Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXIIIIIII/02 - 8 Maret 1999
   
Inovasi

Macet? Pakai Heli

Kemacetan lalu lintas memang menyebalkan. Orang sering bermimpi bisa terbang agar keluar dari suasana yang menjengkelkan itu. Agustus nanti, impian tersebut bakal terwujud karena di pasar akan dijual helikopter GEN-H4 yang diperuntukkan buat satu orang aja. Harganya tak lebih mahal dari harga jual sedan Volvo terbaru di sini: 20 ribu pound sterling, atau sekitar Rp 280 juta bila dihitung dengan kurs sekarang.

The Sunday Times melaporkan, mesin helikopter ini dirakit dengan teknik sederhana sehingga hanya butuh 40 jam saja untuk merakitnya. Dengan setang yang mirip setang sepeda motor, heli buatan Engineering System of Nagano, Jepang, ini juga cukup mudah dikemudikan. Kalau berat badan pilot tak lebih dari 70 kilogram, heli bisa terbang sampai ketinggian 3.000 meter dengan kecepatan 96 kilometer per jam.

Tak seperti heli biasa, mesin pada GEN-H4 tidak dilengkapi dengan rotor di ekor pesawat. Untuk menjaga kestabilan, heli ini mengandalkan dua rotor atas yang bergerak dengan arah berlawanan. Sedangkan untuk keamanannya, ada empat mesin berkapasitas 125 cc yang terpisah. Sebenarnya, dengan dua mesin saja heli bisa mendarat dengan aman. Jadi, mesin lainnya untuk cadangan. Bila ketiga mesin mati juga, secara otomatis parasut akan terbuka sehingga baik pengemudi maupun mesinnya dapat mendarat dengan aman.

Karena memang dirancang untuk keperluan sehari-hari, saat ini Engineering System tengah mengembangkan helikopter yang bisa dipasang pada kap mobil. Wah, kalau sudah betul-betul jadi produk massal begitu, jangan-jangan kemacetan berpindah lokasi, ke atas.

Kapal Kargo Bertenaga Jet


Samudra Atlantik sebentar lagi akan terasa lebih pendek untuk dilayari kapal-kapal kargo. Bila pembuatan kapal FastShips yang menggunakan baling-baling bertenaga jet air selesai, waktu tempuh yang dibutuhkan lima kali lebih cepat ketimbang waktu tempuh kapal-kapal kargo yang sekarang dipakai. Selama ini, paling kurang dibutuhkan 15 hari bagi kapal kargo konvensional untuk berlayar dari Philadelphia, Amerika Serikat, menuju Cherbourg, Prancis. Bahkan, bila cuaca buruk, waktu tempuh bisa molor hingga 21 hari.

Menurut perancang FastShips, David Giles, kepada The Sunday Times, cuaca buruk tidak akan berpengaruh pada kapal ini. Dengan lambung berbentuk huruf V yang tajam, kapal ini akan mudah mengiris gelombang. Lima mesin jet air yang dikerjakan General Electric dan Roll-Royce diperkirakan akan mampu mendorong kapal ini sampai kecepatan 72 kilometer per jam. Padahal, kapal biasa sudah "megap-megap" untuk mencapai 40 kilometer per jam saja.


Untuk Penderita 'Macular'



Efek samping suatu terapi sering tak terhindarkan dalam pengobatan. Terapi penyinaran dengan sinar laser, misalnya, sering kali tak hanya melibas bagian tubuh yang sakit, tapi juga menghancurkan sel-sel sehat di sekitarnya. Kini, ada terapi fotodinamik, yang telah sukses diujicobakan di AS dan Eropa, yang bisa bekerja hanya pada bagian tubuh yang sakit.

Terapi ini menggunakan obat verteporfin yang diinjeksikan ke tubuh penderita.
Obat ini sangat peka terhadap cahaya dan hanya akan aktif bekerja dengan penyinaran laser. Molekulnya peka terhadap cahaya. Artinya, obat ini, meski sudah mengalir ke tubuh, tidak akan bekerja—sehingga tak menimbulkan efek samping terhadap sel-sel sehat—bila tidak disinari dengan laser. Dengan cara ini, benjolan yang tidak diinginkan, seperti tumor dan gumpalan darah di mata, bisa disingkirkan.

Verteporfin yang dikembangkan oleh QLT PhotoTherapeutics, suatu lembaga bioteknologi di Vancouver, mengambil inspirasi dari klorofil atau zat hijau daun yang menyerap cahaya untuk melangsungkan proses fotosintesis.

The Economist melaporkan, terapi ini telah sukses diujicobakan pada penderita macular, salah satu penyebab kebutaan terbesar. Setelah diinjeksi verteporfin, mata penderita disinari laser selama 90 detik. Hasilnya bagus. Pasien yang menjalani terapi tiga kali setahun punya 34 persen kemungkinan lebih baik dalam mempertahankan penglihatannya dibandingkan dengan yang tidak menjalani terapi ini.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data