Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXIIIIIII/09 - 15 Februari 1999
   
Internet

Tim-Tim Diserang Nazis

Domain Timorese Project yang pro-kemerdekaan diacak-acak para hacker sehingga server-nya terpaksa dimatikan selama 24 jam. Siapa yang iseng melakukannya? punya penangkal.

MUSTAHIL membicarakan Timor Timur tanpa menyebut nama Indonesia. Dan bagi pihak yang bersimpati kepada gerakan kemerdekaan Tim-Tim, tampaknya kurang lengkap pula bila menyebut nama Indonesia tanpa mencibir. Maka, tak aneh bila tiap kali ada serangan terhadap gerakan ini, pemerintah Indonesia selalu dianggap sebagai biang gara-gara.

Kali ini, pemerintah Indonesia?atau yang pro-Indonesia?dituding berada di balik serangan terhadap situs-situs yang berada di bawah domain ".tp", alias Timorese Project, satu web yang dibentuk dua pemenang Nobel, Uskup Belo dan Ramos Horta. Web yang memperjuangkan status merdeka Tim-Tim ini kini menjadi incaran serangan para hacker. Akibatnya? Coba saja klik www.freedom.tp, maka yang muncul hanyalah tulisan "a 404, Not Found".

Penyerangan terhadap situs Tim-Tim yang beralamat di domain ".tp" sebenarnya sudah mulai dilancarkan sejak tahun lalu, tapi belum pernah tembus. Namun, sekali tembus, pembobolan yang dilakukan pelaku yang menyebut dirinya E-Nazis (dengan semboyan "Creating chaos on the Net") ini benar-benar membuat runyam perusahaan penyedia server, Connet Ireland (CI). Salah satu perusahaan penyedia server besar di Irlandia ini bahkan sampai harus mematikan webserver-nya selama 24 jam karena hebatnya serangan. Semua peranti keras dan lunak pun terpaksa harus ditingkatkan kemampuannya.

Meski belum ada bukti akurat bahwa pelakunya adalah pemerintah atau pihak Indonesia, pekan lalu CI sudah melancarkan protes resmi yang disampaikan melalui KBRI di London, Inggris. "Ini adalah serangan besar yang direncanakan dan dikoordinasi di tingkat tinggi," ujar Martin Maguire, pimpinan CI, kepada BBCNews. Selama sembilan bulan, kata Maguire, server-nya tak henti-hentinya digoyang para penyusup. Bahkan sejak bulan lalu penyusupan datang serentak dari 18 tempat yang tersebar, seperti Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat. Meski datang dari berbagai penjuru, CI rupanya yakin pihak Indonesia berada di balik penjebolan ini. Kalau tidak langsung melakukannya sendiri, paling tidak melakukannya lewat tangan lain.

Ah, apa iya? Tuduhan CI ini banyak yang meragukan. Ini bisa disimak dari pendapat para netter di bilik www. slashdot.org yang menyediakan ruang untuk membicarakan masalah penyusupan itu. Seseorang yang menyebut dirinya The Dodger menyatakan, tidak mungkin pemerintah Indonesia yang melakukan penyusupan. Keyakinan ini juga didukung netter lain yang mengatakan bahwa faktanya, pemerintah Indonesia saat ini justru tengah melansir opsi baru yang memungkinkan Tim-Tim untuk merdeka.

The Dodger punya dugaan lebih lanjut yang menarik. Ia menduga, penyusupan ini dilakukan hacker remaja dari Amerika Serikat yang tergila-gila dengan film kartun MTV, Beavis and Butthead. Boleh jadi mereka terilhami kata-kata yang sering muncul dari dua tokoh tersebut : "I need tp!" Tp di sini adalah toilet paper. Nah, bisa saja dengan alat pengacau otomatis para remaja iseng itu mencari mangsa.

Yang juga mengherankan dan didiskusikan para netter, bila betul situs-situs di CI sering disusupi selama sembilan bulan terakhir ini, kenapa CI tidak segera memperbaiki sistemnya? Kepada BBCNews, Maguire mengutarakan, bila setiap serangan lalu segera direspons, apalagi dengan tergesa-gesa, hasilnya justru akan merusak semua sistem. Kiat itu nyatanya gagal juga. Gara-gara serangan para hacker terhadap domain Tim-Tim, kini CI harus menanggung kerugian sebesar US$ 26.300.

Terlepas dari siapa pelaku sebenarnya, perang di jaringan internet ini tampaknya telah menggejala. Bahkan sudah ada julukan untuk penyusup bermuatan politik, yaitu hacktivist. Untuk kasus Tim-Tim, sebenarnya justru pihak pemerintah dan juga swasta Indonesia yang diserang terlebih dulu. Penyusupan yang paling banyak dibicarakan adalah yang terjadi pada Agustus 1998. Ketika itu, penyusup yang menyebut dirinya Kaotik mengaku berhasil menerobos 45 situs di Indonesia. Bahkan di homepage Departemen Luar Negeri Indonesia, halaman depannya diganti dengan gambar Menteri Ali Alatas, maaf, sedang mengacungkan jari tengah. Dan Kaotik rupanya tidak cukup selektif dalam melancarkan serangan. Situs Jawatan Pegadaian, situs SMA 2 Ambon, dan beberapa situs yang menyuarakan hak asasi pun ikut dijebol. Iseng atau bermuatan politik?

Yusi A. Pareanom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data