan Oscar.

Maka, pesta besar itu akan menjadi sebuah adegan film yang jauh lebih menarik.

Leila S.Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data