Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Banting Setir Bank Asing

Bank asing berlomba-lomba merebut hati nasabah. Padahal mereka tak kekurangan likuiditas. Apa benar banyak bank asing yang tersangkut kredit macet?

Mau terbang gratis ke Singapura? Atau mendapat hadiah liontin emas 18 karat? Tidak sulit. Anda tinggal membuka rekening deposito di sebuah bank asing.

Rasanya tidak ganjil lagi: bank-bank asing yang beroperasi di Jakarta kini tampil agresif. Dalam sebulan terakhir, hampir saban hari halaman iklan surat kabar penuh dengan tawaran mereka yang menggiurkan. Ada yang mengobral hadiah, menawarkan layanan perbankan serba mudah dan praktis, atau menjanjikan tingkat suku bunga tabungan yang menawan.

ABN-Amro, misalnya, menjanjikan tiket pesawat Jakarta-Singapura pulang pergi gratis. Karcis sonder bayar itu akan diberikan untuk penabung baru perorangan yang membuka rekening deposito berjangka, dengan ketentuan tertentu. Bank Belanda ini membumbui tawarannya dengan memperpanjang jam buka kantor sampai pukul enam sore, menerima layanan informasi bebas pulsa, dan menjanjikan jaminan keamanan yang bisa diandalkan.

Sementara itu, hadiah emas diberikan oleh Standard Chartered?juga bagi penabung baru. Bank dengan jaringan internasional ini mengimbuhi hadiahnya dengan sejumlah produk layanan baru yang akan membuat nasabah merasa nyaman. Mereka menjanjikan kemudahan pelayanan perbankan, "Hanya dengan sentuhan ujung jari." Para nasabah, misalnya, tak perlu lagi repot-repot datang ke bank. Mereka cuma perlu menghubungi satu nomor telepon tertentu, lalu para pegawai Stancart akan datang ke tempat nasabah, "Kapan saja, tujuh hari seminggu."

Layanan istimewa juga dijanjikan American Express Bank. Bank Amerika ini memang tak sampai menjemput bola seperti Stancart atau mengobral hadiah layaknya ABN-Amro, tapi menjanjikan deposito berbunga tinggi yang bisa dicairkan sebelum jatuh tempo tanpa penalti. Amex menawarkan Time Deposit Plus. Deposito rupiah ini suku bunganya sampai 35 persen, tertinggi di antara penawaran bank asing, yang diperhitungkan saban hari (bunga harian).

Tawaran hadiah, layanan khusus, dan bahkan suku bunga tinggi seperti ini mestinya merupakan langkah bank asing yang mengejutkan. Bank-bank asing itu, selama masa krisis ini, telah menikmati kehidupan serba gampang di Indonesia. Mereka mengeduk untung besar dari nasabah yang kehilangan kepercayaan kepada perbankan nasional. Sejak 16 bank dibredel November 1997 lalu, jutaan penabung memindahkan rekeningnya ke bank asing.

Gelombang ini tampak jelas dalam laporan keuangan akhir Juni 1998. Hampir semua pos dalam neraca keuangan bank-bank asing membengkak berkali-kali lipat dibandingkan dengan posisi Juni 1997 (sebelum krisis). ABN-Amro Bank, misalnya, mampu menyedot deposito rupiah sampai Rp 1,6 triliun?berlipat 10 kali dari tahun sebelumnya. Stancart, Amex, Citibank, dan Deutsche Bank sama saja. Posisi tabungan rupiah di Citibank, misalnya, melonjak 14 kali lipat, dari Rp 91 miliar, menjadi Rp 1,3 triliun.

Banjir simpanan itu sempat dimanfaatkan bank-bank asing untuk menekan suku bunga simpanan. Sebuah bank asing, misalnya, pernah cuma memberikan suku bunga deposito rupiah belasan persen ketika bank-bank nasional siap memburu simpanan publik dengan bunga di atas 60 persen. Tapi nasabah yang panik tetap saja mengantre di depan loket-loket tabungan dan deposito bank asing. Sebuah bank asing yang lain bahkan sampai harus menambahkan beberapa baris bangku panjang untuk menampung antrean nasabah. Lobi bank pun berubah menjadi mirip ruang tunggu klinik yang lagi laris.

Lalu, mengapa bank-bank yang kegendutan itu kini seperti sedang kehausan? Apa yang telah terjadi?

Seorang treasurer bank asing mencoba meyakinkan bahwa langkah-langkah yang agresif itu bukan petunjuk sesuatu yang ganjil. Menurut dia, pelbagai tawaran ini cuma jurus normal untuk menampung luapan dana nasabah yang, mungkin saja, panik menghadapi penutupan bank nasional belakangan ini. "Tak ada yang istimewa," katanya.

Tapi, kalau itu tujuannya, mengapa mesti memancing dengan bunga tinggi segala? Ke mana mereka akan menyalurkan dana berbiaya mahal seperti itu? Dengan membayar bunga 35 persen, Amex cuma menikmati selisih bunga 2 persen jika menempatkan dananya ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Lalu, apakah ada alternatif penyaluran dana yang lebih menguntungkan ketimbang SBI saat ini? "Risiko kredit terlalu tinggi. Main di pasar uang juga riskan," kata seorang bankir.

Seorang sumber mengakui, pemburuan dana pihak ketiga ini dilakukan untuk membanting arah bisnis bank asing. Selama ini, bank asing terlalu banyak memberikan kredit raksasa ke perusahaan-perusahaan besar. "Ini biangnya kredit macet," katanya terus terang. Sebagian dari bank-bank ini juga banyak kesandung commercial paper.

Karena itu, dana-dana baru ini akan dialihkan ke kredit eceran, yang baik nilai maupun risikonya jauh lebih kecil. "Jadi, jangan kaget," katanya, "kalau seorang pemilik warung rokok tak lama lagi akan ikut mengantre pinjaman dari bank asing."

DSI, Bina Bektiati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data