Megawati Masih Nomor Satu PDI Perjuangan akan memenangkan pemilu. Megawati nomor satu untuk calon presiden. Golkar ternyata masih bertahan di posisi lima besar. Begitu hasil jajak pendapat TEMPO. |
BANTENG di lingkaran bulat itu memang betul-betul perkasa. Berdasar jajak pendapat TEMPO, banteng yang "digembalakan" Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan ini dipilih oleh paling banyak responden. Urutan berikutnya adalah "Mentari Biru" Partai Amanat Nasional dan "Ka'bah"-nya Partai Persatuan Pembangunan. Sementara itu, Golongan Karya, yang dulu mengklaim sebagai "mayoritas tunggal", kini terpuruk, meski masih bisa masuk lima besar.
Memang, jajak ini tidak dapat memetakan hasil pemilu secara nasional karena pelaksanaannya sebatas di Jakarta. Apalagi, selain karena suara dari luar Jakarta sangat menentukan perolehan hasil, jajak ini masih menyimpan banyak "suara tersembunyi". Lebih dari sepertiga responden merahasiakan dan masih belum menentukan pilihannya. Coblosan kelompok ini, tidak mustahil, bisa membolak-balik peringkat yang sudah ada.
Namun, toh peta suara Ibu Kota selalu punya arti strategis. Pemilihnya yang begitu majemuk adalah profil miniatur Indonesia, plus derajat melek politik mereka juga cukup tinggi karena memiliki akses informasi yang luas. Begitu pula dengan angka partisipasi politik yang amat besar, terbukti dari mengempisnya "golongan putih". Itu pun karena mereka kebingungan memilih satu dari ratusan partai yang ada. Pendeknya, barang siapa menguasai wilayah ini, dia akan memiliki rapor dukungan yang berkelas.
Lalu, apa alasan di balik coblosan itu? Kredibilitas tokoh adalah faktor terpenting, selain kesan publik atas kualitas program partai dan penilaian mampu tidaknya memperbaiki keadaan negeri ini. Kata "kesan" perlu digarisbawahi. Soalnya, sampai sekarang nyaris tak ada satu partai pun yang telah memasarkan haluan kerja secara komplet dan gamblang. Kesan bisa saja didapat dari statemen tokoh partai atas berbagai isu yang sedang berkembang.
Perlu dicatat, para responden adalah tipe pemilih yang rasional dan independen. Alasan-alasan irasional, semacam ideologi atau aliran (Islam, nasionalisme, marhaenisme), ternyata tidak begitu menentukan. Bahkan, pengaruh keluarga, teman, atasan, dan pemuka agama, bisa diabaikan. Jadi, kekhawatiran sementara orang soal bangkitnya kembali era politik-aliran agaknya terlalu berlebihan.
Hal tersebut makin dipertegas oleh kenyataan bahwa mayoritas responden memilih media massa (umum) sebagai sumber informasi. Jumlahnya sangat dominan, apalagi jika ditambah dengan media partai. Dua jenis wacana itu paling memungkinkan pemilih untuk mencerna pesan secara rasional dan cermat. Kampanye lapangan atau ajakan keluarga dan teman bukan sumber yang efektif. Apalagi, arahan tokoh masyarakat, agama, dan atasan amat kecil persentasenya. Jadi, tak beralasan jika ada partai yang bersikukuh mendesakkan model kampanye yang riuh rendah di lapangan. Publik justru mengharapkan pemasaran ide yang elegan dan cerdas.
Faktor tokoh, seperti diulas sebelumnya, semakin penting jika diperiksa silang dengan figur kepercayaan responden. "Jago-jago" unggulan ternyata berasal dari partai di peringkat lima besar. Megawati dari kandang "Banteng Bulat" adalah figur nomor satu di mata publik, lalu diikuti Amien Rais dari "Partai Matahari" dan calon presiden dari PKB, Gus Dur. Kali ini, Mega berhasil menyalip Amien. Pada jajak pendapat TEMPO tentang calon presiden akhir November lalu, Amien masih menang tipis. Para tokoh favorit tidak hanya didukung kalangan pemilih partainya. Mereka juga menjadi tumpuan dari konstituen partai alit yang tak punya figur mencorong.
Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah fenomena menarik. Namanya menyodok ke urutan keenam setelah ketua umum Partai Ka'bah, Hamzah Haz. Uniknya, yang membopong Raja Yogya ini adalah responden yang belum menentukan partai pilihannya. Bisa jadi ini disebabkan citranya sebagai tokoh independen. Sementara itu, calon presiden dari kubu Beringin, B.J. Habibie, berada di posisi keempat. Namun, jajak pendapat ini dilaksanakan sebelum meledaknya skandal percakapan teleponnya dengan Jaksa Agung Andi Ghalib, suatu peristiwa yang bisa menganjlokkan kredibilitasnya. Adapun para jenderal semacam Wiranto, Try Sutrisno, dan Edi Sudradjat ternyata tak dilirik oleh satu pun responden.
Peringkat di atas tentu saja belum jadi jaminan mendapat tiket ke istana. Soalnya, seperti diperkirakan sebelumnya, tak ada satu pun partai dominan. Suara yang tersebar membuat koalisi menjadi suatu keharusan, termasuk untuk urusan menentukan orang nomor satu dan nomor dua di negeri ini. Segala kemungkinan masih bisa terjadi. Yang sudah pasti, suara Anda pada 7 Juni nantilah yang akan menentukannya.
Karaniya Dharmasaputra
INFO GRAFIS| Partai yang akan dipilih | | Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan | 20% | | Partai Amanat Nasional | 14% | | Partai Persatuan Pembangunan | 11% | | Partai Kebangkitan Bangsa | 6% | | Partai Golongan Karya | 4% | | Belum menentukan | 20% | | Rahasia | 16% | | Tidak akan memilih | 4% | | | | Alasan memilih partai | | Kredibilitas tokohnya | 56% | | Programnya bagus | 52% | | Mampu memperbaiki keadaan | 41% | | Sama ideologi/alirannya | 26% | | Sesuai pilihan keluarga, teman | 4% | | Saran atasan | 2% | | Saran tokoh agama/masyarakat | 2% | | Tidak tahu | 3% | | | | Sumber Informasi | | Media massa | 61% | | Forum kampanye | 19% | | Media partai | 17% | | Keluarga, teman | 17% | | Tokoh masyarakat | 6% | | Tokoh agama | 4% | | | | Tokoh partai paling dipercaya | | Megawati | 28% | | Amien Rais | 17% | | Gus Dur | 11% | | Habibie | 9% | | Hamzah Haz | 9% | | Sultan HB X | 9% | | Tidak ada | 18% | | | |
Metodologi jajak pendapat ini:
Penelitian ini dilakukan oleh Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 498 responden di lima wilayah DKI pada 10-16 Februari 1999. Dengan jumlah responden tersebut, tingkat kesalahan penarikan sampel (sampling error) diperkirakan 5 persen.
Penarikan sampel dilakukan dengan metode random bertingkat (multistages sampling) dengan unit kelurahan, RT, dan kepala keluarga. Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi antara wawancara tatap muka dan melalui telepon.
|