Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XXIIIIIIII/16 - 22 Maret 1999
   
Kritik

ICMI = Cina Miskin?

MENYAKSIKAN acara Pro dan Kontra yang ditayangkan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Kamis, 11 Februari 1999, yang menghadirkan K.H. Abdurrahman Wahid dan Achmad Tirtosudiro, sebagai rakyat kecil, saya tergugah.

Pertama, diucapkan oleh Gus Dur bahwa ICMI, yang diwakili oleh Bapak Achmad Tirtosudiro, tidak memahami hati nurani rakyat. Bagi rakyat biasa yang bukan anggota partai politik ataupun anggota ICMI, ucapan Gus Dur itu jelas keliru. Tapi, kalau yang dimaksud dengan "rakyat" itu adalah warga NU, barangkali ada benarnya.

Menurut saya sebagai rakyat, justru pemikiran ICMI lebih sejalan dengan nurani rakyat daripada pemikiran (baca: ucapan-ucapan) Gus Dur. Dan di masyarakat, orang yang beranggapan seperti ini sangat meluas, kecuali barangkali di kalangan NU sendiri. Saya takut, kalau saja kesan ini representatif, alangkah kasihannya Gus Dur. Ternyata, dia telah salah menangkap hati rakyat.

Kedua, ucapan Gus Dur di televisi, yang tentunya disimak oleh banyak orang, bahwa ICMI adalah akronim dari "Ikatan Cina Miskin Indonesia", merupakan suatu penghinaan. Di ICMI, sangat banyak orang yang dihormati masyarakat. Karena itu, sebagai tokoh agama, yang konon punya jutaan pengikut, ucapan Gus Dur tersebut sungguh tidak pantas.

Ketiga, apa yang pernah dikatakan oleh M. Dawan Rahardjo bahwa Gus Dur itu adalah "kapal perusak" tampaknya memang benar. Kesukaannya yang ingin dilihat lain daripada yang lain itu tidak lagi didasarkan pada kehendak orang banyak, tapi lebih pada kepentingan pribadi.

Sejarah sudah banyak membuktikan, kejatuhan seorang tokoh sering tidak terduga. Dan itu bukan karena yang bersangkutan demikian jahat, melainkan justru karena dia dianggap sebagai "malaikat" sehingga orang di sekitarnya merasa terlalu naif untuk mengingatkannya.

Saminuddin B. Tou

Desa Gue Gajah,

Banda Aceh


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data