Mengintip Jejak Harimau Jawa Tanda-tanda harimau Jawa, spesies yang dianggap punah, masih ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri. Tapi ada yang meragukannya. |
JIKA ada hewan langka yang popu lasinya menurun tajam, itu sudah biasa. Tapi kalau ada hewan langka yang sudah dinyatakan punah tiba-tiba muncul kembali, ini luar biasa. Masalahnya, apakah benar harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) itu muncul kembali, masih dipertanyakan. Hewan yang berdasarkan penelitian WWF dan Departemen Kehutanan (Dephut) tahun 1995 dinyatakan punah itu kini ditemukan jejak-jejaknya di Taman Nasional Meru Betiri. Itu menjadi pertanda "si belang" masih hilir-mudik di hutan Jawa Timur.
Keyakinan itu disampaikan oleh kelompok pencinta alam yang tergabung dalam Tim Mitra Meru Betiri yang mengumumkan hasil temuannya pada Desember lalu. Tim ini beranggotakan 52 orang dan melakukan penelitian pada Agustus dan November 1997. Mereka menemukan jejak dan cakaran yang mereka yakini milik hewan sebesar anak sapi dengan ciri khas surai di kuduknya itu. Kesimpulannya, "Minimal masih ada lima ekor," kata Wahyu Giri P., salah seorang anggota tim.
Jejak kaki, misalnya, ditemukan di delapan tempat, masing-masing di daerah Puda'an, Pondok Nongko, Lereng Barat dan Timur Meru, Cawang Savana Sumbersari, anak sungai Cawang Kanan, Camp Grendel, dan Durenan Bawah, dari taman nasional seluas 58 ribu hektare itu. Lalu cakaran ditemukan pada beberapa pohon di wilayah Lapangan Demung, Cawang Kanan, dan tiga tempat lainnya.
Jejak kaki yang ditemukan paling kecil berdiameter 12 sentimeter. Sedangkan cakaran ditemukan pada batang pohon dengan ketinggian posisi cakaran antara satu dan 2,14 meter. Selain mendapatkan kedua bukti itu, mereka menemukan kotoran harimau Jawa tercecer di beberapa tempat.
Tim Meru Betiri tampaknya yakin betul bahwa tanda yang mereka temukan adalah milik harimau Jawa. Kotoran yang ditemukan, menurut mereka, bukan milik kucing hutan (Felis benglensis) yang juga hidup di taman nasional yang menyimpan lebih dari 362 spesies tumbuhan dan 181 spesies hewan itu. Menurut Didik Raharyono, anggota tim lainnya, kotoran harimau Jawa mengandung rambut, tulang remuk, dan kadang-kadang kuku mangsa, sedangkan kotoran kucing hutan umumnya mengandung rumput atau tumbuhan.
Keyakinan Didik dan kawan-kawannya itu diperkuat oleh keterangan Indra Arinal, Kepala Taman Nasional Meru Betiri. "Kesaksian penduduk setempat membuktikan bahwa harimau Jawa itu memang masih ada," kata Indra, yang telah empat tahun memimpin taman nasional yang lokasinya terbentang dari Jember hingga Banyuwangi ini. Indra dengan timnya, yang melakukan pemantauan rutin setiap tiga bulan sejak tahun 1995, meyakini binatang "punah" itu masih gentayangan.
Meski bukti cukup kuat, Departemen Kehutanan, yang sedari awal mengklaim harimau Jawa telah punah, tidak menerima begitu saja temuan Tim Meru Betiri. Bagi Johannes Subijanto, Kepala Sub-Direktorat Konservasi Flora dan Fauna Ditjen Pelestarian dan Konservasi Alam Dephut, cakaran, jejak, dan feses saja tidak cukup untuk membuktikan harimau Jawa masih ada. "Perlu ada tes DNA terhadap kotoran yang ditemukan," kata Johannes. Karena itu, Dephut mengirim kotoran tadi ke Amerika Serikat untuk memastikan betulkah kotoran itu milik harimau Jawa.
Hal yang sama disampaikan pakar kehidupan liar IPB, Hadi S. Alikodra. Menurut Hadi, bentangan Taman Nasional Meru Betiri memang memenuhi syarat kehidupan jarak jelajah harimau Jawa yang bisa mencapai 300 kilometer. Selain itu, di taman nasional itu juga hidup kijang, rusa, babi hutan, dan banteng, yang merupakan santapan harimau Jawa. Tapi, menurut pakar yang juga Asisten Menteri Lingkungan Hidup ini, jejak harimau Jawa yang ditemukan haruslah fresh. Artinya, usia jejak tidak boleh lebih dari dua atau tiga hari. "Selain itu, jejak juga harus merupakan jejak yang berulang," katanya. Tanpa itu, tidak bisa dipastikan hasil temuan tim Meru Betiri sahih.
Tidak jelas memang, apakah temuan anak-anak muda itu memenuhi syarat yang diminta Alikodra. Namun, kalau memang temuan itu benar, ini adalah harapan bagi pemeliharaan spesies harimau yang di seluruh dunia jumlahnya tinggal 5.000 ekor itu.
Arif Zulkifli, I G.G. Maha S. Adi (Jakarta), Munib Rofiqi (Surabaya), dan L.N. Idayanie (Yogyakarta)
|