Lakon Gus Dur Mengentaskan Papan |
Ada tidaknya kepentingan politik dalam program likuidasi perbankan barangkali bisa dilihat dari nasib Bank Papan Sejahtera. Bank menengah yang dibeli tokoh politik Abdurrahman Wahid dari tangan pengusaha Hashim Djojohadikusumo ini sedang berjuang untuk lolos saringan program rekapitalisasi. Jika berhasil, Papan bakal selamat dari pedang likuidasi.
Di atas kertas, peluang Papan amat tipis. Berdasar hasil uji tuntas (due diligence) auditor internasional, rasio kecukupan modal Papan jauh di bawah standar. Dengan CAR minus 55 persen, Papan memerlukan dana lebih dari Rp 500 miliar hanya untuk mengantongi tiket masuk program rekapitalisasi. Setelah itu, Gus Dur harus menyuntikkan beberapa puluh miliar lagi agar Papan bisa ikut diinjeksi modal oleh pemerintah, dan lolos dari likuidasi.
Hingga Jumat (26 Februari), sehari sebelum rencana eksekusi likuidasi bank dilakukan, modal Papan masih belum juga bertambah. Papan masih masuk kelompok bank dengan kecukupan modal di bawah minus 25 persen, yang harus digusur. Gus Dur mestinya sudah siap-siap merelakan uang Rp 30 miliar miliknya yang sudah kadung dibelikan 25 juta saham Papan.
Namun, untunglah, cuma sehari sebelum hari pembantaian itu, pemerintah berubah pikiran. Pengumuman penutupan bank ditunda hingga dua pekan ke depan. Papan seperti diberi napas tambahan. Namun, mampukah dalam dua pekan ini Gus Dur menyetor modal dalam jumlah begitu besar? Kalau ia tak sanggup, adakah investor lain yang akan menyelamatkan Papan?
Bank Indonesia (BI) semula mencoret Papan dari daftar bank yang naik kelas. Rencana kerja Papan ditolak. Selain itu, BI mencium keterlibatan Edward Seky Soeryadjaya di dalam Papan. Padahal, bekas pemimpin Bank Summa yang telah dilikuidasi itu masuk dalam daftar orang tercela yang diharamkan memasuki bisnis perbankan lagi.
Sebenarnya, Edward memang tak punya posisi di bank yang mengkhususkan diri dalam pembiayaan perumahan itu. Namun, anak konglomerat William Soeryadjaya ini memegang 30 persen saham Harawi Sekawan yang menguasai hampir 20 persen Papan. Artinya, secara tak langsung Edward memiliki enam persen saham Papan. Kalau Papan mau terus, Edward harus digusur.
Barangkali karena desakan ini, Edward mundur dari Papan. Caranya, pertengahan Februari lalu Edward melepas sahamnya di Harawi kepada Achmad Aminuddin Harlan. Siapakah Achmad Aminuddin dan bagaimana transaksi itu dilakukan, tak jelas benar. Namun, menurut Mustafa Zuhad Mughni, orang kepercayaan Gus Dur yang ikut mengelola Papan, Achmad Aminuddin merupakan pengusaha yang sudah dikenal baik oleh Gus Dur.
Apakah ini menyelamatkan Papan? Entahlah, kita lihat saja nanti. Yang jelas, menurut pengakuan Zuhad yang merupakan anggota komisaris Papan, setelah Edward mundur, rencana kerja Papan disetujui BI. Namun untuk merelakan dana hampir Rp 600 miliar, di hari-hari yang sulit ini, memang bukan soal yang gampang.
Apalagi, yang jadi pertaruhan bukan bank yang kinerjanya patut dibanggakan. Hingga akhir tahun lalu, dana pihak ketiga yang masih nongkrong di Papan tak lebih dari Rp 185 miliar. Dengan modal sudah minus Rp 805 miliar, praktis Papan hanya bernapas dengan pinjaman kasbon dari Bank Indonesia. Menurut laporan keuangan akhir tahun, tercatat ada kasbon lebih dari Rp 1 triliun dari BI yang kini berfungsi seperti jantung buatan bagi Papan.
Sebenarnya, peluang Papan belum tertutup habis. Sebelum menyerahkan 25 juta lembar sahamnya ke Harawi awal Desember lalu, Hashim memberikan komitmen untuk melunasi utangnya ke Papan. Jumlahnya fantastis: Rp 1,6 triliun. Ini hampir setara dengan seluruh kredit yang telah dicairkan Papan. Pertengahan Februari lalu, Hashim kembali menegaskan komitmennya melalui perjanjian tertulis. Menurut Zuhad, setengah saja kewajiban Hashim ini dipenuhi, Papan sudah bisa selamat. Sayang sekali, sampai sekarang, ''Hashim belum setor duit," kata Zuhad.
Kalau sampai dua minggu ke depan Hashim tak juga setor, secara teknis Papan dipastikan bakal ''lewat", kecuali jika ada sejumlah manuver ''non-teknis", seperti pertimbangan politik itu tadi. Zuhad sendiri yakin, banyak teman-teman Gus Dur yang akan membantunya mengeluarkan Papan dari kemelut. Sayang, seperti yang sudah-sudah, seperti ketika Gus Dur mengejutkan publik karena berani-beraninya membelanjakan Rp 30 miliar untuk Papan, Zuhad tutup mulut. Ia tampak ogah betul menyebut teman-teman Gus Dur ini. ''Ada banyak sumber, ada banyak relasi," katanya pendek.
Sulit dibantah, posisi Gus Dur amat sentral untuk mengentaskan Papan dari jurang likuidasi. Keluasan pergaulan kiai yang berpengaruh ini boleh jadi akan membantunya mencari investor baru. Sabtu pekan lalu, Gus Dur pergi seharian bersama Zuhad sehingga belum bisa dimintai keterangan bagaimana caranya mengatasi permodalan Papan.
Ada banyak kalangan yang mengaitkan upaya Gus Dur menjadi bankir dengan dana dari Cendana. Dugaan seperti ini agaknya mulai bertiup setelah kiai tambun itu, konon, rajin bertemu Pak Harto. ''Sampai bolak-balik lima kali," kata yang mengetahui, entah dari mana. Tampaknya, dugaan yang cuma menggatuk-gatukkan fakta yang jelas ini memang terlalu sembrono.
Namun, kalau mau diurut, kaitan bisnis Gus Dur dengan perusahaan yang pernah ''berbau" Cendana memang tak bisa dibantah. Di Bank Ficorinvest, bank yang dibelinya setelah Papan, Gus Dur bermitra dengan keluarga Tanoedjaja. Keluarga Tanoedjaja adalah penguasa mayoritas saham di Bhakti Investama, perusahaan sekuritas yang memakelari Gus Dur membeli Ficor. Di Bhakti inilah Titiek Soeharto punya saham sampai 14 persen. Namun, menurut pengakuan pejabat Bhakti, Titiek cuma mampir. Saham milik anak perempuan Pak Harto itu sudah dilepas sejak Mei tahun lalu.
Keluarga Tanoedjaja juga dikenal dekat dengan Edward Soeryadjaya. Keduanya berkongsi di Artha Graha Investama Sentral (AGIS) setelah Edward membeli saham perusahaan distributor elektronika itu, Desember lalu. Bhakti sendiri baru menggandeng satu investor yang didirikan sejumlah pengusaha Timur Tengah. Penanam modal yang berbendera Karibia ini berencana membeli 10-19 persen saham Bhakti.
Nah, benarkah hubungan belit-membelit seperti ini tak ada simpulnya? Bagaimana, Gus?
DSI, M. Taufiqurohman, Andari Karina Anom, dan IG.G. Maha Adi
|