Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXIIIIIII/09 - 15 Februari 1999
   
Kesehatan

Kloter Khusus ke Tanah Suci

Tahun ini ada kloter khusus bagi jemaah haji lanjut usia dan yang kesehatannya bermasalah. Lama berhaji hanya 20 hari.

SETIAP tahun ratusan jemaah haji Indonesia meninggal ketika menunaikan ibadah rukun Islam kelima itu. Kebanyakan karena sakit. Belajar dari itu, tahun ini pemerintah menawarkan fasilitas khusus bagi calon jemaah yang kesehatannya bermasalah.

Mereka itu akan digabungkan ke dalam kelompok terbang (kloter) yang ditangani secara khusus. Jemaah dalam kloter ini juga hanya berada di Tanah Suci selama 20 hari, berbeda dengan jemaah biasa lainnya yang menunaikan ibadah haji hingga arbain atau sampai 40 hari.

Menurut Direktur Pembinaan Haji Departemen Agama, Taufik Kamil, kebanyakan jemaah haji Indonesia meninggal ketika melaksanakan ibadah yang arbain. Padahal sebenarnya, dengan 20 hari, jemaah sudah menyelesaikan rukun hajinya. Tapi, karena mau lebih afdol, kebanyakan jemaah ingin mengikuti semua kegiatan sisanya. Padahal banyak yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan lagi. "Akibatnya banyak yang meninggal. Jumlahnya lebih dari 50 persen dari semua jemaah haji Indonesia yang meninggal karena sakit," kata Taufik.

TahunMeninggal
1995639
1996571
1997765
1998737


Umumnya ada tiga penyakit yang menyebabkan kematian para jemaah. Sebanyak 39,32 persen karena serangan jantung, 39,05 persen karena penyakit paru-paru, dan hampir 5 persen karena penyakit pembuluh otak.

Itulah soalnya bila pemerintah menawarkan dua kloter khusus—untuk embarkasi Jakarta dan Ujungpandang—bagi yang kesehatannya bermasalah, misalnya yang diketahui mengidap penyakit jantung, pembuluh darah, paru, ginjal, pencernaan, dan penyakit lain yang sewaktu-waktu bisa kambuh.

Jemaah yang diberangkatkan dalam kloter khusus ini sebenarnya bukan yang sedang dalam keadaan sakit. Mereka tetap dinilai mampu menunaikan ibadah haji, hanya mungkin mereka sudah berusia lanjut—sehingga fisiknya lebih rentan terhadap penyakit—atau punya penyakit bawaan yang bisa kambuh kapan saja. Mereka inilah yang memerlukan pembimbingan khusus yang lebih intensif daripada jemaah biasa.

Pada kloter khusus ini setiap jemaah haji didampingi seorang mahrom yang bisa membantu setiap rangkaian manasik haji. Misalnya calon jemaah pria didampingi istrinya, atau orang tua didampingi anaknya. Selain itu ada 11 petugas yang menyertai kloter ini, terdiri dari seorang dokter spesialis, dua dokter umum, empat perawat mahir, dan lima petugas pelayanan manasik haji. Sedangkan pada kloter lainnya hanya ada lima orang petugas.

Sejak awal, peserta kloter untuk calon jemaah haji yang punya riwayat kesehatan kurang baik ini memang sudah mendapat perlakuan khusus. Sewaktu dalam karantina, sebelum berangkat ke Tanah Suci, para peserta mendapatkan pelatihan tertentu tentang cara menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji. Para mahromnya pun mendapat pelatihan untuk mendampingi dan cara memberikan pertolongan pertama jika pasangannya sakit.

Kepala Subdit Kesehatan Haji Departemen Kesehatan, dr. Yus Harmen, M.Sc., mengungkapkan bahwa di pesawat juga disediakan alat-alat kesehatan seperti EKG portabel, defibrilator, tabung oksigen portabel, dan nebulaizer. Peralatan ini diperlukan untuk pertolongan pertama bila jemaah terserang penyakit bawaannya. Meski tim kesehatan haji telah menyiapkan obat dan alat kesehatan, para jemaah yang berisiko tinggi itu juga diharuskan membawa obat-obatan sendiri seperti yang diresepkan dokter pribadinya. Obat-obat yang dibawa itu dicatat dalam buku kesehatan haji.

Selama di Tanah Suci, para jemaah khusus ini juga akan mendapatkan makanan yang disesuaikan dengan penyakit yang dideritanya. Yang menderita diabetes, misalnya, akan mendapat makanan yang kadar gulanya rendah, atau yang berpenyakit jantung akan mendapat menu yang tidak mengganggu aktivitas jantungnya.

Kalaupun dengan perlakuan khusus itu penyakit mereka kambuh juga, penanganannya tentu akan lebih mudah. "Selain karena riwayatnya sudah kami ketahui, obat dan peralatan sedikit banyak sudah disiapkan. Apalagi di Tanah Suci juga disediakan ambulans khusus dan rumah sakit yang dijadikan tempat rujukan," kata Yus Harmen.

Dengan segala fasilitas itu, ternyata jemaah tak perlu membayar ongkos naik haji lebih mahal dari yang biasa. Hanya, mereka perlu ongkos lebih besar karena harus disertai pendamping. Karena itu belum jelas apakah fasilitas khusus ini akan mendongkrak jumlah calon haji, yang tahun ini merosot tajam.

Gabriel Sugrahetty, Hardy R. Hermawan



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Wajib Pajak dan Objek Pajak Diperluas - 28 Ags 2008 | 19:46 WIB
Sampel DNA Dua "Asrori" Akan dicocokkan - 28 Ags 2008 | 19:45 WIB
Sekretariat DPRD Kota Malang Kehilangan Jejak - 28 Ags 2008 | 19:41 WIB
BPK Audit Tambang Kalimantan Timur - 28 Ags 2008 | 19:34 WIB
Jenazah TKI di Malaysia Tiba di Jambi - 28 Ags 2008 | 19:22 WIB
Tarif Air PDAM Kabupaten Malang Akan Naik - 28 Ags 2008 | 19:15 WIB
Tjahjo Enggan Komentar Pengungkapan Agus Condro - 28 Ags 2008 | 19:05 WIB
Polisi Tangkap Anggota Geng Motor - 28 Ags 2008 | 18:44 WIB
Gubernur Jawa Barat Protes Gula Rafinasi - 28 Ags 2008 | 18:39 WIB
Banyak Caleg Tak Tahu Daerah Pemilihannya - 28 Ags 2008 | 18:37 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data