Yang Tersisa dari Kerajaan Rama-Rama Diperkirakan, hampir setengah dari 270 jenis kupu-kupu Bantimurung punah akibat perburuan liar. Untuk saat ini, penangkaran yang dilakukan masyarakat adalah model pelestarian terbaik. |
Ketika surya bersinar dengan teriknya dan lingsir menjelang sore, pesisir kolam di bawah air terjun yang lembap itu mempertontonkan pemandangan memukau, berbintik ribuan kupu-kupu?oranye, kuning, putih, biru, hijau?mengusik kembang mawar, lalu membubung ke angkasa, menggumpal bagai awan warna-warni."
Panorama surgawi itu berasal dari catatan Alfred Russel Wallace dalam bukunya yang terkenal, The Malay Archipelago. Lebih dari seabad lalu, 1856, ahli serangga Inggris ini menginjakkan kakinya di Bantimurung?nama ini berarti "jangan melamun"?yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dan ia terperangah. Di hadapan matanya terhampar sebuah "kerajaan kupu-kupu". Ribuan ekor rama-rama, yang diperkirakan Russell terdiri dari paling sedikit 270 jenis, beterbangan di udara.
Di kawasan berair terjun ini, juga bisa ditemukan lima jenis kupu-kupu langka yang termasyhur di seantero dunia, yaitu kupu-kupu raja (Papilio adamanthis), kupu-kupu bidadari (Chetosia myrine), Troides hypolitus, Troides helena dan Troides halipron. Begitu eloknya lokasi itu sampai legenda bercerita bahwa dewalah yang menciptakan taman kupu-kupu ini sebagai tempat bidadari bermain.
Namun dewa tidak bisa membendung keserakahan manusia. Taman "ciptaan dewa" itu kini terancam punah gara-gara ketamakan para pemburu yang tidak mengenal batas. Penjarahan dimulai tahun 1857. Ketika kapal Belanda angkat jangkar di pelabuhan Makassar dan bertolak menuju Eropa, saat itu mereka mengangkut koleksi Wallace. Sejak itu pula, para pemburu rama-rama silih berganti menjarah keheningan Bantimurung dan populasinya yang indah tapi langka itu.
Tahun 1985, TEMPO untuk pertama kali mengkhawatirkan nasib rama-rama Bantimurung. Dalam sebuah cerita tentang negeri surgawi itu, majalah ini bertanya, "Akankah kupu-kupu Bantimurung bertahan? Generasi 100 tahun mendatang yang bisa membuktikannya." Ternyata, hanya berselang 15 tahun, populasi kupu-kupu di sana telah jauh berkurang. Mungkin hampir setengah dari 270 jenis serangga jelita itu punah dan populasinya anjlok drastis. Penelitian Dr. Mappatoba Sila dari Universitas Hasanudin mengungkapkan, tahun 1997 jenis kupu-kupu Bantimurung tersisa 147 jenis saja. Lima belas di antaranya termasuk dalam daftar perdagangan internasional.
Serangga langka yang dibanggakan oleh warga Sulawesi Selatan ini memang komoditi menggiurkan. Tengoklah harganya. Saat ini, harga kupu-kupu raja dan bidadari mencapai Rp 300 ribu hingga sejuta per ekor. Itu harga setelah pasaran ambruk. Sebelumnya lebih gila. Tahun 1985, jenis
Papilio paradisiaca laku dilego US$ 150 per pasang. Tarif Papilio alexandria lebih mahal lagi, US$ 500. Tahun 1993 bahkan ada pesanan senilai US$ 10.000, atau kalau dihitung dengan kurs sekarang mencapai Rp 85 juta.
Sementara itu, perburuan liar makin merajalela. Pemerintah memang tidak tinggal diam. Ada surat keputusan Menteri Pertanian tahun 1980 yang melindunginya. Masalahnya, para pemburu juga sudah amat lihai mengakali surat keputusan tersebut. Apalagi, di rumah pejabat saja ada hiasan kupu-kupu langka.
Sejak awal 1990-an, para penyelundup memilih jalur Bali untuk menghindari pengawasan di Ambon yang lebih ketat. Dan agar lolos pemeriksaan, kiriman berupa paket pesawat terbang dihindari. Lebih aman melalui kargo kapal laut.
Kendati kupu-kupu Bantimurung terancam punah, kawasan surgawi itu sampai kini hanya diawasi oleh lima personel jagawana atau polisi hutan. Tak bisa dimungkiri bahwa mengawasi areal seribu hektare itu secara intensif nyaris mustahil. Tapi tambahan personel polisi hutan tentu diperlukan. Selain itu, perburuan liar ternyata bukan satu-satunya penyebab kepunahan. Menurut Mappatoba, faktor penggunaan pestisida oleh para petani juga amat berperan.
Menghadapi ancaman ini, penangkaran bisa jadi alternatif. Untuk itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan mengembangkan tanaman kembang sepatu, yang merupakan habitat yang disenangi kupu-kupu. Juga mendatangkan 500 kepompong dari Taman Nasional Lore Windu Palu untuk ditetaskan di penangkaran.
Sejauh ini, penangkaran oleh masyarakat merupakan alternatif terbaik dalam upaya menangkal kepunahan. Selain karena 20 persen hasilnya bisa dilepas kembali ke alam, penangkaran itu cukup efektif untuk menekan perburuan liar. Juga menguntungkan. Contoh terbaik adalah penangkar legendaris Haji Beddu Daeng Rewa. Penemu jenis Papilio blumei ini memiliki kedai yang lebih mirip museum. Di situ terdapat 12 ribu kupu-kupu yang diawetkan dari segala jenis. "Daripada menangkap yang dilindungi, lebih baik menangkar sendiri," tuturnya. Hampir setiap tahun ia mengekspor kupu-kupu yang sudah diawetkan ke Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Prancis, dan Swedia. "Sekali kirim, rata-rata seribu ekor," tuturnya. Dengan tarif Rp 15 ribu hingga Rp 500 ribu per ekor, tak mengherankan bila Daeng Rewa mampu menabung dan memanfaatkan uang simpanannya untuk menunaikan ibadah haji.
Masalahnya kini, seorang Beddu saja tentu tak cukup untuk mencegah kepunahan kupu-kupu di Bantimurung. Dicari ribuan Beddu penangkar supaya rama-rama Bantimurung yang langka tidak hanya dikenal dari legenda.
Karaniya Dharmasaputra (Jakarta), Tomi Lebang (Bantimurung)
|