Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XXIIIIIIII/16 - 22 Maret 1999
   
Investigasi

"Untuk Bayar Pak Ogah pun Kurang"

Muljohardjoko, 57 tahun, berkantor di Taspen, sejak Februari 1996. Presiden Direktur yang membawahi badan usaha dengan 2.200 karyawan ini memang bukan orang baru di bidang keuangan. Ia mengawali kariernya di Departemen Keuangan di bidang pinjaman luar negeri. Alumnus Fakultas Ekonomi UI ini pernah juga berdinas di PT Telkom, terakhir ia menjabat sebagai direktur keuangan.

Pada Oktober 1998, ia diangkat menjadi Direktur Utama Bank Mandiri. Namun, di sana, ia hanya bekerja selama 35 hari sebelum kembali memimpin PT Taspen. Tentang Taspen, Muljo mengaku ingin mengurangi baik saham maupun jumlah perusahaan tempat PT Taspen berinvestasi. "Tapi kondisi ekonomi tidak memungkinkan, sehingga dibiarkan saja walau tidak menghasilkan deviden," ujarnya.

Agus S. Riyanto dan Dewi Rina Cahyani menemui Muljohardjoko di rumahnya, kawasan Kemanggisan Utama, Jakarta Barat, Kamis silam. Petikannya:




Berapa jumlah perusahaan yang disuntik dana oleh Taspen sekarang?

Masih sama, 17 perusahaan itu (lihat tabel Mereka yang Menadah Dana) dan tidak ada tambahan perusahaan (yang didanai Taspen) sejak saya masuk ke sini, pada Juni 1996.


Kalau penambahan dana investasi?

Juga tidak ada penambahan. Setelah saya masuk, kebijakan-kebijakan dalam penempatan dana kami bakukan. Sebab, menempatkan dana, di mana pun, harus memenuhi tiga kriteria, yaitu. return yang optimal, aman, dan liquid. Sepanjang memenuhi ketiga kriteria itu, ya enggak apa-apa.


Memangnya dulu Taspen belum melakukan hal itu?

Kami mengarah ke sana, hanya mungkin dulu tidak jelas. Kini lebih jelas. Misalnya, ada jumlah maksimum penempatan dana di bank papan bawah, tengah, atau atas. Kalau suatu bank itu aman dan liquid, tapi bunganya hanya satu persen, saya tidak akan menempatkan dana di situ. Ketika saya masuk, dana Taspen ada di sekitar 50-an bank. Nah, penempatan yang tidak sesuai kriteria kami kurangi sampai habis.


Lalu, bagaimana nasib dana-dana yang ditanam di perusahaan seperti DSTP (PT Dua Satu Tigapuluh, perusahaan yang memberikan dana kepada IPTN untuk membuat pesawat jet nasional)?

Dana itu akan dikembalikan. Minimal sama dengan harga yang dulu. Tapi bisa saja lebih, karena dananya didepositokan sementara usahanya belum ada. Jumlahnya sekitar lima miliar.


Kenapa Taspen masih bertahan pada 17 perusahaan di atas, padahal sekarang bunga deposito sangat menjanjikan?

Bukan bertahan. Anda lihat saja, perusahaan seperti Bukaka (salah satu yang disuntik dana Taspen, Red.) yang sudah go public. Boro-boro mau menjual dengan harga tinggi, dijual biasa saja tidak ada yang mau beli. Hampir semua perusahaan yang ada di pasar modal kan begitu. Selain Telkom dan Indosat, nilai saham-saham lain itu, untuk membayar Pak Ogah di perempatan saja kurang.


Di bank mana saja Taspen menempatkan uangnya sekarang?

Melihat kondisi sekarang kami perlu berjaga-jaga. Jadi hanya di bank-bank pemerintah.


Apa ada dana yang disimpan di Bank Mandiri?

Jangan Anda kait-kaitkan dengan jabatan yang pernah saya pegang di Bank Mandiri. Sejak awal kami telah menyimpan di bank-bank pemerintah.


Berapa dana Taspen yang disimpan dalam bentuk deposito?

Kira-kira 90 persen. Sedangkan investasi dalam SBI (Sertifikat Bank Indonesia) sudah dihentikan sejak November 1998, karena tingkat bunga deposito bank bagus. Jadi, ya didepositokan saja. Investasi dalam bentuk obligasi ada di PLN dan Pegadaian, masing-masing Rp 10 miliar dan Rp 5 miliar. Di dua tempat itu kan tidak ada masalah.


Apakah Pak Mari?e Muhammad (bekas Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VI) atau Pak Bambang Subianto (Menteri Keuangan Kabinet Reformasi Pembangunan) pernah memberikan instruksi untuk menyertakan dana di sana-sini?

Menteri Keuangan memberi kami rambu-rambu bagi tempat investasi harus ditanam. Tapi soal instruksi tidak pernah. Pak Mar?ie kan lugas juga. Saya ini anak buah Pak Mar?ie waktu di Departemen Keuangan dulu. Jadi saya kenal sifat-sifatnya.


Berapa aset PT Taspen sekarang?

Bisnis Taspen itu ada dua, yaitu Tabungan Hari Tua (THT) dan Dana Pensiun. Dari kedua program itu asetnya kira-kira Rp 13 triliun.


Lalu, berapa yang diperoleh dari deposito bank?

Anda tahu sendiri, bunga bank pada 1998 itu tinggi sekali. Jadi bunganya cukup tinggi. Kalau deviden perusahaan tidak ada, itu karena hampir semua perusahaan merugi, jadi tidak menghasilkan.


Ada UU No. 11/1992 yang mengatur pengelolaan dana pensiun secara aman. Penyertaan modal ke 17 perusahaan--yang kemudian terbukti tidak menghasilkan, apakah itu sama artinya dengan melanggar UU di atas?

Wah, itu dulu aku enggak ngerti (tertawa sembari mengangkat kanan). Sejak saya datang kan kondisinya sudah seperti itu. Ketika diangkat oleh Pak Mari?e, saya dipesan untuk tidak menambah (investasi di perusahaan) lagi.



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data