Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXIIIIIII/09 - 15 Februari 1999
   
Film

Para Ronin dan Sebuah Koper Metal

Sebuah film laga yang berpretensi menjadi serius dengan menggunakan analogi legenda Jepang. Mubazir dengan pemain papan atas dan dominan dengan adegan kebut-kebutan yang repetitif.

RONIN
Sutradara: John Frankenheimer
Skenario:J.D. Zeik dan Richard Weisz
Pemain:Robert de Niro, Jean Reno dan Natascha Mcelhone, Jonathan Pryce
Produksi:United Artists


Mereka sudah tak bertuan, tak punya kantor pusat, tak punya prinsip, dan tak bertempat tinggal. Mereka me- rasa dirinya sebagai "samurai" yang kehilangan tuan—untuk berbagai alasan—dan bekerja untuk dirinya sendiri sesuai keahlian masing-masing. Tetapi, meski mereka kemudian menjadi "orang bayaran", ternyata ada etika tertentu yang harus ditaati: jangan banyak tanya dan jangan berpretensi mencari jawab. Laksanakan tugas sebaik-baiknya, untuk kemudian mengunci mulut.

Sam adalah ronin terbaik dari kelompok ronin yang dikumpulkan Deidre (Natascha Mcelhone). Dia berhidung tajam, jago tembak yang andal, bermata elang, dan bekerja dengan menggunakan otak dan insting. Sebagai seorang anggota CIA yang andal—yang tak pernah kita ketahui penyebab ia melepaskan diri dari "induknya"—Sam adalah ronin yang paling dipercaya kekuatannya. Syahdan, Deidre memberikan tugas yang tak lazim di kuping orang awam. kelima ronin itu ditugasi untuk merebut sebuah koper metal. Para ronin tak perlu tahu isi koper, tak perlu tahu pemilik koper, dan tak boleh tahu kenapa berbagai kelompok (dari kelompok mafiya Rusia hingga Irlandia) mati-matian memperebutkan koper metal itu.

Untuk sesaat, film yang memasang Robert de Niro sebagai magnet terkuat ini terkesan seperti sebuah film action yang serius. Sutradara memulai film dengan sebuah keterangan filosofis tentang perbedaan samurai (yang bertuan) dan ronin (tak bertuan). Ketegangan yang muncul sejak awal—perkenalan para ronin di sebuah kafe—yang seolah akan memberikan sebuah suspense, memberi kesan film ini akan menjanjikan sesuatu yang lebih istimewa daripada thriller. Apalagi dengan seluruh lokasi yang mengambil tempat di Paris dan sekitarnya, serta sederetan nama-nama pemain bertaraf internasional (Amerika, Prancis, Irlandia), penonton sudah siap dengan segumpal harapan bahwa film ini sebuah hiburan yang berbobot, paling tidak karena sang Bob de Niro.

Apa daya, yang terjadi adalah sebuah mubazir besar. Selain sutradara membuang begitu banyak waktu dan energi (lebih dari 15 menit hanya untuk beberapa kali adegan kejar-kejaran dengan mobil untuk memperlihatkan betapa dahsyatnya mobil buatan Jerman; hingga sulit untuk tidak curiga film ini disponsori oleh perusahaan mobil), kemampuan para pemain papan atas itu sama sekali tidak dijelajahi. Robert de Niro bermain baik, tapi tidak terlalu istimewa. Jean Reno dan Jonathan Pryce seperti tidak memiliki usaha apa-apa untuk memperlihatkan sebuah karakter, tetapi itu semua juga disebabkan skenario yang seperti tidak memiliki fokus. Apakah keinginan skenario adalah memperlihatkan kehidupan dan suka duka ronin atau misteri sebuah koper metal? Kenapa dalam paruh akhir film ini para pembuat film seperti kesetanan ingin membuat penonton penasaran dengan isi koper itu?

Memang, film ini diakhiri dengan gaya yang menarik: isi koper—sebagai target—ternyata tidak penting lagi. Yang penting adalah bagaimana para ronin menjalankan tugasnya. Tetapi, sayangnya, fokus cerita memang jadi buyar ke mana-mana.

Sebagai sebuah film laga pun, para kordinator laga tidak memberikan sebuah variasi adegan—kecuali kejar-kejaran mobil sambil menghancur-hancurkan mobil lain, yang sudah dilakukan James Bond 20 tahun silam—atau permainan kamera yang kreatif (kecuali ada beberapa shot yang diambil dari pandangan mata supir, sehingga penonton mendapat kesan seperti ikut mengendarai sebuah roller-coaster).

Selebihnya, ya, hiburan yang berkelas rata-rata. Bahkan Robert de Niro pun, yang menjadi andalan film ini, seperti mengisi sebuah kerutinannya sebagai seorang aktor. Ia sudah terlalu jauh di atas film-film semacam ini, dan tidak seyogyanya aktor sekelas dia memilih untuk terlibat dalam film ini.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data