|
|
| |
Edisi. 22/XXIIIIIII/02 - 8 Maret 1999
|
Perang yang Membingungkan Sebuah buku "buah reformasi" yang menyajikan sejumlah fakta tentang pengambilalihan Timor Timur. Betulkah CIA memainkan peran? |
| Perang Tersembunyi, Sejarah Timor Timur yang Dilupakan | | Penulis | : | John G. Taylor | | Penerbit | : | Fortilos, 1998 | | Tebal | : | xxxvii + 398 halaman |
Sulit untuk memahami nasib yang menimpa sebuah bangsa yang menyebut diri rakyat Maubere, mereka yang hidup di Timor Leste. Apalagi, menurut Habibie, "Ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Timor Timur tidak ikut. Timor Timur baru ikut 22 tahun lalu untuk bersama-sama berjuang dan membangun jalan menuju masyarakat modern dan masyarakat madani." Apa iya?
Pada 1974, ketika berkecamuk Revolusi Bunga di Portugal, pemerintah Lisabon memutuskan melepas wilayah yang jauhnya lebih dari 25 ribu kilometer itu. Saat itulah Indonesia, sebuah negara yang mencantumkan kata "kemerdekaan adalah hak segala bangsa…" memutuskan mengambil alih wilayah itu.
Langkah pengambilalihan Timor Timur oleh Indonesia dilakukan secara sistematis dengan berbagai strategi, dari aksi intelijen dan penggarapan kelompok milisi lokal hingga serangan militer dan pembinaan teritorial. Sejarah resmi versi pemerintah Orde Baru menyatakan bahwa proses integrasi dilakukan Indonesia setelah ada permintaan bergabung dari kelompok masyarakat Timor Timur lewat Deklarasi Balibo, 30 November 1975. Benarkah?
Sesungguhnya Indonesia telah menyiapkan sebuah langkah pengambilalihan Timor Timur jauh sebelum muncul Deklarasi Balibo. Sejak awal, pada 1975, pemerintah telah menyiapkan sebuah operasi yang diberi nama sandi Operasi Flamboyan. Menjelang serangan besar-besaran, 7 Desember 1975, operasi itu lalu dikenal sebagai Operasi Komodo dan kemudian diubah namanya menjadi Operasi Seroja. Operasi intelijen yang dimulai dari Timor Barat itu bertujuan merekrut tentara lokal dan mempersenjatainya dengan senjata eks Portugal. Satuan yang ikut operasi penyusupan jauh ke wilayah Timor Portugis tersebut lebih dikenal sebagai the blue jeans soldiers yang gondrong di bawah pimpinan Kolonel (waktu itu) Dading Kalbuadi. Sejumlah perwira yang mempunyai latar belakang combat intelligence juga dilibatkan, antara lain Kolonel Mardiyo sebagai kepala staf dan Kolonel Sinaga sebagai asisten intelijen.
Sejumlah sumber menyebut bahwa persiapan pengambilalihan Timor Timur sebetulnya telah dirancang Indonesia sejak pertengahan 1974. Sebagai tindak lanjut atas rencana tersebut, militer Indonesia mengadakan sebuah simulasi invasi di kawasan Lampung, Sumatera Selatan. Pemegang skenario pengambilalihan itu, tak lain, adalah kelompok yang dikomandani Ketua Opsus (Operasi Khusus) Ali Murtopo. Strategi "pengamanan" Timor Timur mendapatkan restu sepenuhnya dari Presiden AS Gerald Ford dan Perdana Menteri Australia dari Partai Buruh, Gough Whitlam. Tentu saja sikap ini sebetulnya merupakan pengkhianatan atas sikap resmi pemerintah Indonesia saat itu. Pada 17 Juni 1974, Menteri Luar Negeri Adam Malik mengirimkan sebuah surat kepada Jose Ramos Horta yang berisi penegasan Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Timor Timur dari jajahan Portugal. Pada 26 Juni 1975, di Makao, sebetulnya juga berlangsung perundingan antara pemerintah Porto dan semua partai politik di Timor Timur—sementara Indonesia diundang sebagai pengamat.
Betulkah Indonesia mengkhianati mukadimah undang-undang dasarnya sendiri? Lantas, apa alasan pencaplokan wilayah yang kini disebut-sebut sebagai daerah kering dan miskin itu? Betulkah semata-mata akibat komunistofobi berlebihan yang menghinggapi para pejabat tinggi saat itu? Ataukah mereka percaya kepada teori domino versi Amerika? Betulkah CIA memainkan sejumlah peran kunci dalam pengambilan keputusan pengintegrasian Timor Timur?
Buku "klasik" tentang Timor Timur ini adalah sebuah buku pegangan yang penting untuk dibaca setiap orang yang ingin memahami persoalan dan sejarah Timor Timur secara komprehensif. Buku ini dengan gamblang bisa membuktikan dengan berbagai fakta, disertai argumentasi, bagaimana pihak Amerika menyuplai persenjataan untuk menaklukkan Timor Timur, sebagaimana halnya upaya menaklukkan Vietnam. Kelebihan buku ini, sebagai karya terjemahan, adalah bahasanya yang lancar dan lugas.
Buku ini juga, lewat kutipan pengakuan sejumlah sumber, menggambarkan bagaimana berbagai tindakan kekejaman yang melewati ambang kemanusiaan dilakukan pasukan militer Indonesia. Melalui pembinaan teritorial, tentara mengembangkan sebuah kekuasaan yang dipenuhi teror dan intimidasi.
Masih ada pertanyaan yang tersisa setelah membaca buku "buah reformasi" ini: apa perlunya Indonesia mengintegrasikan Timor Timur, kecuali melahirkan sejumlah jenderal, kalau itu hanya berarti membunuh ribuan anggota ABRI dan melenyapkan 300 ribu rakyat Maubere?
Stanley J.A. Prasetyo
(wartawan, anggota Aliansi Jurnalis Independen)
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|