Perjalanan Panjang Sang Apo dan Kurdi Perjuangan bangsa Kurdi memperoleh kemerdekaan menjadi arena pembantaian di antara bangsa sendiri. Sementara itu Turki dan Irak melakukan pembasmian etnis Kurdi. |
Pulau Imrali, Laut Marmara. Dari balik terali penjara yang sepi itu, pemimpin gerilya Kurdi, Abdullah Ocalan, mengeluarkan seruan yang mengejutkan pengikutnya. Sang Apo, julukan buat Ocalan, meminta agar gerilyawan Kurdi meletakkan senjata dan menyerah ke pemerintah Turki. Seruan yang dilansir oleh media massa Turki Sabtu dua pekan lalu itu berupa rekaman kaset. Pemerintah Turki tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan. Permintaan Ocalan akan disebarluaskan dengan pesawat terbang di atas pegunungan bagian tenggara Turki dan utara Irak. Di kawasan itulah sekitar 6.000 gerilyawan Kurdi bersembunyi. Meski Ocalan sudah menyatakan meninggalkan perjuangan bersenjata sejak tahun lalu, banyak pihak masih meragukan keaslian pernyataan dari pulau yang diisolasi itu. ''Kami tak percaya Ocalan membuat seruan itu," kata Mizgin Sen, juru bicara Eniya Rizgariya Netewa Kurdistan—ERNK (Front Pembebasan Nasional Kurdistan), sayap politik Partiya Karkeren Kurdistan—PKK (Partai Buruh Kurdi).
Pada saat yang bersamaan, Perdana Menteri Bulent Ecevit juga menyerukan hal yang sama kepada gerilyawan Kurdi yang bersembunyi di pegunungan dan di gua-gua. Menurut Ecevit, ia sudah mendapat jaminan dari semua partai di parlemen bahwa pemerintah akan mengampuni gerilyawan Kurdi yang meletakkan senjata. ''Selamatkan dirimu dari tangan-tangan yang akan mengeksploitasi dan melemparkanmu ke dalam api perang. Yakinlah, kalian tak dapat menggulingkan negara (Turki)," ujar Ecevit. Namun penangkapan Ocalan tampaknya tak mengendurkan nyali gerilyawan Kurdi. ''Walaupun kami kehilangan pemimpin besar, ini tak berarti partai dan militer kami akan lemah," ujar Cemal Bayik, salah seorang pemimpin puncak PKK.
Perjuangan bangsa Kurdi untuk mendirikan negara merdeka Kurdi Raya adalah sebuah kisah panjang yang penuh darah. Sebelumnya aspirasi kemerdekaan Kurdi sudah ditindas oleh penguasa Kerajaan Ottoman dan Persia. Wilayah permukiman Kurdi membentang di daerah pegunungan yang meliputi wilayah Turki, Syria, Irak, dan Iran. Ketika kekuasaan Ottoman runtuh setelah kalah dalam Perang Dunia II, wilayah Kurdi terbelah di empat negara, yakni Turki, Irak, Syria, dan Iran. Mulanya tuntutan kemerdekaan Kurdi diakui dalam Perjanjian Sevres di Inggris pada 1920. Tapi tuntutan itu dikubur pada 1932 di Lausanne, Prancis. Turki dan Irak, yang memiliki populasi terbesar bangsa Kurdi, menihilkan tuntutan kemerdekaan Kurdi. Pembasmian tak hanya dilakukan dengan cara militer sebagaimana yang dilakukan oleh Turki dan Irak, tapi juga secara kultural. Contohnya, pemerintah Ankara melarang penggunaan Bahasa Kurdi di sekolah dan siaran radio. Bahkan kata Kurdi dan Kurdish dilenyapkan dari kosakata bahasa resmi di Turki. Sebagai gantinya pejabat Turki mengganti istilah bahasa Kurdi menjadi bahasa pegunungan. Saddam Hussein membasmi etnis Kurdi secara sistematis dengan meratakan kota dan desa yang dihuni suku Kurdi dengan senapan, pesawat tempur, dan buldoser.
Kisah yang penuh tangis dan darah ini bermula dari kegiatan kelompok mahasiswa beraliran kiri pada 1960-an yang tergabung dalam Organisasi Pemuda Revolusioner. Kelak kelompok ini mendirikan Tentara Pembebasan Rakyat Turki. Kelompok ini adalah penganut Marxisme-Leninisme. Abdullah Ocalan adalah salah seorang aktivisnya yang waktu itu masih kuliah di Fakultas Ilmu Politik Universitas Ankara. Mereka ingin mengobarkan revolusi komunis di Turki lewat operasi gerilya, dengan tujuan membebaskan wilayah tenggara Turki. PKK sebenarnya sudah terbentuk pada 12 November 1978 dan Ocalan terpilih selaku ketua. Tapi mereka bergerak secara klandestin di Distrik Diyarbakir, Ankara. Sejak itu Ocalan mulai membangun organisasi sembari giat belajar teori gerakan revolusioner.
Strategi partai mulai terbentuk pada awal 1980-an dengan mengutamakan konsep teror revolusioner yang berdasarkan pada propaganda militer, membentuk tentara gerilya, dan mengembangkan gerilyawan menjadi angkatan bersenjata sesungguhnya. Untuk mendukung operasi gerilya, PKK mendapat masukan dari penyelundupan obat bius, yang setiap tahun mencapai US$ 86 juta dan juga sumbangan pengusaha dan kaum profesional Kurdi yang tersebar di seluruh Eropa.
Ketika terjadi kudeta militer di Turki pada pertengahan September 1980, PKK terpaksa menyingkir ke Lembah Bekaa di bawah kontrol Syria. Sejak itu gerilyawan PKK dilatih di Lembah Bekaa untuk menyerang sasaran militer Turki dari utara Irak dan Syria. Selain itu gerilyawan PKK juga menumpas kaum kolaborator Kurdi. Mereka juga menyerang pedesaan Kurdi yang tak bersedia mendukung PKK, membunuh guru, dan membubarkan sekolah yang menggunakan sistem pendidikan Turki. Pertempuran PKK dengan militer Turki ini telah menodai catatan hak asasi manusia di Turki.
Dominasi garis Marxis di PKK menimbulkan perpecahan, apalagi mayoritas suku Kurdi adalah penganut muslim, yang tak sejalan dengan garis ideologi PKK yang Marxis. Ocalan segera menyadari kelemahan strategi perjuangan PKK dan kemudian membentuk Arteshen Rizgariya Gelli Kurdistan—ARGK (Tentara Pembebasan Rakyat Kurdistan). ARGK menempatkan kelompok non-Marxis dan bahkan massa muslim Kurdi di bawah satu atap. Strategi gerilya pukul dan lari digunakan di seluruh wilayah Turki. Serangan pertama PKK terhadap pos militer Turki bagian Tenggara berlangsung pada Agustus 1984. Inilah awal perang besar yang berkepanjangan antara gerilyawan PKK dan militer Turki. Sebuah laporan menyebutkan setidaknya 2.500 penduduk sipil Kurdi tewas, 156 guru terbunuh, dan 4.000 tentara Turki tewas. Sebaliknya sekitar 20 ribu gerilyawan Kurdi tewas. Sejak itu pemerintah Turki menyatakan Ocalan bertanggung jawab terhadap matinya 37 ribu korban sipil dan militer.
Sebenarnya, sejak 1980, PKK lebih ingin memperjuangkan status otonomi daripada menjadi negara merdeka. Khususnya mereka memperjuangkan kebebasan menggunakan bahasa Kurdi di sekolah dan siaran radio. Tapi pemerintah Turki tampaknya tak peduli. Bahkan Perdana Menteri Turgut Ozal membentuk Pengawal Desa di wilayah suku Kurdi pada 1984. Kelompok paramiliter ini direkrut dari penduduk Kurdi. Hingga 1990 terdapat 70 ribu orang Pengawal Desa yang digaji oleh pemerintah Turki. Akibatnya, konflik berdarah di antara sesama suku Kurdi berlangsung sepanjang tahun. Militan PKK menyerang penduduk sipil yang mempunyai hubungan keluarga dengan anggota Pengawal Desa. Korbannya kebanyakan bayi dan perempuan. Ocalan pun mendapat julukan baru dari pemerintah Turki: Pembunuh Bayi.
Konflik berdarah sesama Kurdi ini mengubah strategi perjuangan PKK pada 1990 lewat kongres partai. PKK menghentikan semua aktivitas yang mengakibatkan korban di kalangan penduduk sipil dan memusatkan pada sasaran militer serta perjuangan politik. Pada kongres itu juga PKK mengeluarkan amnesti umum untuk semua anggota Pengawal Desa yang meletakkan senjata dan menolak bekerja sama dengan pemerintah Turki. Kerja sama dengan kelompok muslim dipererat. Ini terlihat dari selebaran PKK yang selalu dimulai dan diakhiri dengan doa dan sikap akomodatif yang diwujudkan dalam bentuk kerja sama dengan Partai Revolusioner Hisbullah Kurdi, yang selama ini menentang jalan Marxisme PKK. Kerja sama ini menekankan perjuangan propaganda terbuka dan tertutup melawan Turki dengan mengutamakan aspek hak asasi manusia.
Sikap moderat PKK semakin tampak dengan kesediaan mereka menerima Konvensi Jenewa pada 1994 tentang hukum kemanusiaan dalam perang. Sejak itu PKK hanya mengizinkan target penyerangan terhadap anggota militer Turki, pasukan antigerilya Turki, dinas intelijen Turki, dan anggota Pengawal Desa. Jalur diplomatik semakin menonjol dalam strategi PKK. Parlemen Kurdi di pengasingan yang berpusat di Belgia dimanfaatkan untuk merintis hubungan dengan PBB. Negara-negara Eropa umumnya membuka pintu untuk pengungsi Kurdi. Bahkan pemerintah Turki menuduh Yunani ikut membantu aksi-aksi teror gerilya Kurdi terhadap Turki.
Perubahan strategi yang sangat radikal terjadi pada Januari 1995 lewat Kongres ke-5 PKK, dengan sebuah resolusi yang melenyapkan simbol palu arit dari bendera PKK. Resolusi itu juga menolak konsep sosialisme ala Soviet dan kebijakan partai yang bersifat dokmatis. Bahkan para elite pemimpin PKK mencela sosialisme ala Soviet sebagai ''era sosialisme yang paling primitif dan penuh kekerasan". Sejak itu Ocalan bak seorang diplomat yang sibuk keluar-masuk negara lain mencari dukungan internasional sembari menghindar dari incaran agen-agen Turki.
Ocalan memang sudah menyatakan menanggalkan baju gerilyawan, tapi tak ada jaminan gerilyawan Kurdi akan meletakkan senjata jika pemerintah Turki menjatuhkan hukuman mati terhadap Ocalan. Tanda-tanda perlawanan dalam bentuk lain kini sudah muncul. Kedai-kedai di pedesaan Kurdi sudah berani mengumandangkan lagu-lagu berbahasa Kurdi, yang selama ini dilarang oleh pemerintah Turki.
R. Fadjri (Bahan: Associated Press)
|