Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXIIIIIII/02 - 8 Maret 1999
   
Olahraga

Harapan Inggris di Pundak Keegan

Dengan status pelatih FA paruh waktu, target Inggris ke Piala Eropa 2000 disandarkan pada pundak Joseph Kevin Keegan.

HANYA dua pekan bunyi peluit pelatih tak terdengar. Pertengahan Pebruari lalu, tim nasional sepak bola Inggris sudah mendapat pelatih pengganti, setelah pelatih lama, Glenn Hoddle, didepak karena ucapannya yang melecehkan orang cacat. Harapan para penggemar bola sepak itu kini disandarkan pada Joseph Kevin Keegan, pemain terbaik Inggris 1976 dan 1982.

Tugas Keegan tidaklah ringan. Ia bertanggung jawab membawa Inggris menuju Piala Eropa tahun 2000. Untuk memperoleh tiket itu, Inggris harus menggasak habis Polandia, Swedia, dan Bulgaria, dalam tiga pertandingan prakualifikasi Eropa, dan memenangi satu pertandingan persahabatan, yang dimulai 27 Maret mendatang. Bebannya makin berat karena status Keegan cuma sebagai pelatih paruh waktu. Untuk 18 bulan ke depan, ia masih terikat kontrak dengan tim Fulham Athletics. Dengan waktu yang hanya sebulan ini, memang tak mudah bagi Keegan untuk memoles kemampuan pasukannya.

Tapi Geoff Thompson, pemimpin The Football Association (FA) Inggris, sangat optimistis bahwa Keegan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Menurut Thompson, Keegan adalah sosok paling cocok untuk mengisi jabatan pelatih tim kesebelasan yang dijuluki St. George Cross itu. Selain berpengalaman, Keegan memiliki kemampuan untuk membangun motivasi dan menyusun strategi, dua kepandaian yang sangat dibutuhkan tim nasional Inggris saat ini. Karena itu, Thompson menjamin, masa depan Inggris akan lebih baik, minimal tak lebih buruk daripada saat di tangan Hoddle.

Sebagai pemain sepak bola, Keegan, 48 tahun, bahkan lebih senior daripada Hoddle, 41 tahun. Penggemar berkuda itu menjalani debutnya pada 1967, tujuh tahun sebelum Hoddle menjadi pemain profesional. Memang, sebagai pelatih, karir Hoddle maju setahun lebih dulu dibandingkan dengan penggantinya ini. Pada 1991, Hoddle sudah bekerja sebagai pelatih sekaligus pemain di tim Swindon.

Karir Hoddle mulai cerah, tiga tahun kemudian, saat membawa Chelsea, kesebelasan yang diasuhnya sejak 1993, menembus final Piala FA. Prestasi itu mengantarnya pada peluit pelatih tim nasional Inggris, menggantikan Terry Venables, yang pensiun pada 1996. Di tangan Hoddle, Inggris menjuarai Tournoi de France pada 1994 dan menjadi juara grup II prakualifikasi Piala Dunia 1998.

Sementara itu, Keegan baru mengawali karir manajerial dalam tim sebagai manajer Newcastle pada 1992. Setahun kemudian, tim ini menjadi juara divisi satu Inggris. Pada 1997, ia berkenalan dengan Muhammad Al-Fayed, pemilik tim Fulham Athletics sekaligus pemilik toko serba ada Harrods yang terkenal di London. Al-Fayed menjanjikan bonus besar bila Keegan mampu memuluskan jalan Fulham ke divisi utama Inggris. Bahkan Al-Fayed menyediakan dana 10 juta poundsterling bagi Fulham.

Dengan kebaikan seperti itu, tak aneh bila Keegan merasa gelisah ketika publik Inggris—termasuk Perdana Menteri Tony Blair—memberikan dukungan kepadanya untuk menduduki kursi pelatih tetap FA. Apalagi Fulham baru saja mencetak prestasi spektakuler dengan mencukur tim besar Aston Villa di babak ke-4 Piala Liga Inggris, bulan lalu.

Prestasi seperti ini amat berarti bagi Keegan. Baginya, mengangkat tim gurem menjadi kesebelasan yang disegani memberikan makna tersendiri daripada menangani tim yang sudah mapan. Apalagi, seperti itu tadi, ia masih terikat kontrak. ''Menjadi pejabat FA sangatlah membanggakan. Tapi saya juga harus menyelesaikan tugas-tugas di Fulham," kata Keegan.

Lahir di Yorkshire, Inggris, 14 Februari 1951, Keegan mengenal sepak bola semenjak kanak-kanak. Bahkan, di sekolah, Keegan dikenal sebagai pemain yang andal. Ketika Keegan kesulitan mencari pekerjaan selepas SMU, ia mulai melirik hobi itu untuk menjadikannya sandaran hidup.

Keegan lantas mengisi bursa pemain di tim Schunthorpe United pada 1967. Sayang, sebagai pemain junior, ia menerima bayaran yang tak seberapa. Apalagi, saat itu, pertandingan tak seramai sekarang. Untuk mengisi saat jeda, Keegan mencoba mencari pekerjaan sambilan. Petugas pengangkut barang di rumah sakit adalah salah satu pekerjaan kasar yang pernah dilakoninya.

Kini Keegan tak perlu lagi sibuk memelototi iklan lowongan pekerjaan di koran-koran. Oleh FA, ia mendapat bayaran 500 ribu poundsterling sebulan. Pendapatan itu masih ditambah dengan penghasilannya melatih Fulham sebesar 750 ribu poundsterling. Mudah-mudahan, dengan gaji sebesar itu, Keegan tak hanya bisa menyenangkan Al-Fayed, tapi juga berhasil melempengkan cita-cita publik Inggris: membawa St. George Cross ke Piala Eropa 2000.

Ma'ruf Samudra


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data