Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXIIIIIII/02 - 8 Maret 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Maju Mundurnya Penutupan Bank

Kamis siang (25 Februari), seluruh komite dalam Program Rekapitalisasi Bank Umum selesai bekerja. Komite kebijakan (terdiri dari Dirjen Lembaga Keuangan Departemen Keuangan Susianti B. Hirawan, Ketua BPPN Glen M.S. Jusuf, dan Direktur BI Subarjo Joyosumarto) berhasil menyusun daftar 16 bank yang akan dibekukan operasinya. Ada 14 bank lagi yang masih berada dalam daftar tunggu. Mereka sedang berada dalam tahap "tawar-menawar" karena beberapa sebab, misalnya ada bank yang belum mendapat setoran modal tapi mengaku sudah mengantongi komitmen "akan" mendapat suntikan akhir Maret. Rencana pengumuman tetap dilakukan Sabtu, 27 Februari.

Kamis sore, hasil kerja Tim Rakapitalisasi Bank Umum ini diserahkan ke panitia pengarah, yaitu Menteri Keuangan Bambang Subianto dan Gubernur Bank Indonesia Sjahril Sabirin. Bambang dan Sjahril setuju dengan hasil kerja tim—termasuk daftar bank-bank yang akan dibekukan operasinya. Pada saatnya nanti, ke-16 bank itu akan dilikuidasi bersama 10 bank yang selama ini sudah dibekukan. Pada rapat ini, kabarnya, juga disetujui ada lima bank yang masih diberi kesempatan hingga akhir Maret untuk menyetor modal.

Kamis menjelang malam. Daftar ini diserahkan ke Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Keuangan dan Industri, Ginandjar Kartasasmita, yang diteruskan dengan rapat tim dengan Ginandjar dan para menteri di bidang keuangan, di rumah Ginandjar. Rapat agak alot sampai larut malam tapi akhirnya menyetujui hasil kerja Tim Rakapitalisasi. Daftar bank yang akan dilikuidasi dinyatakan final.

Kamis malam, hasil rapat di rumah Ginandjar diserahkan ke Presiden. Tim hanya bertemu dengan staf ahli Presiden. Karena sudah terlalu larut, pembahasan tak sempat dilakukan. Tim bubar dan kemudian pulang.

Kamis tengah malam hingga Jumat pagi, terjadi perubahan keputusan besar-besaran di kantor Presiden. Hasil kerja tim dianggap belum tuntas. Dengan meninggalkan 14 bank yang sedang tawar-menawar dalam daftar "tunggu", berarti membuka kemungkinan adanya likuidasi lanjutan. "Tim" di Kantor Presiden menganggap keputusan ini akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Dana Moneter Internasional (IMF), kabarnya, setuju dengan argumen ini: likuidasi harus dilakukan serempak.

Jumat pagi (26 Februari), sebagai wakil pemerintah, Menteri Keuangan Bambang Subianto menghadiri Rapat Paripurna APBN dengan DPR di Senayan. Sementara itu, di Sekretariat Negara sekitar pukul 11, Menteri Ginandjar mengumumkan penundaan pengumuman likuidasi bank hingga dua pekan ke depan. Ketika ditanya wartawan tentang penundaan ini, Jumat siang, Bambang Subianto amat kaget, "Anda jangan ngarang, ah," katanya setengah tak percaya. Di Kebonsirih, Kantor Biro Gubernur Bank Sentral mengaku kaget membaca pernyataan Ginandjar di Reuters.

Jumat siang sehabis salat Jumat, Bambang Subianto ngumpet di salah satu ruang tunggu di Gedung DPR. Ia baru keluar ketika rapat akan dimulai. Ketika dikejar wartawan, ia berjanji akan menjelaskan soal penundaan itu setelah rapat selesai. Tapi, begitu sidang beres, Bambang buru-buru kabur ke mobilnya. "Saya capek, saya capek," katanya menghindar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data