Yang Kapok, Yang Nombok Sejumlah bank milik konglomerat kini tinggal nama. Sejumlah yang lain terus bertahan. Mengapa orang-orang kaya itu menyerah? Untuk apa sebagian yang lain bertahan? |
Barangkali inilah namanya putaran nasib. Hingga dua tahun lalu, para bankir seperti berenang di samudra keserbagampangan. Segalanya serba mudah. Tanpa diundang, dana masyarakat antre memasuki loket-loket tabungan dan deposito. Tanpa dipaksa, pabrik dan perusahaan yang mengambil utang pada membayar bunga, melunasi cicilan. Rezeki bank melimpah, keuntungan membuncah. Dividen membengkak, tantiem-tantiem mengalir tanpa kenal musim.
Tapi roda berputar. Tanpa diduga, krisis menyerbu. Harga dolar melonjak, harga barang ikut menanjak. Untuk mengimbanginya, jumlah uang dicekik, tapi suku bunga jadi naik. Akibatnya, daya beli menyusut. Putaran mesin di pabrik-pabrik harus dikurangi karena barang-barang tak terbeli. Penjualan seret, pendapatan perusahaan macet. Kredit tak terbayar, bank-bank terancam gulung tikar.
Dunia belum kiamat andai saja para bankir mau menambahkan kapital. Tapi, nyatanya, tak sedikit pengusaha yang membiarkan banknya ditutup, begitu saja. Lihatlah daftar 38 bank yang dibekukan operasinya dua pekan lalu. Dan catatlah betapa banyak bos konglomerat, yang selama ini kelihatan serba mampu dan tak pernah kekurangan, membiarkan bank-bank hanya tinggal nama.
Ambil contoh Fadel Muhammad. Pemilik Bank Intan ini mestinya "tinggal" menyuntikkan sebagian dari Rp 253 miliar agar banknya selamat. Tapi, menurut Bank Indonesia (BI), pengusaha alat-alat berat dan agribisnis ini dinyatakan, "tak mampu menyetor lebih besar dari 20 persen dari kebutuhan modal".
Begitu juga keluarga Gondokusumo. Grup usaha yang terkenal piawai dalam industri keuangan ini mestinya menyetor sebagian dari Rp 706 miliar untuk menyelamatkan Bank Dharmala. Tapi nyatanya Gondokusumo memilih menyerahkan banknya.
Sofyan Wanandi perlu Rp 118 miliar untuk mengentaskan Danahutama. Sahid Sukamdani butuh Rp 233 miliar untuk "mengevakuasi" Sahid Gajah Perkasa. Tutut, yang selama ini enteng saja membangun jalan tol berdana puluhan triliun ripiah, cuma membutuhkan Rp 1,8 triliun untuk Yakin Makmur. Tapi semua bos konglomerat papan atas itu, menurut catatan BI, tergolong "tak mampu".
Lalu mengapa mereka begitu gampang menyerah? Sebagian dari mereka, katanya, memang cuma bisa pasrah. Mereka ngeper. Masa depan bisnis bank yang tak juga cerah dalam tiga tahun ke depan. Kalaupun saat ini dipertahankan hidup, bank-bank itu kelak belum tentu bisa selamat. "Daripada cuma menunda kematian," kata seorang bankir.
Namun ada juga yang merasa mampu, ingin banknya tetap hidup, tapi diperlakukan tak adil. Berbeda dengan bankir lain yang bisa menggaet bantuan penyertaan modal pemerintah hingga 80 persen, para bankir ini mengaku diminta menyetor seluruh kebutuhan modal. Seratus persen, bulat-bulat, tanpa bantuan pemerintah.
Komisaris Utama Bank Papan Sejahtera, Mustafa Zuhad Mughni, misalnya, mengaku kaget mendengar tawaran BI itu. Boro-boro setor 100 persen, menyuntik seperlima saja, sebagaimana ketentuan minimal, para pemegang saham Bank Papan sudah kelimpungan. "Kalau cuma seperlima masih bisa diusahakan, tapi ini harus Rp 1,3 triliun sekaligus," katanya. Alhasil, walaupun sudah lolos proses ujian yang lain, para pemilik Bank Papan memutuskan untuk membiarkan saja banknya.
Nasib Bank Ciputra lebih mengenaskan. Sehari menjelang penutupan, komisaris Bank Ciputra mengaku sudah mendapatkan investor yang siap menyuntikkan modal 20 persen. Namun tiba-tiba pemerintah mengubah permintaannya. Setoran modal Bank Ciputra 100 persen harus disediakan pemiliknya. Pemerintah tak mau turut campur. Jumlahnya tak besar, memang, cuma Rp 70 miliar. Tapi keluarga Ciputra agaknya lebih memilih bisnis propertinya ketimbang mempertahankan banknya. "Tutup sajalah, daripada nombok terus," kata Ciputra terus terang.
Menurut Ciputra, Bank Ciputra terus merugi Rp 5 miliar setiap bulannya. Akibatnya, modal Bank Ciputra terus memburuk. Barangkali itulah yang menyebabkan Ciputra tobat berbisnis di bank. "Saya kapok," katanya. Tak kecewa, Pak Ci? "Kalau Anda punya anak menderita sakit sudah lama, lalu meninggal, apa Anda kecewa? Tapi masa Anda tak kecewa, biar bagaimana dia anak Anda sendiri," kata Ciputra menggambarkan kerusuhan hatinya.
Tapi betulkah ada pilih kasih? Direktur Bank Indonesia Subarjo Joyosumarto mengakui adanya perbedaan perlakuan. Menurut Subarjo, tak semua bank yang pemiliknya mau setor 20 persen kebutuhan modal otomatis mendapat injeksi modal dari pemerintah. BI akan menimbang-nimbang lebih dulu apakah bank-bank ini layak ikut diberi dana atau tidak.
Untuk memutuskannya, ada dua saringan: apakah pemilik dan pengurus bank ini masih layak memimpin bank? Jika pengurus dan pemilik bank punya cacat dalam pengelolaan bank, BI akan mikir-mikir. Kalaupun banknya dihidupkan, pemilik dan pengurus yang "tercela" itu harus diamputasi alias diganti. Yang kedua, apakah prospek bank-bank ini cukup baik. Jika dalam tiga tahun mendatang bank-bank ini masih juga terus merugi, modalnya terus merosot digerogoti kredit macet, pemerintah tak akan berani meneruskan proyeknya.
Jadi, untuk bank-bank seperti ini, pemerintah mengaku tak punya pilihan. Kalau pemilik mau banknya jalan terus, ada jalan lain: mereka harus menyetor modal sendiri, penuh, 100 persen, tanpa bantuan pemerintah. "Saya kira ini tawaran yang adil," kata Subarjo.
Sejumlah pengusaha konglomerat seperti Ciputra, Fadel, Sofyan Wanandi, Sahid, dan Gondokusumo menampik tawaran Subarjo. Tapi yang lain menerimanya. Pengusaha Bambang Rahmadi, misalnya, mau menyuntikkan sendiri Rp 170 miliar kebutuhan modal Bank IFI. Dengan setoran ini, modal Bank IFI langsung melompat masuk ke kelompok bank yang tak perlu direkapitalisasi.
Keluarga Salim dari Bank Windu Kentjana juga mengikuti langkah Bambang Rahmadi. Cikal bakal kelompok usaha Grup Salim ini disuntik Rp 37 miliar sehingga "langsung sehat". Marimutu Sinivasan malah lebih hebat. Pengusaha benang, tekstil, alat-alat berat, dan kini truk itu rela menyetor hampir Rp 1 triliun untuk mengentaskan Putera Multikarsa.
Lalu apakah dengan suntikan ini bank-bank itu akan selamat? Untuk sementara, ya. Tapi, dalam jangka panjang, belum tentu. Ujian pertama akan datang dari pengawasan BI. Bank-bank yang langsung menenggak "obat kuat" dengan setoran modal 100 persen dari pemilik ini akan terus diteropong oleh orang-orang BI.
Bank-bank itu akan terus diteliti apakah setoran modal itu benar-benar berasal dari kantong sendiri, dan bukan uang hasil pinjaman yang akan segera ditarik kembali. Saringan pertama akan dilakukan 21 April mendatang. Jika didapati bahwa setoran modal bank-bank ini cuma sementara, bank-bank kagetan itu akan masuk kotak. Selanjutnya, setiap enam bulan sekali, BI akan terus memonitor apakah setoran modal itu menguap atau tidak.
Kalaupun selamat dari teropong BI, bank-bank ini belum tentu lolos dari ujian pasar. Mereka harus bertarung dalam persaingan bisnis industri perbankan yang lagi sakit bengek. Modal yang sudah mereka suntikkan bisa-bisa akan kembali tererosi. Sektor produksi riil yang belum berputar baik, dan bunga bank yang masih cenderung tinggi, akan membawa virus kredit macet kembali meracuni bank. Dan kalau itu terjadi, sulit bagi bank-bank ini untuk bertahan pada tingkat kecukupan modal yang disyaratkan.
Lalu untuk apa para pengusaha itu mau menyetor modal ratusan miliar untuk menempuh risiko yang begitu sulit? Entahlah. Mungkin saja mereka yakin, banknya akan selamat. Mungkin saja mereka optimistis, situasi bisnis akan segera membaik. Siapa tahu?
Tapi ada juga yang curiga, sebagian bankir ini punya agenda tersembunyi. Apa itu? "Ah, seperti tak tahu saja," kata seorang bankir, "mereka ini belum sempat panen saat banknya akan ditutup."
Benar begitu? Jangan sirik, ah.
DSI, M. Taufiqurohman, Iwan Setiawan
|