Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 18/XXIIIIIII/01 - 7 Februari 1999
   
Nasional

Yang Tewas di Ujung Bedil

Kekerasan terjadi sejak awal integrasi sampai sekarang. Itu sebabnya pembangunan tak membekas di hati rakyat.

Manuel, seorang tua di pinggiran Los Palos, Timtim, sakit berat. Ia tergolek lemah di ranjang kayunya. Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu luar.
''Siapa itu di luar," tanya Manuel ketakutan.
''Saya Malaikat Maut!"
''Oh, syukurlah. Saya kira yang datang anggota ABRI."


Guyonan ''kejam" yang dikutip dari buku Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto ini jelas berlebihan. Tapi bahwa korban berjatuhan di Timor Timur, ternyata sudah berlangsung sejak Indonesia menginjakkan kaki di bumi Tim-Tim pada 1975.

Operasi Seroja yang dirancang Ali Moertopo, asisten pribadi Presiden Soeharto, dan dilaksanakan antara lain oleh Jenderal Benny Moerdani, menurut sebuah data, menewaskan 50 ribu orang Tim-Tim dalam pendudukan itu. Tapi, pihak Indonesia pun ditaksir kehilangan 10 ribu jiwa. Lima orang wartawan Australia juga tewas saat pendaratan pasukan di Balibo. Data lain menyebut, sejak 1975, Tim-Tim kehilangan 200 ribu jiwa, tentara Indonesia yang tewas sekitar 17 ribu. Tapi, bumi Tim-Tim sudah lama bersimbah darah. Sebelum Indonesia masuk, Tim-Tim sudah kehilangan sekitar 2.300 orang yang tewas saat terjadi kudeta di koloni Portugal itu.

Operasi militer Indonesia juga berlangsung mulai Mei 1977 sampai November 1978, demikian catatan Solidamor, sebuah organisasi yang peduli pada nasib Tim-Tim. Dikabarkan, ABRI mengerahkan 24 ribu personel dan akhirnya berhasil meringkus Presiden Fretilin, Nikolau Lobato. Dalam penyerangan itu korban tak bisa dihitung sampai kini. Yang jelas sekitar 250 ribu orang Tim-Tim harus tinggal di kam-kam pengungsian. Mereka bertahun-tahun hidup dalam pengawasan tentara.

Yang tak bisa dilupakan tentulah peristiwa Santa Cruz, penembakan di pekuburan di pinggiran Kota Dili, pada 12 November 1991. Kejadian berdarah itu merenggut 271 orang tewas, menurut data Human Right Watch. Pemerintah Indonesia mulanya bilang hanya 19 yang mati, tapi kemudian menunjuk angka sekitar 50 orang. Komisi Penyelidik Nasional yang dikirim ke Tim-Tim menemukan bahwa 50 orang tewas, 90 hilang, dan 90 orang luka-luka. Bukan tak ada ''korban" di ABRI. Panglima Kodam Udayana, Mayjen Sintong Panjaitan, juga pelaksana operasi Tim-Tim Brigjen Warouw, dicopot dari jabatannya.

Kekerasan tak berhenti. Laporan East Timor Human Rights Centre tahun 1996 mencatat ada 25 orang ''manusia perahu" asal Tim-Tim yang berlayar menuju Darwin, Australia. Tapi mereka ditangkap militer Indonesia. Ada tujuh pemuda yang dilaporkan dieksekusi tanpa persidangan.

Sejak Santa Cruz memang tak ada korban tewas secara massal. Tapi konflik terus menimbulkan korban. Bisa dikisahkan sebuah kejadian pada Mei 1998 di Desa Bucoli, Baucau. Adalah Hermenegildo Soares, 21 tahun, yang melakukan perjalanan ke Dili. Di jalan, ia berhenti di dekat pos militer, untuk membenahi potongan kayu di mobilnya. Mendadak dua anggota ABRI mengokang senjata. Herman, yang kaget, lari ke mobilnya, tapi senapan keburu menyalak dan Herman luka parah, nyawanya melayang. Rakyat membawa mayatnya ke rumah Uskup Dili, Ximenes Belo. Dari sana mayat diusung ke rumah sakit oleh ribuan orang, sambil berteriak, "Herman korban pembunuhan ABRI."

Bentrok yang merenggut nyawa juga terjadi antara penduduk dan ''simpatisan" ABRI. Pada 5 Januari 1999 lalu, contohnya, pasukan Pam Swakarsa-_yang prointegrasi?bertengkar dengan penduduk di Kabupaten Ainaro, 200 kilometer dari Dili. Tiba-tiba anggota Pam Swakarsa bersenjata itu menembak dan tewaslah dua orang, lima lainnya luka berat.

Walau 1.300 orang tentara sudah ditarik, , sekarang ini masih ada hampir 11 ribu pasukan bersenjata di Tim-Tim. Tapi cerita soal ABRI bukan hanya soal tembak-menembak. Pasukan teritorial ABRI juga mengajarkan bercocok tanam, mengelola hasil perikanan, dan berbagai keterampilan untuk provinsi dengan 850 ribu jiwa itu.

Selain itu, berbagai hasil pembangunan memang tak bisa dimungkiri, apalagi jika dibandingkan dengan saat koloni itu ditinggal Portugal pada 1975. Waktu itu hanya ada beberapa dokter, puluhan SD, empat SMP dengan 35 orang guru, dan satu sekolah teknik dengan 14 guru. Jalan yang beraspal hanya 30 kilometer. Penyakit malaria, TBC, dan kekurangan gizi merajalela.

Selama sepuluh tahun pertama bergabung saja, sudah hampir 500 SD dibangun, jumlah guru SD sudah sekitar 3.000 orang. Belum lagi SMP dan SMA. Bahkan Universitas Timor Timur didirikan. Tim-Tim juga sudah memiliki sebuah rumah sakit umum, juga gedung pemerintah di tepi pantai Dili. Jalan beraspal ditaksir sudah lebih dari 3.000 kilometer. Provinsi ini bisa mengekspor ribuan ton kopi setiap tahunnya.

''Gemerlap"-nya pembangunan itu ternyata tak mampu menyembuhkan ''luka" di hati orang Tim-Tim. Nyawa seseorang memang tak bisa ditukar dengan seribu gedung sekalipun.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Larikan Mobil Polisi, Pemabuk Tewas - 05 Sep 2008 | 11:15 WIB
Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
Djokovic Musnahkan Impian Roddick - 05 Sep 2008 | 10:48 WIB
Gaya Ramah Lingkungan   - 05 Sep 2008 | 10:38 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data