Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXIIIIIII/09 - 15 Februari 1999
   
Wawancara

'Di Ambon ini Terlalu Banyak Isu'

MALUKU mestinya merupakan tempat yang aman, tenang, dan tenteram. Apalagi dengan panorama pulau-pulau berpantai pasir putih dan ombak aduhai: Ambon, Seram, Ternate, Tidore, Banda. Waktu seperti lamban berjalan di kepulauan yang dijuluki Ambon manise itu. Hidup mengalir begitu saja layaknya air di Sungai Apu, Degan, Ciu, Cikita, Kao, dan lain-lain. Tak mengherankan bila warga Maluku hidup rukun dan damai seperti cerita di buku-buku sejarah anak-anak sekolah, dalam ikatan tradisi yang disebut pela gandong.

Siapa sangka, jalinan persaudaraan yang kukuh selama sekian lama itu putus justru pada hari yang paling fitri, Idul Fitri, 19 Januari silam. Kerusuhan kemudian mengoyak kawasan yang semula tenang itu. Lidah api menjilat bangunan. Akibatnya, menurut suatu laporan versi pemerintah, 94 orang kehilangan nyawa, 111 luka berat dan 7 luka ringan. Jumlah rumah yang rusak total 2.017, rusak berat 329 dan ringan 68. Dua belas masjid dan 19 gereja rata dengan tanah, 315 kios/toko hancur, ratusan kendaraan roda dua dan empat—juga becak—jadi abu. Lebih dari 25.000 jiwa terpaksa jadi pengungsi dadakan.

Sampai Senin pekan lalu, Maluku belum boleh tenang. Rombongan anggota Komnas HAM Albert Hasibuan dan Benjamin Mangkoedilaga, yang bermaksud menginvestigasi, justru dihadang parang. Sehari kemudian, giliran Seram yang berubah menyeramkan. Perkelahian antarwarga Desa Kairatu, Kabupaten Maluku Tengah, di Pulau Seram berbuntut rusuh. Tercatat 20 rumah di sekitar Pasar Kairatu terbakar, 4 orang luka-luka, dan 1.100 penduduk diungsikan.

Mengapa kerusuhan bisa meruyak? Benarkah ada provokatornya? Sulit menjawabnya. Ada provokator atau tidak, yang jelas banyak orang jadi sibuk. Dan tak pelak, Gubernur Maluku Muhammad Saleh Latuconsina menjadi pejabat tersibuk di sana pekan-pekan ini. Dalam usia 51 tahun ia harus turun ke lokasi kerusuhan, menenangkan massa, mendata dan menerima tamu-tamu dari Jakarta. "Saya cuma tidur tiga jam sehari," tutur gubernur yang baru dilantik April 1997 menggantikan Akib Latuconsina ini.

Doktor Ekonomi Transportasi dari Marseilles University, Prancis, ini kemudian menuturkan lebih detail soal kerusuhan di Ambon kepada Verrianto Madjowa dan Edy Budiyarso dari TEMPO. Wawancara dilakukan melalui dua cara, secara langsung di Ambon dan melalui telepon genggamnya, pekan lalu. Berikut petikannya.




Ada yang menyebut kerusuhan Ambon itu dipicu oleh langkah Anda menggusur 38 pejabat nonmuslim dari Pemda Maluku?

Itu sama sekali tidak benar. Saya sendiri menjadi bingung bagaimana orang dapat menyebutkan angka 38 orang. Memang ada pejabat eselon I dan eselon II yang dimutasi, dan jumlahnya hampir mendekati 38 orang. Dilihat dari komposisinya, selama saya menjadi gubernur, pada mulanya ada 16 pejabat Kristen dan 19 Islam. Setelah mutasi, yang Kristen menjadi 15 dan Islam 20 orang. Jadi total mutasi pejabat itu sebanyak 35 orang, bukan 38 yang disebut-sebut itu. Kalau dikatakan ada penggantian 38 aparat Kristen oleh aparat Islam itu ngawur. Itu jenis provokasi yang dibuat agar masyarakat terpengaruh.


Jadi tidak benar jika dikatakan penggantian pejabat itu karena motivasi agama?

Tidak benar. Mereka itu ada yang pensiun karena memang sudah waktunya, ada yang diganti seperti layaknya mutasi biasa, dan ada juga yang meninggal dunia. Apalagi untuk memutasi orang itu ada mekanismenya, yaitu melalui Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan) yang diketuai oleh Sekretaris Wilayah Daerah, Drs. Akywena. Di dalam badan ini ada bermacam-macam orang dan usul penggantian berasal dari unit yang bersangkutan. Jadi, gubernur itu tidak bisa otoriter seperti raja.


Ketua Baperjakat, Drs. Akywena, beragama Kristen?

Ya. Jadi, saya melihat isu mutasi 38 pejabat itu merupakan satu bentuk provokasi untuk membuat kacau Ambon.


Berita tentang penggusuran orang-orang Kristen itu sempat mengundang reaksi protes dari Ketua PBNU Abdurrahman Wahid. Menurut Anda?

Saya sedang mencari siapa yang menyampaikan itu ke Gus Dur, karena disebutkan sumbernya dari Ambon. Saya sudah memanggil dua pengurus wilayah NU. Mereka pun sudah memberikan pernyataan resmi bahwa NU wilayah Ambon tidak pernah menyampaikan masalah itu ke Gus Dur.


Jadi menurut Anda siapa yang memicu terbakarnya Ambon?

Ya, provokator-provokator itu. Provokator yang berasal dari Ketapang dan lain-lainnya itu yang kami cari. Jelas kami
melihat adanya provokasi.


Dari 37 orang yang sudah ditangkap oleh aparat keamanan, apakah sudah diketahui siapa di balik kerusuhan?

Saya belum tahu persisnya. Saya belum mendapatkan laporan itu.


Dari dulu penduduk Ambon dikenal ramah, terutama dalam kehidupan beragama, mengapa sekarang bisa terjadi kerusuhan SARA?

Saya sendiri bingung. Saat ini saya sedang di kendaraan berkeliling kota Ambon menuju tempat pengungsian, baik yang beragama Kristen maupun Islam. Dari mereka saya tidak mendapatkan adanya kebencian di antara sesama pemeluk agama Kristen dan Islam. Dan sekarang ini tiba-tiba muncul, ini suatu hal aneh.


Jadi dugaan Anda kuat sekali bahwa ada kelompok yang menggerakkan kerusuhan Ambon?

Ya, menurut saya para provokator ini terlalu pandai men-setting kerusuhan. Sebab, jauh sebelum kerusuhan, kami mendapatkan analisa situasi yang terjadi secara nasional. Apalagi setelah meletus peristiwa Ketapang di Jakarta, kami sudah sempat membuat Satuan Tugas Antar Kelompok Umat Beragama. Mereka ini terdiri para pemuka agama dan berkantor di sini (kantor gubernur). Pemuka agama Islam dari MUI Ambon, GPM Sinode, Sami Hitale, dan dari Keuskupan Ambon seorang pendeta.


Kapan satuan tugas para pemuka agama itu terbentuk?

Awal Desember, dua bulan yang lalu, dan sekarang sudah berjalan. Dua hari menjelang Lebaran, saya sendiri bersama dengan satuan tugas itu memberikan sumbangan uang dari umat Kristen dan Islam yang kami kumpulkan lewat satu pertemuan. Sumbangan itu kami berikan ke satu desa (Wailete di Ambon) yang dihuni suku Buton yang diserang oleh warga suku lain dengan latar belakang kriminal, pertengahan November.


Apa tugasnya?

Satuan tugas itu diharapkan dapat mencegah konflik antaragama di Ambon.


Jadi pemda sendiri sudah memprediksikan akan muncul konflik antaragama di Maluku?

Kami sudah memprediksi, terutama setelah peristiwa Ketapang di Jakarta. Tapi memang provokatornya terlalu pandai. Kerusuhan Ambon itu sama sekali tidak kami duga. Sebab, kerusuhan yang pada awalnya merupakan tindakan kriminal biasa itu, dalam sekejap, tidak lebih dari satu jam, sudah meluas ke seluruh Kota Ambon. Peristiwa Ambon itu mirip dengan peristiwa yang terjadi di Jakarta Mei 1998. Saya tahu, karena pada 14 Mei saya sedang berada di Jakarta. Dalam waktu tidak lebih dari satu jam, kira-kira hanya setengah jam, kebakaran itu sudah ada di mana-mana. Saya melihat memang ada unsur-unsur yang terencana kuat. Soalnya, di Ambon sendiri tidak pernah ada kerusuhan yang ditimbulkan oleh konflik antaragama.


Menurut Anda dari kelompok mana, apakah preman Ambon dari Jakarta?

Saya pernah mendengar berita ada beberapa ratus warga Ambon di Jakarta yang dipulangkan oleh Pemda DKI Jakarta dan oleh organisasi Maluku di Jakarta. Tapi setelah saya cek itu tidak benar. Ada indikasi beberapa di antara mereka memang pulang. Tetapi saya tidak bercuriga karena bisa saja mereka itu pulang karena ingin Lebaran dan Natal.


Menurut Anda, yang paling besar menjadi pemicu kerusuhan itu preman Ambon?

Itu sudah persoalan analisa. Di Jakarta itu ada dua grup orang Ambon. Ada yang Islam dan ada yang Kristen. Lantas, katanya, ada peristiwa Pam Swakarsa di Jakarta, lantas ada orang Ambon yang tewas, lantas ada kerusuhan Ketapang, ada gereja yang dibakar, dan sebagainya. Kalau mau dikait-kaitkan, ya, bisa saja. Tapi masih perlu diselidiki lebih jauh untuk dipastikan kebenarannya. Di Ambon ini terlalu banyak isu. Dan kalau kita membaca di internet saja, sepertinya sudah jelas persoalannya.


Benarkah yang menjadi provokator kerusuhan adalah Dicky Watimena, mantan wali kota Ambon?

Saya tidak tahu itu. Saya hanya baca berita sebuah koran terbitan Surabaya yang menyebutkan yang dituduh adalah mantan
wali kota.


Kabarnya, Dicky Watimena itu sempat diperiksa oleh Badan Intelijen ABRI?

Saya tidak bisa memberikan keterangan masalah itu.


Bagaimana dengan anggota Kostrad yang diculik oleh preman Ambon dari Jakarta yang bernama Milton Tuankotta?

Yang jelas ada satu korban dari prajurit Kostrad dengan pangkat prajurit dua.


Namanya?

Saya tidak ingat, tetapi ia berasal dari Bali, namanya I Ngurah....


Apakah benar ada preman Ambon dari Jakarta bernama Milton Tuankotta?

Di Ambon tersebar banyak isu, ada Milton ada Ongen Sangaji, tetapi sampai saat ini belum ada yang ditangkap. Mudah-mudahan jika sudah ada yang ditangkap akan semakin menjernihkan masalah.


Selain preman Ambon dari Jakarta, kabarnya kelompok RMS juga ikut mengail di air keruh. Menurut Anda?

Mereka ini yang sekarang sedang dicari oleh aparat keamanan. Pangab Jenderal Wiranto sudah memerintahkan Panglima Kodam Wirabuana untuk mencari provokatornya. Jadi, semua aparat sekarang ini sedang bekerja keras untuk mencari provokatornya. Kita tunggu saja, kalau sudah ketangkap kan lebih bagus.


Apakah gerakan RMS masih kuat di Ambon?

Yang kami dengar dari media massa di Belanda, RMS akan menyuplai apa saja, termasuk senjata, jika hubungan antara Ambon dan pusat di Jawa terputus. Itu yang dibicarakan di Belanda. Apakah hal itu sudah menjalar sampai ke Ambon, setelah kerusuhan, itu yang sedang kami cari tahu. Dan ini merupakan tugas aparat keamanan untuk melihatnya. Dalam situasi susah,
dengan hanya diberi uang, orang sudah bisa berbuat macam-macam.


Perkiraan Anda siapa yang banyak berperan dalam kerusuhan itu, RMS atau barisan sakit hati dari orang-orangnya Soeharto seperti yang disebutkan Gus Dur?

Saya belum bisa berbicara lebih jauh. Segala kemungkinan itu ada saja. Kami tinggal melihat saja sejauh mana dapat diungkap oleh aparat, dari sekian banyak yang sudah ditangkap.


Situasi di Maluku sebelum kerusuhan Lebaran juga sudah memanas karena di beberapa daerah terjadi kerusuhan massal, seperti kerusuhan di Dobo yang menyebabkan korban 20 orang tewas.

Kami melihat memang ada kaitan antara kerusuhan di Dobo dan di Ambon. Di Dobo terjadi perkelahian antarpemuda dari dua kelompok masyarakat. Dalam perkelahian di Dobo itu ada pemuda yang lari menyembunyikan diri di dalam masjid, lantas tersebar isu bahwa masjid itu sudah dihancurkan. Datang satu rombongan masyarakat, dan akhirnya dua kelompok masyarakat berkelahi. Yang berkelahi itu termasuk di dalamnya orang Bugis, Makassar, Ambon, dan orang-orang yang sering disebut orang Tenggara. Dalam perkelahian itu jatuh korban delapan orang, bukan 20 orang, dari kedua belah pihak.


Kerusuhan itu juga terjadi di Saumlaki, Tual, dan Pulau Seram?

Perkelahian di Dobo itu terjadi sebelum kerusuhan besar di Ambon. Perkelahian itu terjadi 14 Januari 1999. Sedangkan kerusuhan di Saumlaki itu merupakan ekses dari kerusuhan di Ambon. Peristiwa Xanana, Seram Barat, itu ekses dari Ambon sebagai akibat cepatnya informasi. Seperti yang terjadi di Xanana, disebutkan bahwa warga Xanana yang ada di Ambon sudah dikejar dan dibantai. Sedangkan di Saumlaki disebutkan ada pendeta yang dianiaya.


Apakah perkelahian antarwarga kampung di Maluku itu sudah mentradisi?

Orang Ambon itu bertemperamen keras. Walaupun keras, mereka tidak pernah main belakang. Jadi, kalau mereka mau berkelahi, ya, berkelahi. Tapi kalau sudah selesai, ya, selesai. Dan perkelahian antarkampung itu tidak pernah membawa agama. Perkelahian itu biasanya antarkampung, baik massal maupun orang per orang. Biasanya karena batas tanah, masalah dusun, antara kampung Kristen dan kampung Kristen. Jarang antara kampung Kristen dan Islam yang dikaitkan dengan agama, sebelum kerusuhan Ambon. Dalam perkelahian, warga di Ambon itu jarang membawa parang atau alat berupa senjata tajam. Biasanya berduel saja.


Apakah benar warga pendatang dari Bugis, Buton, dan Makassar itu menguasai perekonomian di Ambon sehingga menimbulkan kecemburuan sosial?

Negara ini kan negara bebas. Orang Bugis, Buton, dan Makassar tidak pernah dilarang masuk ke Ambon. Biasanya orang Ambon itu ingin menjadi tentara, pegawai negeri, jadi guru, dan sebagainya. Sedangkan yang menjadi pedagang itu kebanyakan para pendatang. Kita bisa melihat mana ada orang Ambon yang menjadi pedagang. Akhirnya yang masuk berdagang itu orang Padang, Makassar, Bugis, Buton, dan orang Jawa. Akhirnya memang lama-lama terjadi kecemburuan sosial. Itu juga terjadi pada transmigran. Tidak ada orang Ambon yang menjadi transmigran. Nanti setelah transmigrasinya maju, baru orang mulai cemburu. Jadi kecemburuan sosial itu kan ada di mana-mana, tidak khas Ambon.


Orang Bugis, Buton, dan Makassar itu memang benar menjadi penguasa dalam sektor ekonomi?

Tidak juga. Dibandingkan dengan etnis Tionghoa, mereka masih kalah. Orang Bugis, Buton, dan Makassar itu umumnya menguasai perdagangan kecil, menengah ke bawah. Biasanya mereka adalah pemilik kios di pasar-pasar. Dari berjualan daging hingga jual ikan di pasar. Kalau sudah haji, mereka dianggap sudah kaya.


Bagaimana situasi terakhir Ambon?

Kalau dibilang terkendali, ya, terkendali. Tapi orang-orang masih sangat sensitif. (Ada) rasa waswas, curiga satu sama lain, dan emosi, sehingga kalau ada sesuatu yang sangat kecil saja bisa menjadi besar. Aktivitas belum seperti sediakala. Toko-toko sudah mulai buka walau belum sepenuhnya, seperti di Pasar Mardika yang terbakar, banyak orang membuat tenda dan berjualan. Yang tadinya hanya menjadi pasar buah, sekarang menjadi pasar untuk berjualan apa saja. Transportasi umum sudah mulai jalan.


Berapa total kerugian materi akibat kerusuhan itu?

Total kerugian yang kami taksir, angka ini masih kasar, kira-kira Rp 500 miliar.


Meliputi apa saja?

Perumahan yang tersebar di Kota Ambon, di kota-kota kecamatan di Pulau Ambon sendiri, di Xanana, Dobo, Saumlaki, Seram Barat. Total rumah rusak karena terbakar habis kira-kira ada 2.000. Itu terdiri dari rumah permanen dan semipermanen. Sedangkan jumlah toko saya lupa angkanya, tetapi ada tiga pasar yang terbakar, yaitu Pasar Mardika, Pasar Buah, Pasar Batumerah.


Bagaimana langkah perbaikan yang akan ditempuh?

Karena permasalahan di sini kompleks sekali, jadi harus di bawah satu kendali. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengatakan, kendalinya di bawah gubernur. Maksudnya, untuk menyelesaikan masalah sektoral dalam sistem yang baik. Kita mulai dengan langkah darurat, misalnya menangani pengungsi. Angka sementara yang mengungsi di kamp-kamp (tidak termasuk yang di luar Ambon) sekitar 20 ribu orang. Untuk para pengungsi kita akan mencari tempat yang layak. Kalau kurang, kami akan membangun barak darurat. Tapi akan kami usahakan jangan hanya darurat.


Mengapa di tempat-tempat bekas kebakaran (kompleks pertokoan dan lain-lain) ada papan larangan membangun?

Itu maksudnya larangan membangun tanpa izin dari wali kota, supaya tertib saja. Jangan sampai orang yang punya tanah di situ malah diserobot haknya oleh orang lain.


Jumlah korban jiwa simpang-siur, bahkan ada yang menyebutkan ratusan bahkan ribuan orang tewas. Berapa angka sebenarnya yang didapatkan pemda?

Jumlah korban yang sampai saat ini tercatat di Polda adalah 65 orang. Ini angka tercatat, dan bisa saja angka ini terus bertambah mengingat banyak keluarga yang belum melapor. Kalau ada yang menyebutkan jumlah korban 150 sampai 550 orang, saya tidak tahu dari mana munculnya angka itu.


Kabarnya, ada mayat korban kerusuhan yang dibuang ke laut?

Sampai sekarang isu seperti itu berkembang terus. Baru saja saya dari luar kota dan mengamankan warga dari isu yang menyebutkan ada serangan dari daerah sini dan orang akan menyerang dari sana. Padahal semuanya nol besar. Itu ulah provokator saja untuk membuat kacau-balau.


Apakah bandara juga sudah dibuka?

Sebenarnya bandara Ambon tidak pernah ditutup, dan sudah seminggu ini ada pesawat komersial yang masuk sejak 26 Januari lalu. Selasa 19 Januari lalu, pada awal mula kerusuhan, masih ada pesawat yang masuk di bandara Ambon. Tapi kemudian saya mendengar dari berita bahwa bandar udara itu ditutup oleh Menteri Perhubungan.


Jadi tidak benar berita bahwa bandara sengaja ditutup agar tidak ada wartawan yang dapat meliput kerusuhan di Ambon?

Tidak benar. Yang menutup bukan saya, melainkan Menteri Perhubungan. Dan selama kerusuhan masih ada pesawat militer yang masuk ke Ambon, membawa pasukan dan sebagainya. Saya sendiri tidak pernah menutup bandara. Sama dengan jam malam, tidak pernah ada itu. Saya hanya mengimbau jangan keluar malam.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data