|
|
| |
Edisi. 19/XXIIIIIII/09 - 15 Februari 1999
|
Dari Moij Indie hingga Kucing Pameran retrospektif Popo Iskandar menggambarkan obsesinya terhadap sosok kucing. Popo terus mencoba berbagai kemungkinan visualisasi bentuk. Pelukis representatif atau formaliskah dia? |
Pameran Retrospektif| Karya | : | Popo Iskandar | | Waktu | : | 4-15 Feb 1999 | | Tempat | : | Galeri Nasional Indonesia, Jakarta | |
Suatu hari di tahun 1963, terjadi "perang" hebat di rumah pelukis Popo Iskandar. Persoalannya sederhana. Sebagai pelukis, Popo jatuh cinta pada sosok kucing (felidae). Maka, kucing-kucing tetangganya dibiarkannya memenuhi rumah. Sebaliknya, sang istri sangat jengkel. Segerombolan kucing itu pun diusir. Bayangkan, makhluk bermata nyalang itu membuang kotoran hampir di seluruh pojok rumah pelukis. "Perang" boleh berlangsung terus, tapi Popo hingga usianya 71 tahun kini masih tetap melayani kucing-kucingnya.
Ini sepenggal cerita tentang alam kreatif Popo yang menjadi sangat obsesif terhadap sosok kucing. Tema kucing menjadi sosok yang dominan dalam perjalanan karir Popo sebagai pelukis, yang kemudian diikuti dengan tema ayam jago sejak 1973 dan macan sejak 1980. Khalayak pun serta-merta melekatkan kucing pada sosok Popo Iskandar. "Kucing adalah makhluk yang mampu menampilkan bermacam-macam mood: marah, lucu, dan sekaligus misteri," kata Popo. Tiga tema ini pula yang dominan dalam pameran retrospektif Popo Iskandar yang mencoba menelusuri jejak kreatifnya selama 55 tahun karirnya selaku pelukis.
Betapa membosankan melukis subyek yang sama terus-menerus. Tapi, sebaliknya, Popo mengaku memperoleh tantangan yang jauh lebih besar daripada jika ia menggarap tema yang berbeda-beda. Bagi Popo, gagasan tiga subyek lukisannya itu hampir tak pernah habis. Itu bukan saja karena wujudnya secara visual yang menarik, tapi juga karena keterlibatannya dalam berbagai kondisi dan situasi kejiwaan yang dihayatinya. Ketiga tema itu menawarkan kemungkinan yang luas dalam eksplorasi karakter dan elemen rupa. Menurut Ardiyanto dan Tubagus Andre, kurator yang menggarap pameran ini, dari visualisasi bentuk kucing, ayam, dan macan, dapat dicermati gerak isyarat dan karakternya. Tengok saja beberapa karya Popo bertema kucing, semisal Kucing (1972). Karakter dan geraknya tercermin dari garis, warna, dan irama. Tekanan karakter tercermin dari penggarapan proporsi organ tubuh dan sorot mata yang mengesankan berbagai gerak diam, memaku, santai, melunglai, menggeliat, atau mengerang.
Kecenderungan mutakhir penjelajahan bentuk tiga tema tadi menunjukkan Popo Iskandar semakin mengutamakan esensi bentuk. Ia melakukan deformasi bentuk yang lebih spesifik dengan cara memilah-milah proporsi tubuh—menunjukkan jejak corak kubistik, misalnya Potret Kucing - Inisial PI (1986), Maung Lodaya (1984), dan Jago (1995)—ke dalam bentuk geometris. Representasi sosok kucing tak lebih berupa bentuk-bentuk geometris, misalnya pada karyanya berjudul Potret Kucing (1998) dan Kucing (1998). Dalam hal ini, Popo hampir mirip dengan pelukis Rusli, sama-sama esensialis. Hanya, Popo lebih menekankan optimalisasi, sedangkan Rusli, sebaliknya, seorang minimalis.
Dari pameran ini juga khalayak bisa melihat pergulatan kreatif Popo, yang mulai terlibat melukis sejak zaman pendudukan Jepang: dari corak moij indie, yang kemudian beralih ke gaya impresionis pada umumnya pelukis Indonesia masa itu, hingga kubisme dan ekspresionisme. Sebagaimana pelukis masa lalu, Popo mengangkat tema potret kehidupan manusia, lanskap, alam benda, dan juga tema yang berbau tradisi dan religi. Ia mengenal seni lukis pada 1943 dari Angkama Setjadipradja. Kemudian di pusat kebudayaan buatan tentara pendudukan Jepang, Keimin Bunka Sidhoso, ia dididik oleh pelukis Barli Sasmitawinata dan Hendra Gunawan. Tak aneh, dalam "perseteruan" antara Kubu Bandung dan Kubu Yogya pada masa itu, Popo dianggap netral.
Pameran retrospektif ini merupakan pameran paling lengkap dari tiga pameran retrospektif Popo sebelumnya. Kurator menyusun pameran ini berdasarkan pendekatan tematik dan pendekatan linier. Pendekatan tematik ini, menurut pengamat seni rupa Jim Supangkat, menunjukkan bahwa seni lukis Popo adalah seni lukis representatif. Tapi, dengan pendekatan linier (periodisasi), Popo justru tergolong pelukis modernis yang mencari esensi rupa (formalisme). Tapi Popo tak pusing dengan perbedaan penafsiran itu. "Yang penting, masih banyak inspirasi dari kucing yang belum tergali," tutur Popo.
R. Fadjri
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

|
|
| |
|
|
|
|