Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Surat

Catatan untuk Gus Dur

Bagi saya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bukanlah seorang moralis atau humanis, tetapi lebih tepat dikategorikan sebagai politikus. Beberapa catatan terhadap sepak-terjang Gus Dur menunjukkan hal itu.

Tahun 1984, ketika pecah tragedi berdarah Tanjungpriok, komentar Gus Dur sama sekali tidak menyentuh kepentingan ratusan korban (yang tewas dan luka-luka), tetapi lebih condong kepada pembelaan terhadap ABRI (Benny Moerdani dan Try Sutrisno) serta pemerintah (Soeharto).

Bahkan dengan sigap Gus Dur mendampingi Benny Moerdani (ketika itu menjabat Panglima ABRI) berkeliling ke berbagai pesantren, menemui para ulama, untuk meyakinkan kepada kalangan ulama bahwa tragedi Tanjungpriok merupakan sebab-akibat yang "bisa dimengerti" dan sama sekali bukan tragedi pembantaian terhadap umat Islam.

Ketika warga NU di Timor Timur diusir disertai pula dengan perusakan masjid dan tempat ibadah lainnya (September 1995), yang pertama-tama dilakukan Gus Dur adalah mengimbau kepada umat Islam agar tidak terpancing dan melakukan tindakan destruktif. Sebuah imbauan yang sangat janggal. Sebab, bagaimana mungkin korban yang sudah teraniaya itu bisa melakukan tindakan destruktif.

Begitu juga dengan peristiwa Banyuwangi (dan sekitarnya). Ketika pertama kali Gus Dur berkomentar, peristiwa itu sudah agak lama berlangsung, dan titik perhatian Gus Dur juga tidak tertuju kepada korban dan keluarganya, tetapi kepada ABRI, yang ditudingnya berada di balik semua kejadian itu. Bahkan dengan enteng Gus Dur menuding dalang peristiwa Banyuwangi duduk di kabinet. Baru setelah itu NU membentuk tim pencari fakta.

Masih banyak catatan lain yang menunjukkan bahwa Gus dur memang politikus, bukan moralis atau humanis. Sebab, seorang moralis atau humanis lebih cenderung menolong korban (dan keluarganya), tanpa memandang latar belakang politik dan muatan ideologis yang menyertai sebuah tragedi. Dan bukan lebih berpihak kepada embusan angin.

Irfan Suryahardy
Suryodiningratan MJ 2/721
Mantrijeron, Yogyakarta 55141


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapal AS Temukan Peswat Filipina yang Hilang - 05 Sep 2008 | 11:35 WIB
Tim Khusus Akan Mengecek Kelayakan Gondola - 05 Sep 2008 | 11:24 WIB
Larikan Mobil Polisi, Pemabuk Tewas - 05 Sep 2008 | 11:15 WIB
Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data