Meramal Datangnya Tsunami Hampir semua pantai di Indonesia rawan terjangan tsunami. Bila anak Krakatau meletus, Pantai Anyer, Carita, hingga Ujungkulon akan tersapu gelombang |
PANTAI Carita dan Anyer memang punya pemandangan yang indah. Tak heran bila di sepanjang pantai itu bermunculan hotel. Ternyata di- sana ada bahaya mengancam: sewaktu-waktu disapu tsunami atau gelombang yang terjadi akibat aktivitas seismik di dasar laut.
Inilah bahaya yang mengintai wilayah pantai Selat Sunda. Apabila terjadi letusan anak Krakatau atau jatuhan lahar yang besar ke laut, gelombang setinggi 9-15 meter akan menghantam pantai bagian barat Jawa Barat mulai dari Anyer, Tanjunglesung, Panaitan, sampai sekitar Ujungkulon.
Ini bukan ramalan. Kedahsyatan gelombang itu dihitung dengan teliti, atas dasar survei bagian Matra Laut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak 1992—setelah tsunami menerjang Flores dan menewaskan lebih dari 2.000 orang. Saat itu, Desember 1992, ketinggian gelombang di Flores Timur mencapai 26,2 meter.
Tsunami juga menghantam Banyuwangi (1994) dan Sulawesi Selatan (1996) walaupun jumlah korbannya tidak seberapa. Menurut penelitian BPPT, daerah rawan tsunami lainnya adalah pantai Manado, pantai timur Kalimantan, pantai barat Sumatra, dan kepulauan di Maluku. "Pantai Indonesia hampir semuanya rawan tsunami kecuali yang menghadap ke Laut Jawa," kata Manajer Kompetensi Inti Kelautan Direktorat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf S. Djajadihardja.
Selain itu, BPPT juga membuat modelling numerik tsunami yang bisa ditampilkan dalam simulasi dari data yang telah dikumpulkannya, seperti kedalaman laut, catatan gempa, zona patahan, aktivitas gunung berapi, dan aktivitas seismik lainnya. Selain Selat Sunda dan Selat Makassar, pada akhir Februari pantai barat Sumatra juga sudah bisa dilihat zonasi tsunaminya. "Manado juga sudah kami lihat profil lautnya. Sangat curam. Jadi berbahaya juga untuk bangunan," ujar Yusuf.
Bila dibandingkan dengan Amerika atau Kanada, bahaya yang mengancam pantai-pantai di Indonesia memang lebih besar. Itu disebabkan oleh dekatnya pantai dengan zona subduksi, tempat gempa berasal. Di zona yang merupakan pertemuan bagian daratan dengan bagian dasar laut ini mudah terjadi patahan, longsoran, dan geseran kulit bumi dasar laut. Di Laut Selatan Jawa, misalnya, jarak pantai dengan pusat gempa cuma 50 kilometer. Di Kepulauan Maluku dan Sulawesi bagian timur bahkan bisa terjadi tsunami lokal karena begitu dekatnya zona subduksi dengan pantai.
Oleh karena itu, sistem peringatan akan datangnya tsunami dengan radar deteksi yang dipergunakan Amerika atau Kanada tidak cocok dipergunakan di sini. Di Amerika atau Kanada cukup dengan pelampung yang ditempatkan di Samudra Pasifik, pelampung itu akan mengirim data tentang tinggi gelombang dan perubahan tekanan. Cara ini cukup memadai karena gelombang tsunaminya butuh waktu sehari untuk mencapai pantai. "Tapi di Indonesia waktu tempuh ke pantai hanya 3-5 menit saja," kata Yusuf.
Alternatif yang disodorkan BPPT untuk meramalkan datangnya tsunami adalah suatu detektor pasif yang diletakkan di beberapa pantai. Detektor ini hanya akan mengirim data ke stasiun pemantau melalui satelit bila terjadi gelombang yang "aneh' yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami. Penjelasannya sebagai berikut. Setiap gelombang laut mengalirkan arus listrik dan menimbulkan medan magnet. Karena tsunami medan magnetnya sangat besar di layar monitor akan tampak arus menjalar yang disebut arus soliter—tak seperti gelombang biasa yang tampak naik turun. "Kalau kita melihat gelombang soliter peringatan harus diberikan kepada penduduk," kata Yusuf.
Bila proyek BPPT ini berjalan mulus, dalam tiga tahun mendatang, akan dihasilkan peta lengkap yang bisa digunakan untuk perencanaan tata ruang. Sayang—mungkin karena krisis—proyek ini masih mendapat prioritas rendah dari Bappenas. Tahun lalu hanya Rp 15 juta dana yang dialokasikan untuk proyek ini.
Sembari menunggu hasilnya, seorang peneliti yang ikut terlibat dalam proyek itu, Gegar Sapta Prasetya, menyarankan agar jarak bangunan dan pantai jangan kurang dari 500 meter. Sebagai pelindung, sarannya, hijaukan pantai dengan pohon pinus atau bakau yang berguna untuk memecah gelombang. Cara ini selain murah memang telah terbukti ampuh. Ketika tsunami menerjang Flores, desa di timur Maumere ternyata diselamatkan oleh benteng alam tiga lapis: terumbu karang, hutan bakau, dan kebun kelapa rapat yang membatasi desa dan pantai.
Gabriel Sugrahetty, IGG Maha Adi
|