Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XXIIIIIIII/16 - 22 Maret 1999
   
Luar Negeri

Wajah Iran yang Simpatik

Kelompok moderat Iran memenangi pemilu dewan kota secara telak. Presiden Khatami membangun wajah Iran yang simpatik di mata Barat.

Iran tak lagi menjadi sosok yang menakutkan bagi Barat. Lihatlah yang terjadi di Roma, Selasa pekan lalu. Ribuan polisi dikerahkan untuk mengamankan kunjungan kenegaraan Presiden Iran Mohammad Khatami. Jalur lalu lintas Kota Roma kacau. Helikopter meraung-raung di angkasa secepat iring-iringan mobil yang membawa Khatami dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Ini adalah kunjungan bersejarah karena merupakan kunjungan pertama kalinya dari orang nomor satu Republik Iran, yang selama ini dianggap sebagai paria oleh negara Barat. Sejak pecah revolusi Islam di Iran pada 1979, hubungan Iran dengan Barat jatuh pada tingkat yang paling rendah.

"Iran tak berniat bermusuhan dengan negara apa pun. Iran menginginkan hubungan yang rasional, hubungan yang sehat, yang berlandaskan pada saling menghormati dan tidak campur tangan," ujar Khatami.

Setelah Revolusi 1979 di Iran, negara-negara Barat?khususnya AS?mengecap Iran sebagai negara yang menganut fundamentalisme Islam yang kemudian menjadikan Iran sebagai pusat terorisme internasional. AS secara sepihak memberlakukan embargo ekonomi terhadap Iran. Tindakan AS itu sebenarnya tak sepenuhnya disetujui sekutunya di Eropa Barat. Tak aneh kalau Prancis tak peduli dengan gertakan Amerika terhadap perusahaan Perancis yang membuka hubungan dagang dengan Iran. AS, yang pernah dijuluki "setan besar" oleh kaum mullah garis keras, hingga kini masih menyangsikan perubahan yang sekarang terjadi di Iran.

Kini Italia secara terbuka menyambut kedatangan Presiden Khatami. Presiden Italia, Oscar Luigi Scalfaro, menyambutnya dengan bentangan karpet merah, lengkap dengan pasukan kehormatan dan grup musik, Selasa pekan lalu. Khatami meminta agar Barat memperlakukan Iran dan negara Islam lainnya secara adil. Ia juga menekankan bahwa Teheran membuka diri untuk berdialog dan bekerja demi keamanan global.

Setelah itu, giliran Paus Yohannes Paulus, pemimpin tertinggi umat Katolik, menyambut Khatami di ruang kerja pribadinya di Istana Kepausan Vatikan. Mereka mengadakan pembicaraan tertutup selama 15 menit tentang Kristen dan Islam. "Ini adalah hari penting yang sangat menjanjikan," ujar Paus. Sebaliknya, Khatami menimpali, "Harapan terhadap kemenangan monoteisme, etika, dan moral secara bersama-sama dengan kedamaian dan rekonsiliasi. Tuhan bersamamu."

Pertemuan Khatami dengan Paus merupakan peristiwa luar biasa dalam dunia Islam. Khatami mewakili negara Islam garis keras yang secara politik sangat bermusuhan dengan Barat yang Kristen. Adalah hal yang luar biasa ketika Khatami meminta Paus berdoa untuknya sembari berjanji akan berdoa untuk kesuksesan dan kesehatan Paus. "Ini betul-betul hari yang indah. Saya kembali ke negeri saya dengan penuh harapan terhadap masa depan," kata Khatami kepada Paus.

Terobosan Khatami sebenarnya sudah bisa dilihat sejak ia terpilih sebagai Presiden Republik Islam Iran pada 1997. Khatami adalah kekuatan moderat dalam politik garis keras kaum mullah. Sejak saat itu, kalangan moderat semakin mendapat angin dalam konstalasi politik Iran, yang sangat didukung kaum muda yang lahir tak lama sebelum dan sesudah Revolusi 1979. Dukungan itu semakin mencolok dalam pemilu lokal yang hasilnya diumumkan Senin pekan lalu. Kelompok moderat berhasil meraih 124 kursi di 28 kota provinsi. Sedangkan kelompok konservatif hanya meraih 44 kursi. Bahkan, di Ibu Kota Teheran, kelompok moderat meraih 13 kursi dari 15 kursi Dewan Kota Teheran.

Perubahan arah politik yang lebih berarti tampaknya sedang terjadi di Iran. Buktinya, selain kelompok moderat meraih kemenangan telak, kaum perempuan, yang selama ini tak mendapat tempat dalam jabatan politik, dalam pemilu lokal mendapat suara yang sangat berarti. Sebanyak 300 politisi perempuan terpilih sebagai anggota dewan kota, termasuk kakak perempuan Khatami. Dalam daftar kandidat, terdapat 4.000 perempuan dari 300 ribu kandidat.

Kemenangan kelompok moderat memunculkan harapan bahwa kelompok moderat yang reformis akan menggantikan dominasi kelompok konservatif di parlemen Iran dalam pemilihan parlemen mendatang. Sebuah era baru negeri para mullah yang lebih simpatik dan Barat (Amerika) yang tidak semena-mena.

R. Fadjri (bahan: Associated Press, Reuters)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data