Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXIIIIIII/12 - 18 Januari 1999
   
Nasional

Bila Tilang Berbuah Rusuh

Kerusuhan pecah di bulan puasa. Dua korban tewas, belasan bangunan dan kendaraan hancur di Karawang.

RAMADAN gagal menjadi bulan yang tenang di Karawang. Pada bulan yang mestinya menjadi saat umat Islam khusyuk beribadah, ribuan massa justru mengamuk di lumbung beras Jawa Barat itu.

Aksi kerusuhan yang disertai penjarahan itu?seperti banyak kasus lain di negeri ini?sebenarnya berawal dari soal sepele. Seorang warga Jalan Tuparev (tujuh pahlawan revolusi) bernama Effendy menuturkan, Kamis malam pekan lalu seorang oknum polisi bernama Dadang menilang Pardi, pengemudi ojek, karena melanggar lampu lalu lintas. Biar urusan lekas beres, tukang ojek itu pun menyisipkan lembaran lima ribuan, seperti biasanya. Rupanya jumlah ini oleh Dadang dianggap masih kurang. Akibatnya, masih versi Effendy, Pardi malah dianiaya lalu dibawa ke markas.

Kisah penganiayaan tukang ojek oleh seorang polisi, yang belum jelas kebenarannya ini, beredar dari mulut ke mulut. Di antara warga sendiri ada beberapa versi. Kapolres Karawang Letkol (Pol.) Drs. Achmad Hidayat tegas-tegas menyangkal isu tak jelas itu. "Kami sudah cek, tidak ada satu pun aparat kami yang melakukan penilangan dan penganiayaan terhadap tukang ojek," tutur Achmad kepada wartawan. Kapolres malah menduga kasus ini merebak karena ada provokator yang membujuk-bujuk tukang ojek agar bila ada polisi yang menilang supaya dilawan saja.

Ada provokator atau tidak, yang jelas emosi tukang ojek lain telanjur mendidih. Begitu mendengar ada rekan seprofesinya diruda paksa dan ditahan polisi, ratusan tukang ojek lantas berkonvoi menuju pos polisi yang diduga menjadi tempat penahanan rekannya, di Jalan Tuparev. Di situ mereka berteriak-teriak menuntut pembebasan rekannya. Karena tuntutan tak dipenuhi, pos pun dilempari. Petugas membalas dengan salakan senapan. Untung, situasi tak sempat memuncak karena Bupati Karawang Dadang S. Muchtar muncul menenangkan massa. Kemarahan massa mereda dan kemudian mereka membubarkan diri.

Namun, menjelang tengah malam, sejumlah massa yang entah dari mana berkumpul lagi dan bergerak menuju Jalan Tuparev, poros utama kota gudang beras itu. Seperti biasanya, begitu massa bergerombol dalam jumlah banyak, yang terjadi adalah tindakan tak terkendali. Seperti dikomando, ribuan massa itu pun melempari bangunan pertokoan Karawang Plaza, Toserba Borobudur, bank dan restoran di sepanjang jalan. Mereka juga menjarah isinya. Beberapa kendaraan yang diparkir di halaman tak luput jadi sasaran.

Aksi brutal massa yang berlangsung hingga Jumat dini hari itu baru reda setelah aparat keamanan dari Batalion 305 Kostrad Telukjambe, Kujang 324, Kodim Karawang, dan Polda Jawa Barat, datang. Tapi ketika fajar mulai menyingsing, massa kembali bergolak. Kali ini lebih banyak daripada sebelumnya, tapi sebagian besar bukan tukang ojek. Beberapa pelajar SMP dan SMA terlihat di antaranya.

Massa bermaksud menuju markas Polres Karawang, sekitar lima kilometer dari asal persoalan. Tapi dalam perjalanan itu mereka kembali melempari bangunan pertokoan, bank, ruang pamer mobil, serta menjarah isinya. Untung, gerak gerombolan yang ngawur ini segera dihadang pasukan pengendalian massa dan brigade mobil polisi. Bentrok pun tak terhindarkan. Massa melempar batu, petugas menghujani mereka dengan tembakan senapan yang menurut mereka berisi peluru hampa dan karet.

Menjelang magrib, bentrokan dan kekacauan baru mereda. Hasilnya, di RSU Karawang, RSU Bayukarta, dan RSU Dewi Sri, 17 korban kerusuhan sepanjang Jumat itu tergolek dalam perawatan. Dua lainnya, Jumadi?siswa STM Trijayasakti?dan seorang lelaki tanpa identitas, tersimpan di ruang jenazah. Sementara itu, Pudjianto, yang mengaku anggota Batalion 312/Kalahitam Subang dan diduga menjadi provokator, diamankan petugas bersama 55 tersangka perusuh lainnya.

Petugas pun segera melakukan pembersihan dan penjagaan di beberapa lokasi. Warga setempat tak mau kalah. Mereka melakukan pemblokiran di beberapa ruas jalan. Kendaraan dihadang. Pengemudi dan penumpangnya ditanyai. Sabtu dini hari, suasana kota mencekam. Di Jalan Tuparev terlihat sejumlah warga mencoba menjarah toko-toko yang sudah tutup ditinggal pemiliknya. Petugas keamanan hanya mengawasi dari kejauhan tanpa berbuat apa-apa.

Sampai Sabtu siang, aktivitas ekonomi Karawang belum normal. Toko-toko, kantor, dan sekolah, tutup. Di jalan-jalan hanya tampak petugas berjaga-jaga dan petugas kebersihan pemda menyapu sisa kerusuhan. Rupanya, Ramadan bakal menjadi bulan yang meresahkan di kota itu.

Wicaksono, Wenseslaus Manggut


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
Djokovic Musnahkan Impian Roddick - 05 Sep 2008 | 10:48 WIB
Gaya Ramah Lingkungan   - 05 Sep 2008 | 10:38 WIB
Penjualan Kendaraan di Inggris Turun - 05 Sep 2008 | 10:29 WIB
Dua Pelajar Ditembak Saat Menuju Rumah PM Samak - 05 Sep 2008 | 10:19 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data