|
ISTRI perdana menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir, Nyonya Siti Wahjunah ''Poppy" Sjahrir, meninggal dunia dalam usia 78 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pertamina, Jakarta, Senin 8 Maret 1999, pukul 21.10 WIB. Sebelumnya, almarhumah sempat dirawat di sana karena sakit panas dan gangguan pernapasan. Presiden beserta Nyonya Ainun Habibie melayat ke rumah duka keesokan harinya, di Jalan H.O.S. Cokroaminoto 61, Menteng, Jakarta Pusat.
Dalam suasana gerimis, jenazah Poppy dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa 9 Maret 1999, dengan upacara militer. Menteri Sosial Justika Baharsjah, mewakili pemerintah, bertindak selaku inspektur upacara. Hampir semua kerabat dekat Poppy turut mengantar peraih Bintang Mahaputra Pertama ini ke liang lahad, antara lain Prof. Emil Salim, Letjen TNI (Purn.) Kemal Idris, Mochtar Lubis, H. Rosihan Anwar, Fikri Jufri, Onghokham, dan tokoh-tokoh tua Partai Sosialis Indonesia (PSI).
''Poppy Adalah tokoh yang patut ditiru karena sejak muda telah menunjukkan kegigihannya berjuang mencapai cita-cita kemerdekaan," kata Emil Salim dalam sambutan perpisahan mewakili rekan almarhumah.
Riwayat hidup Poppy memang penuh dengan semangat perjuangan. Sejak muda, putri sulung Prof. Dr. K.R.T. Mohammad Saleh Mangundiningrat ini aktif dalam gerakan kemerdekaan. Sebagai tokoh gerakan mahasiswa, ia antara lain memimpin Perhimpunan Mahasiswa Putri Indonesia (Indonesische Vrouwelijke Studenten Vereniging) untuk priode 1940-1941.
Bahkan, untuk hal yang ia perjuangkan, bekas sekretaris Sutan Sjahrir ini bersedia berhadapan dengan risiko dijebloskan ke penjara. Pada Agresi Belanda I (1947-1948), misalnya, ia pernah dikenai tahanan rumah selama enam bulan oleh Belanda di Linggarjati, Jawa Barat.
Kegigihan Poppy dibarengi dengan ketegarannya. ''Ketika Sjahrir ditangkap oleh Soekarno, dia tetap tabah, setia, dan menghargai perjuangan suaminya," kata Kemal Idris dalam kesan-kesannya.
Semangat mengisi kehidupan dengan beragam kegiatan seolah tak ada habisnya bagi kakak kandung anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Prof. Miriam Budiardjo ini. Kendati sudah berusia lanjut, Poppy tetap aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga menderita stroke. Menurut penuturan putrinya, Siti Rabiyah Paryati, selama menderita sakit pun beliau masih menyempatkan diri mengontak teman-temannya, seperti almarhum Soebadio Sastrosatomo, mantan Sekretaris Jenderal Partai Sosialis Indonesia.
Meskipun aktif di berbagai kegiatan politik dan sosial, menurut Rosihan Anwar dalam in memoriam-nya di Kompas, 10 Maret, ''Poppy lebih banyak sebagai ibu rumah tangga, walaupun dia juga mengetuai Gerakan Wanita Sosialis (GWS)."
Menikah dengan Sutan Sjahrir di Kairo, Mesir, pada 1951?dengan penghulu Rektor Universitas Al-Azhar?Poppy dikaruniai dua orang anak. Poppy lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat, 11 Mei 1920. Ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya di Surabaya pada 1939, kemudian melanjutkan studi ke Rechts Hooge School (sekolah tinggi hukum) di Batavia. Ia meraih gelar meester in de rechten (sarjana hukum) dari Universitas Leiden pada 1950.
|