Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXIIIIIII/02 - 8 Maret 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Stop Kliring atawa Likuidasi?

Bagaimana mengirim bank-bank yang sekarat ke kamar mayat? Ada banyak cara. Rencana semula, pemerintah akan menutup bank dengan cara likuidasi. Tapi Jumat (26 Februari), sehari sebelum hari pencabutan nyawa (yang kemudian dibatalkan itu), Bank Indonesia mengumumkan tak akan melikuidasi bank. Sebagai gantinya, BI akan menghentikan operasi bank yang dianggap "berbahaya" dengan cara melarangnya melakukan kliring.

Lalu apa bedanya? Menyetop kliring bank pada dasarnya sama dengan membekukan alias menghentikan operasi bank. Bank dilarang melakukan transaksi. Tagihan terhadap bank tak bisa dicairkan. Sebaliknya, bank dilarang menerima tabungan atau simpanan dana publik. Bank yang tercekik ini lalu diserahkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Lembaga inilah yang kemudian mengelola aset bank yang sekarat (tapi belum mati) itu. BPPN akan menalangi kewajiban bank, mengambil tulang dan menyelamatkan dagingnya.

Mewakili suara pemegang saham, BPPN lalu membekukan bank. Setelah semua aset bank diselamatkan, semua beres, barulah raga yang sudah tak punya apa-apa itu diserahkan ke BI. Bank sentral akan membuat surat kematian alias mencabut izin bank yang tak bernyawa ini. Bank pun secara fakta maupun hukum telah mati.

Langkah penyetopan kliring ini, menurut BI, dilakukan untuk menyelamatkan aset bank. Kalau dulu, dengan likuidasi, aset bank sering dibawa kabur sebelum timnya terbentuk. Dalam likuidasi, langkah pertama yang ditempuh adalah membuat peraturan pemerintah tentang likuidasi bank. Baru kemudian membentuk timnya. Ini makan waktu lama. Bisa sebulan, dua, lima, atau setahun. Berlarut-larut. Sepanjang tim likuidasinya belum ada, pemilik bank tetap bercokol dan melakukan apa saja. Kelak, ketika tim likuidasi bekerja, aset banknya sering sudah kosong.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data