Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXIIIIIII/09 - 15 Februari 1999
   
Pendidikan

Antara Sipoa dan Matematika

Sipoa terbukti bisa meningkatkan kecepatan berhitung dan daya ingat seorang anak. Tapi andilnya untuk mendongkrak kemampuan matematika masih diragukan.

SEBUTANNYA bermacam-macam, tergantung lidah orang yang mengucapkan. Bisa sempoa, swipoa, atau sipoa. Tapi orang Barat mengenalnya dengan nama abacus. Inilah alat tradisional dari Cina, berupa manik-manik dari kayu, yang sampai sekarang masih dipakai oleh pedagang di Glodok dan daerah pecinan lainnya. Belakangan ini, sempoa digembar-gemborkan bisa meningkatkan kemampuan matematika—pelajaran yang ditakuti—seorang anak. Tak aneh bila empat pendidikan kursus sempoa yang ada di Indonesia kini kebanjiran peminat. Yayasan Aritmatika Indonesia, yang mengoperasikan 120 cabang, punya 20 ribu siswa.

Kursus di sini diadakan secara berjenjang. Ada 10 tingkat yang harus dilalui seorang siswa sebelum menamatkan kelas dasar. Setiap tingkat berlangsung tiga bulan dengan waktu pertemuan dua kali seminggu. Setelah itu, masih ada dan satu sampai sepuluh. Uang pendaftaran untuk setiap tingkat cukup lumayan, Rp 220 ribu. Sedangkan di Yayasan Sempoa Indonesia Pratama, biaya tiap tingkat—ada delapan—adalah Rp 240 ribu.

Masalahnya: dengan uang yang cukup besar, apakah gembar-gembor di atas ada benarnya? "Belum tentu. Kemampuan matematika anak tidak bisa diukur dari kemampuan menggunakan sipoa," kata pakar matematika Andi Hakim Nasution. Namun Rektor Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung tersebut mengakui bahwa alat hitung ini memang bisa meningkatkan daya nalar dalam berhitung.

Menurut Edwin Suryono R. Djati, kepala instruktur kursus Yayasan Aritmatika Indonesia, dengan mengikuti kursus sipoa, nilai matematika seorang anak tidak otomatis menjadi bagus. Tapi ia akan terbantu dalam pelajaran tersebut. Soalnya, kursus menekankan pada penguasaan aritmatika, sedangkan ilmu matematika didasarkan pada kemampuan aritmatika. "Ibarat pisau, swipoa adalah pisau untuk menajamkan otak," ujarnya. Dengan demikian, kecepatan berhitung dan daya ingat seorang anak menjadi baik.

Memang, menurut pengamatan beberapa ahli, dengan menggerak-gerakkan satu manik di bagian atas dan empat manik di bagian bawah abacus, pengembangan otak sebelah kanan—yang selama ini tertinggal dibandingkan dengan yang kiri—akan terjadi. Fungsi otak kanan, yang unggul dalam sinyal tentang bentuk dan ruangan, akan terlatih dengan adanya manik-manik sipoa. "Memang, dengan sipoa, otak kiri dan kanan dilatih secara serempak," papar Andi Hakim. Pola hitungan dirunut oleh otak kanan, dideduksi oleh otak kiri, dan selanjutnya ditulis oleh tangan.

Selain itu, latihan swipoa yang berulang-ulang akan mencetak alat tersebut secara imajiner dalam otak si anak. Dengan sipoa imajiner inilah seorang anak akan melakukan penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian. Ini yang menerangkan mengapa Andreas Budirahardja, 8 tahun, siswa tingkat 6 di Yayasan Aritmatika Indonesia, bisa menjawab pertanyaan hingga angka ribuan hanya dalam hitungan detik. Hampir bersamaan dengan selesainya pertanyaan gurunya, ia sudah melontarkan jawaban dan hampir selalu benar. Setelah ikut kursus, Andreas, yang semula tidak menyukai pelajaran matematika, kini menggemarinya. Peringkatnya di kelas, yang semula nomor dua, kini naik.

Tentu tak semua murid punya otak setangkas Andreas. Wasi, teman setingkat Andreas, beberapa kali salah menjawab pertanyaan yang diajukan. Bagaimanapun, anak kelas tiga SD ini merasa senang karena kini pelajaran matematika tidak lagi menjadi momok baginya.

Tampaknya, hanya itulah hasil nyata yang bisa dipetik dari kursus sipoa. Menghilangkan ketakutan pada pelajaran matematika—menurut Andi Hakim, problemnya justru pada pengajar (tak bisa mendidik) dan kurikulum (terlalu sering berganti)—bukan hal yang mudah. Namun memaksa anak agar ikut kursus sipoa dianggapnya tak ada gunanya. "Kursus itu kan hanya cari duit," kata bekas Rektor Institut Pertanian Bogor ini.

Mungkin karena itu, hingga kini, belum ada tanda-tanda pemerintah akan memasukkan sipoa dalam kurikulum pelajaran. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga Soedijarto, sipoa lebih tepat untuk kursus karena sifatnya sukarela. Bila dimasukkan ke dalam kurikulum, dikhawatirkan murid yang tidak cerdas akan mendapat tambahan beban.Tapi biasanya si anak kan jadi pandai berhitung? "Harus diuji lagi," ujarnya kepada Mustafa Ismail dari TEMPO. Soalnya, semua anak yang ikut kursus sipoa, di matanya, tampak seperti anak cerdas yang cepat menangkap persoalan.

Pendapat Soedijarto mungkin ada benarnya. I Gusti Meta Trisnawati, siswa Yayasan Sempoa Indonesia Pratama, menduduki peringkat pertama di sekolahnya dengan rata-rata nilai rapor 8 untuk matematika. Dan ia ikut kursus sipoa hanya agar lebih cepat berhitung.

Masalahnya: apakah kecepatan berhitung yang seperti kilat ini yang benar-benar diperlukan di sekolah? Masalah lainnya: apakah kecepatan berhitung mempunyai andil terhadap penajaman nalar siswa dalam memahami rumus-rumus matematika? Untuk menjawab apakah keterkaitan seperti itu ada atau tidak, tentu diperlukan penelitian tersendiri. Satu hal pasti, sipoa membantu anak menyukai matematika dan bukan sebaliknya.

Diah Purnomowati, Dewi Rina Cahyani (Jakarta), Zed Abidien (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Hasil Penyisihan Amerika Utara dan Oseania - 07 Sep 2008 | 10:23 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Afrika - 07 Sep 2008 | 10:16 WIB
Lippi Salahkan Kondisi Pemain - 07 Sep 2008 | 10:07 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Amerika Selatan - 07 Sep 2008 | 10:06 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Asia - 07 Sep 2008 | 10:00 WIB
AirAsia X Tidak Terganggu Harga Minyak - 07 Sep 2008 | 09:55 WIB
Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data